Sholawat Seribu Rebana dan Musik Patrol di Hari Lahir UNHASY Tebuireng ke-49

Sejarah Perkembangan Seni Musik Patrol Modern di Kabupaten Jombang

Sampai saat ini saya mengenal dua jenis seni musik patrol yang masih eksis di tengah kehidupan masyarakat Kabupaten Jombang, yaitu seni musik patrol tradisional dan seni musik patrol modern. Keduanya memiliki satu ikatan sejarah yang kuat namun berbeda dalam banyak hal. Semua bermula dari seni musik patrol tradisional yang muncul karena aktifitas ronda malam. Saya masih ingat betul pada akhir tahun 90-an dulu masih ada tugas ronda malam di pos keamanan lingkungan atau poskamling setiap sudut jalan desa. Di waktu tengah malam sampai pagi dini hari, para warga yang bertugas jaga melakukan perjalanan keliling desa sambil membunyikan alat musik patrol tradisional yang terbuat dari bambu kenthongan dengan lubang memanjang dan alat pemukul kecil.

Alunan musik patrol tradisional terdengar menggema di tengah malam. Suara nyaring bambu patrol terdengar sangat khas di telinga saya. Sampai-sampai saya hapal guyonan Ludruk Kartolo yang menirukan suara musik patrol dari aktifitas ronda malam dua orang bapak. “Dung tak dung tur… Wak Badrun ketiban pacul… Kenek dhadha kenek dhengkul… Dung tak dung turrrrrr….” Demikian lirik lagu guyonan Kartolo dan kawan-kawan yang membawakan lakon pemain patrol tradisional. Tapi itu dulu. Dulu sekali saat belum ada alat musik keyboard dan drum di tengah kehidupan masyarakat Dusun Guwo Desa Latsari Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Saat ini budaya ronda malam sudah hilang entah kemana.

Sampai dengan tahun 2012 ketika saya kembali ke desa ini, saya belum menjumpai satupun grup patrol modern yang eksis di Jombang. Baru pada pertengahan tahun 2014 saya mendengar kabar perhelatan lomba seni patrol modern digelar di Alun-alun Jombang. Itupun kurang disambut masyarakat Jombang. Ada juga lomba patrol yang dilaksanakan secara rutin saat bulan Ramadhan di Mojowarno. Perhelatan lomba patrol bulan puasa di Mojowarno telah dilaksanakan tiga kali Ramadhan, yaitu tahun 2014, 2015 dan 2016 yang baru saja lewat. Festival Seni Patrol di Mojowarno tahun 2016 ini terbagi dalam tiga kategori lomba, yaitu Seni Musik Patrol Tradisional, Seni Musik Patrol Modern, dan Seni Musik Patrol Anak-anak. Juara lomba patrol tersebut adalah kelompok musik patrol modern dari Mlaten.

Saat tahun 2014 saya belum begitu paham seperti apakah seni musik patrol dan alat-alat yang digunakan. Sampai pada awal 2015 saya berkesempatan menyaksikan langsung penampilan grup patrol modern Cakul di Alun-alun Jombang dalam Festival Dolanan Anak. Seterusnya sejak tahun 2015 saya menjumpai banyak festival seni musik patrol dilaksanakan di Jombang, khususnya wilayah Jombang bagian selatan. Tahun lalu Desa Karanglo mengadakan lomba patrol antar desa. Meski jumlah kelompok peserta festival seni musik patrol tidak terlalu banyak, ternyata animo masyarakat untuk menonton lomba patrol modern itu sangat besar. Saya masih ingat betul betapa saya dan beberapa keponakan saya harus berdesak-desakan diantara kerumunan penonton yang berjubel memadati jalan Dunglo.

Contoh alat musik tradisional Jawa berupa patrol tradisional kenthongan
Contoh alat musik tradisional Jawa berupa patrol tradisional kenthongan

Sumber Kehidupan dan Mencari Nafkah

Saya tidak tahu pasti sejak kapan seni musik patrol modern mulai ada di Jombang secara resmi. Saya menganggap tahun 2014 itulah tahun kelahiran seni musik patrol karena sejak tahun 2014 mulai ada lomba musik patrol modern dan masyarakat pedesaan di Jombang mulai membentuk paguyuban-paguyuban seni patrol modern. Saat ini musik patrol modern telah menggunakan alat-alat musik keren dan canggih layaknya grup band yang tampil di televisi, yaitu keyboard, drum, bass, rhythm, dan trio. Instrumen-instrumen musik itu berpadu dengan alat-alat musik tradisional yang masih memiliki ciri khas, diantaranya kenthongan dari bambu, kethe, gendang, jidor, dan ecek-ecek. Naluri para seniman patrol telah terasah untuk mengawinkan alat musik modern dan tradisional.

