Selamatan Gugur Gunung dari Bondowoso: Adat Istiadat sebagai Perayaan dan Ritus, Warisan Budaya Tak Benda, serta Upaya Pelestariannya

Selamatan Gugur Gunung merupakan salah satu tradisi budaya yang kaya makna dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk perayaan komunal, tetapi juga ritus spiritual yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga harmoni dengan alam dan sesama. Berakar dari desa-desa di Kecamatan Cermee, seperti Desa Ramban Kulon, Ramban Wetan, dan Plalangan, Selamatan Gugur Gunung digelar setiap tahun sebagai wujud syukur atas berkah yang diterima sepanjang tahun serta permohonan perlindungan dari berbagai musibah. Pada dasarnya, tradisi ini adalah manifestasi gotong royong yang menyatukan tiga desa dalam satu acara besar, di mana elemen-elemen seperti tarian tradisional, doa bersama, dan makan komunal menjadi inti dari perayaan. Dalam konteks budaya Jawa Timur, Selamatan Gugur Gunung mirip dengan tradisi selamatan desa lainnya, seperti bersih desa atau ruwat bumi, yang bertujuan untuk membersihkan desa dari energi negatif dan memohon keselamatan. Namun, keunikan tradisi ini terletak pada integrasi antara ritus sakral dan hiburan rakyat, yang membuatnya menjadi perpaduan antara spiritualitas dan kebersamaan sosial. Artikel ini akan membahas secara mendalam adat istiadat Selamatan Gugur Gunung sebagai perayaan dan ritus, statusnya sebagai warisan budaya tak benda, serta berbagai upaya pelestarian yang dilakukan untuk menjaga kelangsungannya di tengah arus modernisasi.

Adat Istiadat Selamatan Gugur Gunung sebagai Perayaan dan Ritus

Adat istiadat Selamatan Gugur Gunung berasal dari masyarakat agraris di Bondowoso, yang hidup bergantung pada alam dan sering menghadapi tantangan seperti bencana alam, banjir, atau kekeringan. Kata “Gugur Gunung” sendiri dapat diartikan sebagai “gugurnya gunung” atau simbolisasi membersihkan dan merawat alam sekitar, seperti gunung dan sungai yang menjadi sumber kehidupan. Tradisi ini diyakini telah ada sejak masa kolonial atau bahkan lebih awal, meskipun catatan sejarah spesifik tentang asal usulnya terbatas. Berdasarkan cerita lisan dari masyarakat setempat, tradisi ini muncul sebagai respons terhadap kejadian alam seperti longsor atau erupsi gunung di wilayah Bondowoso, yang dikenal dengan pegunungan seperti Gunung Raung. Masyarakat kemudian mengadakan selamatan untuk “meredam” kemarahan alam dan memohon berkah. Sebagai perayaan, Selamatan Gugur Gunung dirayakan setiap tahun pada hari Senin di bulan November, yang dipilih karena bulan tersebut dianggap sebagai akhir musim panen dan awal musim hujan. Jika ada kendala seperti pemilihan kepala desa serentak, acara bisa ditunda hingga Senin terakhir bulan tersebut, seperti yang terjadi pada tahun 2021.

Proses ritus dimulai dengan persiapan komunal di tiga desa: Ramban Kulon, Ramban Wetan, dan Plalangan. Warga bergotong royong membersihkan desa, mempersiapkan makanan, dan mengatur lokasi acara, yang biasanya diadakan di lapangan terbuka atau balai desa bersama. Sebelum ritus utama, digelar berbagai kompetisi dan pertunjukan budaya tradisional untuk memeriahkan suasana. Salah satu yang paling menonjol adalah Ojung, sebuah tarian rakyat yang melibatkan gerakan ritmis dengan alat musik sederhana seperti kendang dan gong. Ojung sering dipentaskan oleh kelompok pemuda, di mana penari saling berhadapan sambil memukul tongkat kayu, simbolisasi kekuatan dan keberanian. Selain Ojung, ada Singo Ulung (tarian singa yang energik), Kuda Kencak (tarian kuda dengan iringan musik gamelan), dan Rojengan (pertunjukan seni bela diri tradisional). Pertunjukan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga bagian dari ritus untuk memanggil roh leluhur dan memohon berkah.

Ritus inti adalah selamatan itu sendiri. Warga membawa makanan matang dari rumah masing-masing, seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, sayur-sayuran, dan buah-buahan, yang dikumpulkan dalam nampan bundar besar. Sekitar 12 orang yang ditunjuk, biasanya tokoh agama atau sesepuh desa, membacakan puji-pujian atau doa-doa dalam bahasa Jawa kuno, memohon keselamatan dan kemakmuran. Setelah itu, kepala desa dari ketiga desa memberikan pidato secara bergantian, menekankan nilai gotong royong dan harmoni. Acara ditutup dengan makan bersama, di mana semua warga berbagi makanan sebagai simbol persatuan. Seluruh proses ini berlangsung dari pagi hingga sore, dihadiri ribuan warga, dan sering diwarnai dengan suasana gembira meskipun sarat makna spiritual.

