Tasyakuran Sedekah Bumi Dusun Jatirowo: Tradisi Syukur dan Harmoni Masyarakat Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso

Makna Sedekah Bumi dalam Budaya Jawa

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, tradisi-tradisi leluhur masih menjadi pondasi kuat bagi masyarakat pedesaan di Indonesia, khususnya di Jawa. Salah satu tradisi yang tetap lestari adalah Sedekah Bumi, sebuah ritual syukur atas hasil panen dan berkah alam yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Di Dusun Jatirowo, Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, acara ini dikenal sebagai Tasyakuran Sedekah Bumi. Acara ini bukan hanya sekadar pesta rakyat, melainkan wujud nyata dari nilai-nilai gotong royong, kerukunan, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.

Sedekah Bumi, atau yang sering disebut sebagai “bersih desa” di beberapa daerah, berakar dari kepercayaan masyarakat agraris Jawa yang bergantung pada siklus alam. Tradisi ini biasanya diadakan setelah musim panen, sebagai bentuk rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi seperti padi, sayuran, buah-buahan, dan tanaman lainnya. Di Dusun Jatirowo, acara ini telah menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan oleh warga, tidak hanya dari dusun itu sendiri, tetapi juga dari dusun-dusun tetangga di Desa Jatigedong. Desa ini terdiri dari empat dusun utama: Jatirowo, Lengkong, Gedang, dan Gotan, di mana masing-masing dusun memiliki jadwal Sedekah Bumi sendiri, meskipun esensinya tetap sama.

Pada tahun 2025, Tasyakuran Sedekah Bumi Dusun Jatirowo diselenggarakan pada tanggal 21-23 Agustus, dengan puncak acara pada hari Jumat dan Sabtu. Acara ini menarik ribuan peserta, termasuk warga lokal, tamu dari luar desa, dan bahkan wisatawan yang tertarik dengan budaya Jawa. Tema utama tahun ini adalah “Uri-uri Budaya”, yang berarti melestarikan budaya, di mana masyarakat diajak untuk menjaga warisan leluhur sambil berbagi rezeki. Acara ini mencakup berbagai kegiatan yang sarat makna, mulai dari kirab budaya hingga pagelaran seni tradisional. Melalui artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam tentang acara tersebut, mulai dari latar belakang, rangkaian kegiatan, hingga dampaknya bagi masyarakat.

Latar Belakang Desa Jatigedong dan Dusun Jatirowo

Desa Jatigedong terletak di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yang dikenal sebagai wilayah agraris dengan tanah subur yang mendukung pertanian sebagai mata pencaharian utama warganya. Desa ini memiliki luas sekitar 5 kilometer persegi, dengan populasi lebih dari 5.000 jiwa. Dusun Jatirowo, sebagai salah satu dusun terbesar, memiliki sekitar 1.500 penduduk yang mayoritas bekerja sebagai petani, buruh tani, dan pedagang kecil. Tanah di sini subur berkat irigasi dari Sungai Brantas yang mengalir di dekatnya, menghasilkan panen melimpah seperti padi, jagung, sayuran, dan buah-buahan.

Sejarah Sedekah Bumi di Desa Jatigedong dapat ditelusuri hingga era kolonial Belanda, di mana masyarakat Jawa menggunakan ritual ini sebagai bentuk perlawanan halus terhadap penindasan, sekaligus memperkuat solidaritas komunal. Di Dusun Jatirowo, tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun, dengan catatan bahwa acara pertama kali didokumentasikan pada awal abad ke-20. Menurut cerita lisan dari sesepuh desa, ritual ini dimulai sebagai doa bersama untuk menghindari bencana alam seperti banjir atau hama tanaman. Seiring waktu, acara ini berkembang menjadi festival budaya yang lebih meriah, terutama setelah kemerdekaan Indonesia.

Pemerintah Desa Jatigedong, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Siti Junaidah, memiliki komitmen kuat untuk melestarikan tradisi ini. Seperti yang diungkapkan oleh Kades Junaidah, “Selain menjaga kerukunan warga, sedekah bumi juga sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa juga berbagi rezeki.” Komitmen ini terlihat dari dukungan anggaran desa yang dialokasikan untuk acara, serta koordinasi dengan pihak kecamatan dan koramil setempat untuk keamanan. Pada masa pandemi COVID-19, acara sempat disederhanakan menjadi doa bersama tanpa hiburan massal, tetapi kini kembali digelar secara penuh untuk memperkuat ikatan sosial pasca-pandemi.

Rangkaian Acara Tasyakuran Sedekah Bumi 2025

Tasyakuran Sedekah Bumi Dusun Jatirowo tahun 2025 dimulai pada 21 Agustus dengan persiapan intensif dari panitia yang terdiri dari perwakilan setiap Rukun Tetangga (RT). Acara ini dibagi menjadi beberapa tahap utama, yang semuanya dirancang untuk melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga lansia. Berikut adalah deskripsi mendetail dari setiap kegiatan yang telah diselenggarakan:

1. Kirab Budaya: Jatirowo Culture Carnival (JCC)

Puncak pembukaan acara adalah Kirab Budaya, yang dikenal sebagai Jatirowo Culture Carnival (JCC). Kegiatan ini berlangsung pada pagi hari tanggal 21 Agustus, di mana ratusan warga dari masing-masing RT mengarak tumpeng gunungan hasil bumi. Setiap RT menampilkan kreasi unik sesuai dengan adat lingkungan mereka, menciptakan parade yang penuh warna dan kreativitas. Gunungan terdiri dari tumpukan hasil panen seperti padi, jagung, sayuran segar, buah-buahan, dan jajanan tradisional seperti gethuk, klepon, dan cenil.