Beberapa grup patrol yang masih eksis di Jombang saat ini adalah grup patrol dari Catakgayam Selatan, kelompok patrol Menganto Selatan, paguyuban patrol Mlaten, kelompok patrol Mojowarno, grup seniman patrol Mojowangi, grup patrol Mojotengah dan masih banyak lagi paguyupan seni patrol lainnya. Pada umumnya kelompok seniman patrol Jombangan berkembang di Kecamatan Mojowarno. Mereka berlomba-lomba mendirikan kelompok musik patrol modern sebagai pekerjaan tetap dan sumber mencari nafkah. Seni musik patrol telah mampu menghidupi mereka. Patrol mampu menghasilkan uang, baik dengan cara mengamen dari rumah ke rumah maupun undangan khusus dalam rangka hajatan warga. Bahkan ada salah satu murid SMA Negeri Bareng yang drop out karena lebih mencintai dunia musik patrol modern yang bisa memberikan penghasilan menggiurkan.

Musik patrol mampu menjadi tulang pulang kehidupan para seniman dan penari patrol. Bahkan pada peringatan harlah UNHASY tahun 2016 lalu salah satu grup patrol dari Kecamatan Mojowarno diundang untuk hadir dan meriahkan acara hari ulang tahun kampus. Saya tidak menyangka kalau kelompok seniman patrol bisa masuk kampus UNHASY Tebuireng yang berbasis pesantren dan memainkan alat musik disana. Itulah salah satu bentuk infiltrasi seni musik tradisional dalam kehidupan masyarakat modern. Generasi muda saat ini pun tampaknya makin permisif terhadap keberadaan seni musik patrol, baik patrol tradisional maupun patrol modern.

Identitas dan Kebanggaan Warga Desa

Saat ini telah berdiri dua buah grup seni patrol modern di desa tempat tinggal saya. Salah satu kelompok seniman patrol itu menggabungkan diri dalam Paguyuban Seni Patrol Guwo (PSPG). Selama Ramadhan tahun ini mereka aktif memainkan musik patrol sambil berkeliling Dusun Guwo untuk membangunkan warga untuk makan sahur. Sejauh ini saya melihat mereka dari dekat sebagai seniman-seniman muda kreatif yang berusaha mengkombinasikan seni patrol tradisional dengan instrumen musik modern. Bukan hanya itu, mereka juga secara mandiri mencari sumber pembiayaan sendiri dalam memperbaiki perlengkapan seni musik patrol modern maupun membuat kostum patrol. Hal itu mereka lakukan karena adanya kesadaran untuk memberikan identitas terhadap desa tempat tinggal.

Fanatisme para pemain seni musik patrol modern juga patut diacungi jempol. Mereka sangat menjunjung tinggi nama baik desa tempat tinggal mereka. Mereka akan merasa bangga jika dapat memenangkan lomba patrol. Sayangnya, sikap fanatik itu kebablasan bagi sebagian seniman patrol di Jombang. Masih teringat dengan jelas kejadian 1 Ramadhan 1437 H lalu saat dua grup patrol saling baku hantam pada saat membangunkan warga untuk makan sahur puasa Ramadhan. Dua kelompok patrol yang bertikai berasal dari Sidokerto dan Branjang. Akhirnya mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib dan bertanggungjawab atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh tawuran dua grup patrol modern itu.

Musik adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Tidak seharusnya kita menggunakan identitas kelompok seniman untuk saling bertikai dengan kelompok seniman lainnya. Sejarah perkembangan seni musik patrol modern di Kabupaten Jombang akan terus bergulir seiring dengan kehidupan masyarakat yang dinamis. Nantikan terus informasi terkini seputar lomba patrol modern hanya di blog The Jombang Taste. Semoga tulisan singkat ini bisa menambah wawasan Anda dan mempertebal kecintaan terhadap khazanah budaya Nusantara. Mari lestarikan budaya Indonesia!

Published by

Agus Siswoyo

Warga Tebuireng, Blogger Indonesia, Penulis Lepas, Peduli Yatim, dan Guru TPQ. Follow me at Twitter @agussiswoyo.

One thought on “Sejarah Perkembangan Seni Musik Patrol Modern di Kabupaten Jombang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *