Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI, yang berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, telah menjelma menjadi garda terdepan dalam upaya melestarikan dan memajukan kebudayaan Nusantara. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kebudayaan, BPK Wilayah XI bertanggung jawab atas pelindungan, pemanfaatan, kemitraan, pendataan, serta pemantauan cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan (OPK) di seluruh Provinsi Jawa Timur. Di tengah tantangan globalisasi yang mengancam pudarnya identitas lokal, BPK Wilayah XI mengusung konsep internalisasi warisan budaya, yaitu proses mendalam di mana nilai-nilai, praktik, dan pengetahuan leluhur tidak hanya dilestarikan secara fisik, tetapi benar-benar menjadi bagian hidup masyarakat, terutama generasi muda.
1. Menjaga Ayam Lodho: Dari Ritual Sakral Menuju Warisan Kuliner yang Hidup
Ayam Lodho bukan sekadar hidangan. Ia adalah simbol syukur, kebersamaan, dan ketahanan masyarakat Trenggalek sejak era Kerajaan Majapahit. Hidangan ini terbuat dari ayam kampung yang dibakar hingga kecokelatan, kemudian direbus dalam kuah santan kental berbumbu kunyit, lengkuas, serai, daun jeruk, cabai, dan rempah-rempah khas yang memberikan rasa pedas-gurih nan khas. Dulu, Ayam Lodho hanya disajikan dalam upacara adat seperti slametan, tasyakuran kematian, sedekah bumi, atau ritual nelayan “njangkar”. Kini, ia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak 2016.
Pada 25 Juni 2025, BPK Wilayah XI menggelar kegiatan Internalisasi Warisan Budaya bertema “Ayam Lodho, Meramu Rasa Merentang Masa” di Hall Prigi, Hotel Bukit Jaas Permai, Trenggalek. Kegiatan ini diikuti ratusan siswa SMA dan SMK se-Kabupaten Trenggalek. Dibuka oleh Nuryahman, S.S. mewakili Kepala BPK Wilayah XI, acara menghadirkan tiga narasumber berkualitas: Agus Prasmono, S.S. (Kabid Kebudayaan Disparbud Trenggalek), Ary Budianto, S.S., M.A. (Dosen Antropologi Universitas Brawijaya Malang), dan Ayub Nualak (praktisi pembuat Ayam Lodho tradisional).
Diskusi pagi hari membahas sejarah, filosofi, dan nilai antropologis hidangan ini. Ary Budianto menjelaskan bagaimana Ayam Lodho mencerminkan filosofi Jawa “memayu hayuning bawana”, menjaga keharmonisan alam dan manusia. Sesi praktik memasak menjadi puncaknya: siswa belajar langsung teknik memanggang ayam, meracik bumbu halus, dan mengolah kuah santan tanpa kehilangan cita rasa autentik. Tumpeng Bosok, tradisi syukur dengan nasi tumpeng basi yang dibiarkan semalam, menjadi penutup yang penuh makna spiritual.
Kegiatan ini berhasil menanamkan internalisasi: siswa tidak hanya tahu resep, tetapi memahami mengapa hidangan ini harus dilestarikan. Hasilnya, banyak sekolah kini memasukkan Ayam Lodho ke dalam mata pelajaran muatan lokal atau ekstrakurikuler kuliner. Secara ekonomi, program ini mendorong UMKM lokal untuk menjaga resep asli sambil berinovasi tanpa menghilangkan esensi. Ayam Lodho kini menjadi ikon gastronomi Trenggalek yang mendukung pariwisata, sekaligus menjawab tantangan generasi Z yang lebih familiar dengan fast food daripada kuliner leluhur.
2. Diskusi Terpumpun Cagar Budaya dan Objek Pemajuan Kebudayaan di Empat Kabupaten
Salah satu strategi inti internalisasi adalah dialog terbuka antar pemangku kepentingan. BPK Wilayah XI menyelenggarakan serangkaian Diskusi Terpumpun Cagar Budaya dan OPK di Kabupaten Trenggalek, Lamongan, Nganjuk, dan Mojokerto sepanjang 2025.
Di Nganjuk, tema “Rawat Budaya Mataraman: Nganjuk Dalam Bingkai Waktu” dihadiri 150 peserta dari siswa SMP/SMA, guru, akademisi, dan komunitas. Narasumber Fransiskus Asisi (Asisi Channel), Baha Uddin (UGM), dan Sukadi (Kotasejuk Nganjuk) membahas situs-situs cagar budaya seperti candi-candi Mataram Kuno dan potensi OPK berbasis kearifan lokal. Hasil diskusi: rekomendasi penguatan narasi sejarah bagi generasi muda dan kolaborasi desa-kabupaten dalam pemeliharaan situs.
Di Mojokerto, Diskusi Terpumpun “Pemanfaatan Warisan Budaya Bagi Generasi Muda” digelar 15 Oktober 2025 bertepatan Hari Kebudayaan Nasional. Narasumber Dr. Ari Ambarwati, Satrya Paramanandaana, Heri Purwanto, dan Dalih Sugih Pangerti Septiaji membahas bagaimana situs Majapahit bisa menjadi laboratorium hidup bagi pemuda. Moderator I Wayan Suyadnya memandu diskusi yang menghasilkan rekomendasi program magang dan konten kreatif berbasis warisan.