Parade dimulai dari balai dusun dan mengelilingi kampung sejauh 3 kilometer, diiringi oleh musik gamelan, reog, jaranan, dan bantengan. Peserta mengenakan pakaian adat Jawa, dengan anak-anak membawa obor bambu simbolis. Suasana meriah terasa ketika warga saling bersorak dan berbagi makanan kecil sepanjang rute. Menurut Ahmad Karyoto, Kepala Dusun Lengkong (yang mirip acara di dusun tetangga), “Tradisi ini dari leluhur kami, untuk bersyukur atas panen melimpah dan berharap berkah terus mengalir.” Di Jatirowo, JCC tahun ini menarik sekitar 2.000 peserta, termasuk tamu dari desa sekitar, dan menjadi ajang promosi wisata budaya lokal.

2. Do’a Bersama: Momen Spiritualitas Kolektif

Setelah kirab, acara dilanjutkan dengan Do’a Bersama pada sore hari di pendopo dusun. Peserta mencakup seluruh elemen masyarakat Dusun Jatirowo, termasuk tokoh agama, pemuda, perempuan, dan anak-anak. Doa dipimpin oleh kyai setempat, dengan bacaan tahlil dan shalawat untuk memohon keselamatan, kelimpahan rezeki, dan perlindungan dari bencana. Acara ini juga mencakup ruwatan massal, di mana warga membawa sesaji kecil untuk “membersihkan” diri dari sial.

Do’a Bersama ini menjadi momen introspeksi, di mana warga merefleksikan tahun yang telah berlalu. Seorang warga, Pak Jatmiko, mengatakan, “Doa ini menyatukan kami, mengingatkan bahwa rezeki dari Tuhan harus dibagi.” Kegiatan ini berlangsung sekitar dua jam, diakhiri dengan makan bersama sederhana dari hasil bumi yang disumbangkan.

3. Purakan Tumpeng: Simbol Berbagi Rezeki

Salah satu highlight acara adalah Purakan Tumpeng, yang terdiri dari dua bagian: Purakan Tumpeng Nasi dan Purakan Tumpeng Hasil Bumi. Ini berlangsung pada malam hari tanggal 21 Agustus, setelah doa bersama. Tumpeng nasi raksasa, setinggi 2 meter, dibuat dari beras panen lokal dan dihiasi dengan lauk-pauk seperti ayam goreng, telur, dan sambal. Sementara tumpeng hasil bumi berisi sayuran, buah, dan tanaman obat.

Purakan berarti “berebut” atau “membagikan”, di mana warga berebut potongan tumpeng sebagai simbol berkah. Anak-anak dan remaja paling antusias, dengan tawa dan sorak-sorai memenuhi udara. Tradisi ini diyakini membawa keberuntungan bagi yang mendapat bagian terbesar. Di tahun 2025, purakan ini diikuti oleh lebih dari 1.000 warga, dan sisa makanan dibagikan kepada keluarga miskin di dusun.

4. Pagelaran Seni Wayang Kulit Semalam Suntuk

Pada malam tanggal 22 Agustus, acara mencapai klimaks dengan Pagelaran Seni Wayang Kulit yang berlangsung semalam suntuk. Dalang terkenal dari Jombang diundang untuk memainkan lakon “Semar Mantu”, yang sarat pesan moral tentang kehidupan dan harmoni. Penonton duduk lesehan di lapangan dusun, sambil menikmati kopi dan camilan tradisional.

Wayang kulit bukan hanya hiburan, tapi juga media pendidikan. Cerita wayang mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan gotong royong. Acara ini terbuka untuk umum, menarik pengunjung dari Ploso dan sekitarnya. “Wayang ini menghidupkan malam, mengingatkan kita pada akar budaya,” kata seorang penonton.

5. Kegiatan Jalan Sehat Untuk Umum

cara ditutup pada 23 Agustus dengan Kegiatan Jalan Sehat, yang diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai usia. Rute sepanjang 5 kilometer melewati sawah dan kampung, dengan hadiah doorprize seperti sepeda dan peralatan rumah tangga. Ini menjadi ajang promosi kesehatan dan kebersamaan, sekaligus penutup yang menyegarkan setelah rangkaian acara spiritual dan budaya.

Makna Budaya, Sosial, dan Ekonomi

Tasyakuran Sedekah Bumi di Dusun Jatirowo bukan hanya ritual, tapi pilar budaya yang memperkuat identitas Jawa. Secara budaya, acara ini melestarikan seni tradisional seperti reog dan wayang, yang hampir punah di era digital. Sosialnya, ia memupuk kerukunan antarwarga, mengurangi konflik, dan mempererat ikatan keluarga. Ekonomi, acara ini mendongkrak UMKM lokal melalui penjualan makanan dan souvenir, serta menarik wisatawan yang meningkatkan pendapatan desa.

Dalam konteks modern, tradisi ini relevan dengan isu lingkungan, mengingatkan pentingnya menjaga alam. Namun, tantangan seperti urbanisasi dan perubahan iklim membuat panitia harus beradaptasi, seperti menggunakan bahan ramah lingkungan untuk gunungan.

Dampak dan Kesimpulan

Acara tahun 2025 sukses besar, dengan partisipasi tinggi dan tanpa insiden. Dampaknya terasa dalam peningkatan solidaritas masyarakat, di mana warga merasa lebih dekat satu sama lain. Ke depan, diharapkan acara ini bisa menjadi ikon wisata Jombang, dengan dukungan pemerintah daerah.

Tasyakuran Sedekah Bumi Dusun Jatirowo adalah bukti bahwa tradisi leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ia mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, berbagi, dan menjaga harmoni dengan alam dan sesama. Sampai jumpa di acara tahun depan, semoga berkah terus mengalir bagi Dusun Jatirowo dan Desa Jatigedong.

Tinggalkan komentar