Kesenian Sintong dari Sumenep, Makna Kegembiraan Saat Menyatu dengan Pencipta

Kesenian Sintong, atau yang lebih dikenal sebagai Sintung, adalah salah satu warisan budaya tak benda yang paling khas dari Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Kesenian ini merupakan perpaduan indah antara seni tari, musik, dan olah vokal yang bernafaskan Islam mendalam. Dengan gerakan dinamis yang memadukan elemen silat, hadrah, dan gambus, Sintong bukan sekadar hiburan, melainkan ekspresi spiritual yang mengajak penonton mendekatkan diri kepada Tuhan. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui SK No. 372/M/2021 pada tahun 2021, kesenian ini kini menjadi ikon identitas masyarakat pesisir Sumenep. Artikel ini akan mengupas asal usulnya yang sarat misteri, perkembangan yang penuh lika-liku, serta ragam inovasi promosi yang menjadikannya tetap relevan di era digital.

Asal Usul Kesenian Sintong

Akar kesenian Sintong dapat ditelusuri hingga abad ke-17 hingga ke-18, ketika pengaruh Islam semakin kuat di Nusantara. Menurut tradisi lisan masyarakat Ambunten, Sintong berasal dari Dusun Batang, Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten. Versi lain menyebutkan asalnya dari Desa Tamba’ Agung Barat di wilayah yang sama. Etimologisnya berasal dari kata “wang-awang sintung”, yang menggambarkan gerakan mengangkat kaki sebagai simbol kegembiraan spiritual, ditambah “sin” dari bahasa Arab yang berarti “bergembira” dan “tung” atau “settung” yang bermakna “satu” atau kesatuan dengan Allah.

Beberapa versi sejarah menyebutkan bahwa kesenian ini dibawa oleh para pedagang Gujarat dari India, yang datang melalui jalur perdagangan dan dakwah Islam. Pengaruh ini kemudian bercampur dengan budaya Aceh, terutama mirip dengan tari Saman, sebelum mendarat di pesisir Madura. Ada pula yang menghubungkannya dengan Sunan Muria, salah satu Wali Sanga, meski versi ini masih diperdebatkan karena Sunan Muria dikenal anti-musik. Versi yang lebih kuat adalah dibawa oleh seorang warga Kampung Prongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, yang pernah menjelajah Aceh, Minang, dan Riau. Di Sumenep, kesenian ini berkembang di kalangan pesantren dan masyarakat pinggiran sebagai media tasawuf kultural dan dakwah.

Gerakan Sintong yang rancak dan energik merupakan modifikasi dari hadrah (seni rebana) dan gambus (alat musik petik Arab). Inti pementasannya adalah pembacaan salawat dan barzanji (Syaraful Anam), yang dipadukan dengan tarian lincah. Pada masa kolonial, kesenian ini pernah dilarang Belanda karena dianggap sebagai bentuk perlawanan spiritual. Meski begitu, Sintong tetap bertahan sebagai sarana keagamaan, terutama dalam perayaan Maulid Nabi, pernikahan pesisir, dan petik laut. Nilai toleransinya terlihat dalam syair “insi mujinis” yang mengajak umat manusia bersaudara tanpa memandang agama, suku, atau warna kulit.

Perkembangan Kesenian Sintong

Perkembangan Sintong di Sumenep penuh dinamika. Awalnya, kesenian ini hanya dimainkan di lingkungan pesantren sebagai sarana dzikir dan penguatan akidah. Pada tahun 1970-an, di bawah kepemimpinan Kiai Mahmo, Sintong mengalami masa keemasan dengan penampilan rutin di acara keagamaan. Namun, setelah itu, kesenian ini sempat vakum selama puluhan tahun akibat kurangnya regenerasi dan pengaruh modernisasi.