Kegiatan serupa di Lamongan fokus pada Warisan Budaya Takbenda, sementara di Trenggalek menekankan sinergi antara cagar budaya dan kuliner. Semua diskusi ini bersifat terpumpun (focused group), melibatkan 100–150 peserta per lokasi, dan menghasilkan dokumen rekomendasi yang diserahkan ke pemerintah daerah. Internalisasi tercapai melalui transfer pengetahuan langsung: siswa dan pemuda tidak lagi melihat cagar budaya sebagai “batu mati”, melainkan sebagai sumber inspirasi ekonomi dan identitas.
3. Ruang Kreasi Objek Pemajuan Kebudayaan: Tempat Lahirnya Karya Berbasis Warisan
Ruang Kreasi OPK merupakan terobosan inovatif BPK Wilayah XI untuk mengubah pelestarian menjadi proses kreatif. Program ini melibatkan masyarakat secara aktif dalam workshop seni yang berbasis OPK.
Contohnya, kelas batik di Situs Umpak Sentonorejo, pelatihan Reog Bulkiyo di Blitar (20 Desember 2025), serta berbagai workshop batik motif Majapahit di desa-desa. Peserta mulai dari ibu rumah tangga hingga pemuda, belajar teknik tradisional sambil diberi kebebasan berkreasi. Hasilnya: kain batik bertema situs Trowulan, aksesoris Reog modern, hingga produk kerajinan yang siap dipasarkan.

4. Adi Budaya On Air: Menyebarkan Narasi Budaya Melalui Media Digital
Di era digital, internalisasi harus masuk ke ruang virtual. “Adi Budaya On Air” adalah serial webinar/radio online BPK Wilayah XI sepanjang 2025 yang mencapai ribuan pendengar di Jawa Timur bahkan nasional.
Tema-temanya beragam: dari “Tradisi Seni Bantengan” seni pertunjukan khas Jawa Timur yang menggabungkan sendratari, musik gamelan, dan elemen tari topeng dengan kostum banteng raksasa hingga diskusi mendalam tentang “Pergelutan Politik Wangsa Isyana dan Warmadewa”. Wangsa Isyana (abad X–XI) yang berpusat di Kediri mewariskan sastra kakawin dan sistem pemerintahan maju, sementara Wangsa Warmadewa di Bali menunjukkan akulturasi budaya Jawa-Bali yang kaya.
5. Cak Daya Masuk Desa: Pemberdayaan Masyarakat di 24 Desa Kawasan Trowulan
Program paling menyentuh akar rumput adalah “Cak Daya Masuk Desa”. Dilaksanakan Maret–Desember 2025 di 24 desa di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan (Mojokerto dan sebagian Jombang), program ini mengerahkan “Cak Daya” pamong budaya muda untuk tinggal dan berinteraksi langsung dengan warga desa.
Kegiatan mencakup pelatihan membatik, pembuatan konten kreator (public speaking, video pendek, fotografi), edukasi sejarah Majapahit, hingga pembersihan situs bersama. Fadli Zon (mantan Menteri Kebudayaan) bahkan mengapresiasi program ini sebagai bentuk partisipasi masyarakat sesuai UU Desa No.6/2014.
Hasilnya luar biasa: desa-desa kini memiliki kelompok seni aktif, konten TikTok tentang Trowulan yang viral, dan kesadaran warga untuk menjaga situs dari kerusakan. Internalisasi terjadi secara organik—warga tidak lagi melihat candi sebagai “milik negara”, melainkan sebagai “warisan kakek-nenek kami” yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan.

Kesimpulan: Menuju Jawa Timur yang Berdaulat Budaya
Kelima program BPK Wilayah XI ini saling terkait dan membentuk ekosistem internalisasi yang holistik. Ayam Lodho mengajarkan rasa syukur melalui lidah, diskusi terpumpun melalui akal, ruang kreasi melalui tangan, Adi Budaya On Air melalui telinga dan layar, serta Cak Daya Masuk Desa melalui hati dan kaki.
Dalam hitungan kasar, ribuan siswa, pemuda, dan warga desa telah terlibat langsung. Dampak jangka panjang: generasi muda yang bangga dengan identitasnya, ekonomi kreatif yang tumbuh, dan situs cagar budaya yang terjaga. BPK Wilayah XI telah membuktikan bahwa pelestarian bukan tugas birokrasi semata, melainkan gerakan sosial yang melibatkan semua lapisan masyarakat.
Di tengah tantangan urbanisasi dan digitalisasi, internalisasi warisan budaya oleh BPK Wilayah XI menjadi teladan nasional. Seperti pepatah Jawa “jer basuki mawa bea”, keberhasilan butuh pengorbanan, upaya ini memang memerlukan komitmen berkelanjutan. Namun, melihat semangat yang menyala di Trenggalek, Nganjuk, Mojokerto, dan desa-desa Trowulan, kita yakin: warisan leluhur tidak akan pudar, melainkan terus merentang masa, meramu rasa, dan membangun peradaban baru yang berakar kuat.