Sebagai ritus, Selamatan Gugur Gunung memiliki dimensi mistis. Masyarakat percaya bahwa melalui doa dan persembahan, mereka bisa menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan roh-roh penjaga desa. Ini mencerminkan filsafat Jawa tentang “manunggaling kawula gusti” atau kesatuan antara manusia dan Tuhan, di mana alam dianggap sebagai manifestasi ilahi. Perayaan ini juga memperkuat ikatan sosial, karena melibatkan semua lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga lansia, tanpa memandang status ekonomi. Dalam konteks modern, tradisi ini menjadi ajang rekreasi budaya yang menarik wisatawan, sehingga memperkaya nilai perayaannya.

Selamatan Gugur Gunung sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Pada tahun 2025-2026, Selamatan Gugur Gunung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, bersama dengan Tari Topeng Kona dan Tape Bondowoso. Pengakuan ini menandai pentingnya tradisi ini sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional, sesuai dengan Konvensi UNESCO 2003 tentang Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda. WBTBI mencakup praktik, pengetahuan, dan ekspresi budaya yang diwariskan secara turun-temurun, dan Selamatan Gugur Gunung memenuhi kriteria tersebut karena melibatkan ritus lisan, pengetahuan alam, dan keterampilan kerajinan tradisional seperti pembuatan makanan ritual.

Sebagai warisan tak benda, tradisi ini mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga harmoni sosial dan lingkungan. Elemen gotong royongnya adalah inti dari nilai budaya Jawa, di mana kebersamaan dianggap sebagai kunci kelangsungan hidup komunitas. Ritus doa dan puji-pujian merupakan bentuk tradisi lisan yang sarat makna filosofis, sementara pertunjukan seperti Ojung dan Singo Ulung adalah ekspresi seni pertunjukan yang unik bagi Bondowoso. Pengakuan ini juga menyoroti bagaimana tradisi sederhana ini, tanpa kemewahan, mampu menyatukan masyarakat tanpa sekat, dari berbagai usia dan latar belakang. Dalam konteks nasional, Selamatan Gugur Gunung menjadi contoh bagaimana warisan tak benda dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, seperti melalui pendidikan nilai-nilai lingkungan dan sosial.

Status WBTBI memberikan perlindungan hukum, memastikan bahwa tradisi ini tidak hilang akibat urbanisasi atau globalisasi. Ini juga membuka peluang untuk dokumentasi dan penelitian, di mana nilai-nilai seperti syukur, doa bersama, dan pelestarian alam dapat dipromosikan sebagai aset budaya Indonesia. Di Bondowoso, pengakuan ini menjadi yang pertama dalam 10 tahun terakhir, menunjukkan komitmen daerah dalam melestarikan identitas budaya. Secara filosofis, tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan dari materi, tetapi dari kebersamaan dan hubungan harmonis dengan alam, yang relevan di era modern di mana individualisme semakin mendominasi.

Upaya Melestarikan Selamatan Gugur Gunung

Upaya pelestarian Selamatan Gugur Gunung semakin intensif seiring pengakuannya sebagai WBTBI. Pemerintah Kabupaten Bondowoso, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengintegrasikan tradisi ini ke dalam agenda budaya tahunan, termasuk dukungan dana untuk penyelenggaraan. Pada tahun 2025, tradisi ini direncanakan digelar kembali setelah sempat terhenti karena pandemi, dengan fokus pada regenerasi generasi muda melalui pelatihan tarian tradisional seperti Ojung. Komunitas lokal di tiga desa membentuk kelompok pemuda untuk mempelajari ritus dan pertunjukan, memastikan pengetahuan lisan tidak punah.

Selain itu, pelestarian dilakukan melalui promosi pariwisata. Desa-desa di Cermee dikembangkan sebagai desa wisata budaya, di mana wisatawan bisa ikut serta dalam acara, belajar membuat makanan ritual, atau menyaksikan Ojung. Ini tidak hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Kerja sama dengan lembaga seperti Kementerian Kebudayaan juga melibatkan dokumentasi video dan buku, serta inklusi dalam kurikulum sekolah lokal untuk mendidik anak-anak tentang nilai gotong royong.

Tantangan seperti minat generasi muda yang menurun diatasi dengan inovasi, seperti integrasi media sosial untuk promosi dan kolaborasi dengan seniman modern. Masyarakat juga menolak komersialisasi berlebih agar ritus tetap autentik. Secara keseluruhan, upaya ini memastikan Selamatan Gugur Gunung tetap menjadi warisan hidup yang menginspirasi.

Dalam kesimpulan, Selamatan Gugur Gunung dari Bondowoso adalah bukti kekayaan budaya Indonesia. Sebagai perayaan dan ritus, ia menyatukan masyarakat; sebagai warisan tak benda, ia dilindungi nasional; dan melalui pelestarian, ia akan terus lestari. Dengan menjaga tradisi ini, kita melestarikan identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan komentar