Kebangkitan terjadi pada 2017 ketika Sintong ditampilkan menyambut kunjungan Presiden Joko Widodo di Pondok Pesantren Annuqayah. Penampilan ini menjadi titik balik, membangkitkan semangat pelestarian. Kini, Sintong tidak lagi terbatas di Ambunten, melainkan menyebar ke seluruh Sumenep dan bahkan Madura. Fungsinya pun berkembang: dari media dakwah murni menjadi hiburan sosial yang memperkuat kebersamaan. Pementasan biasanya berlangsung malam hari, durasi hingga enam jam, melibatkan puluhan penari pria dengan kostum sederhana berwarna merah-putih sebagai simbol nasionalisme.

Elemen musiknya kaya: jidor, kendang, bedug, gong kecil (toktok dari buah siwalan), seruling bambu, dan rebab. Gerakan tarian yang dinamis mencerminkan perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan, melewati tahap syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat. Di era kontemporer, Sintong menjadi bagian dari identitas Madura yang tegar dan religius, sekaligus sarana pemberdayaan ekonomi melalui pariwisata budaya.

Ragam Inovasi Promosi Kesenian Sintong

Inovasi promosi menjadi kunci keberlangsungan Sintong di tengah gempuran budaya global. Pemerintah Kabupaten Sumenep dan Dewan Kesenian Sumenep (DKS) memainkan peran sentral. Salah satu inovasi utama adalah integrasi dengan festival besar. Pada 2023, Tari Kolosal Sintong menjadi pembuka Festival Pesisir 2 di Desa Bancemara, menarik ribuan penonton. Festival Sapparan Lesbumi NU Sumenep juga secara rutin memasukkan Sintong sebagai atraksi utama, mengusung tema merawat kearifan lokal.

Di ranah digital, promosi melalui media sosial semakin masif. Akun Instagram Dewan Kesenian Sumenep dan channel YouTube Pariwisata Sumenep rutin mengunggah video penampilan Sintong, mencapai jutaan views. Contohnya, video “Sintong dalam Pengantin Pesisir” yang viral di YouTube, menunjukkan bagaimana kesenian ini diintegrasikan dengan adat pernikahan modern. Platform TikTok dan Reels Instagram juga dimanfaatkan generasi muda untuk membuat challenge gerakan Sintong, membuatnya lebih dekat dengan anak muda.

Inovasi lain adalah kolaborasi lintas seni. Sintong kini sering dipadukan dengan tari kolosal, musik kontemporer, atau bahkan pertunjukan teatrikal yang menceritakan sejarah dakwah Islam. Pada 2023, DKS menggelar Tari Kolosal Sintong di Pulau Oksigen, memadukan elemen alam dan teknologi lampu. Pemerintah daerah juga mendorong pelatihan di sekolah dan pesantren, menciptakan generasi penerus. Bahkan, promosi internasional melalui partisipasi dalam event budaya nasional dan dokumentasi akademis di universitas seperti Unesa dan UIN Sunan Ampel.

Secara ekonomi, inovasi ini mendongkrak UMKM: kostum, alat musik, dan souvenir bertema Sintong laris di festival. Bupati Sumenep sering menekankan bahwa promosi Sintong bukan hanya pelestarian, melainkan juga pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Kesenian Sintong dari Sumenep adalah bukti bahwa tradisi religius dapat berevolusi tanpa kehilangan esensinya. Dari akar Gujarat-Aceh yang mistis hingga panggung digital yang modern, Sintong terus berdetak sebagai media penyatu masyarakat. Dengan inovasi promosi yang kreatif, kesenian ini tidak hanya bertahan, melainkan berkembang menjadi aset budaya nasional yang membanggakan. Di tengah arus globalisasi, dentuman jidor dan gerakan wang-awang sintung mengingatkan kita bahwa keindahan sejati lahir dari kesatuan hati dan iman. Mari kita lestarikan, agar generasi mendatang tetap merasakan getar spiritual Madura yang abadi.

Tinggalkan komentar