Seni Pertunjukan Oklik dari Bojonegoro: Irama Bambu yang Menggetarkan Jiwa

Di tengah pesatnya perkembangan zaman, Indonesia terus menyimpan harta karun budaya yang unik dan berharga. Salah satunya adalah Oklik, seni pertunjukan tradisional dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Oklik bukan sekadar musik perkusi dari bambu, melainkan ekspresi kolektif masyarakat yang menggabungkan ritme, nyanyian, dagelan (komedi), dan elemen ritual. Sebagai seni yang lahir dari kearifan lokal, Oklik mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bojonegoro. Artikel ini akan membahas secara mendalam asal usul, makna, perkembangan, status sebagai warisan budaya tak benda, peran sebagai ekspresi budaya tradisi, tantangan pelestarian, serta usaha-usaha untuk melestarikannya.

Asal Usul Oklik

Asal usul Oklik dapat ditelusuri ke Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Seni ini muncul pada masa transisi kerajaan di Jawa, ketika masyarakat masih kuat memegang kepercayaan mistis dan animisme. Saat itu, desa-desa di Bojonegoro sering dilanda pagebluk atau wabah penyakit yang mematikan, disertai konflik sosial seperti perampokan dan peperangan. Legenda lokal menceritakan bahwa seorang tokoh agama atau kyai setempat melakukan meditasi (semedi) untuk mencari solusi atas bencana tersebut. Dalam semedinya, ia mendapat petunjuk ilahi: potonglah bambu menjadi ruas-ruas, pukullah secara perlahan sambil mengelilingi desa, dan lakukan lima tindakan (limang perkoro) untuk membersihkan desa dari roh jahat.

Lima tindakan tersebut meliputi: membersihkan semak-semak (resikono grumbul) yang menjadi sarang makhluk halus, mengalirkan air (ilenono banyu) untuk kelancaran hidup, menanam tanaman obat keluarga (tanduro empon-empon) untuk pengobatan mandiri, berdoa memohon keselamatan (ndungo supoyo slamet), dan membuat pos jaga (gaweo cakruk) yang dijaga secara bergantian. Alat bambu yang dipukul ini awalnya dimainkan secara acak dan abstrak, menghasilkan suara ritmis yang dipercaya mengusir roh jahat dan menghentikan wabah. Penelitian etnomusikologi menunjukkan bahwa Oklik tercipta dari fenomena sejarah ini, di mana bambu sebagai bahan alam yang melimpah di Bojonegoro menjadi medium spiritual.

Seiring waktu, Oklik menyebar ke desa-desa lain seperti Campurejo, dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat agraris Bojonegoro. Bambu dipilih karena sifatnya yang kuat namun fleksibel, mencerminkan ketahanan masyarakat menghadapi cobaan. Asal usul ini juga terkait dengan pengaruh budaya Jawa yang kental, di mana suara perkusi sering digunakan dalam ritual ruwatan atau pembersihan. Hingga kini, Desa Sobontoro tetap menjadi pusat asal Oklik, dengan para tetua desa yang masih menyimpan cerita lisan tentang kelahirannya.

Makna Oklik

Makna Oklik sangat dalam, mencakup dimensi spiritual, sosial, dan filosofis. Awalnya, Oklik adalah sarana ritual untuk mengusir roh jahat, pagebluk, dan duratmoko (kemarahan alam atau Tuhan). Suara pukulan bambu yang serempak dan rancak dianggap sebagai mantra yang membersihkan desa dari energi negatif. Lirik-lirik dalam nyanyian Oklik sering berisi doa syukur dan permohonan perlindungan, seperti ungkapan bersyukur atas panen yang melimpah atau keselamatan dari bencana.

Secara sosial, Oklik melambangkan gotong royong dan persatuan masyarakat. Prosesi keliling desa sambil memainkan Oklik mendorong partisipasi kolektif, di mana setiap warga ikut memukul bambu, bernyanyi, dan tertawa melalui dagelan yang mirip ludruk. Ini memperkuat ikatan komunal, terutama di masyarakat pedesaan Bojonegoro yang bergantung pada pertanian. Filosofisnya, Oklik mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam: bambu sebagai simbol alam yang memberikan kehidupan, sementara ritme pukulan mencerminkan harmoni hidup yang teratur.

Dalam konteks modern, makna Oklik bergeser menjadi simbol identitas budaya. Ia mengingatkan generasi muda akan akar sejarah, di mana usaha kolektif bisa mengatasi krisis, seperti pandemi atau konflik sosial. Makna ini juga terlihat dalam penggunaannya pada acara syukuran panen (sedekah bumi) atau nyadran, di mana Oklik menjadi ekspresi rasa syukur atas rezeki dari Yang Maha Kuasa.

Perkembangan Oklik

Perkembangan Oklik mencerminkan adaptasi budaya terhadap perubahan zaman. Awalnya sebagai alat ritual sederhana dengan pukulan acak, Oklik berkembang ketika para penjaga pos (cakruk) mulai menyinkronkan ritme, menciptakan pola yang lebih terstruktur dan menghibur. Pada abad ke-20, ia bertransformasi menjadi seni pertunjukan lengkap dengan elemen musik, tari, dan teater. Grup-grup Oklik mulai muncul di desa-desa, seperti di Sobontoro dan Balen, dengan penambahan kidungan (nyanyian) dan dagelan untuk hiburan.

Memasuki era 2000-an, Oklik mengalami revitalisasi melalui inisiatif pemerintah daerah. Pada 2013, Oklik ditampilkan di Festival Pertura di Sumenep, menandai ekspansi ke luar Bojonegoro. Pada 2020, lomba Oklik diadakan dengan lagu wajib seperti “Jejeg lan Njejeg” dan “Pinarak Bojonegoro”, melibatkan 17 grup. Puncaknya, pada 2022, Oklik didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dengan nomor EBT35202200234, kategori teater rakyat.

Di era digital, Oklik diintegrasikan dengan elemen modern, seperti kolaborasi dengan musisi kontemporer di Geopark Bojonegoro 2025. Parade Oklik dan Gema Takbir pada Maret 2025 menunjukkan perkembangannya sebagai atraksi wisata, dengan partisipasi Forkopimda dan masyarakat luas. Kini, Oklik tidak hanya ritual, tapi juga hiburan di pekan seni kerakyatan, dengan grup seperti New Kali Kening yang tampil di berbagai event.

Nguber Drummer Arsipkan Kolaborasi Musik Tradisional Bersama Oklik

Oklik sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Oklik resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia melalui pendaftaran HKI pada 2022. Status ini menempatkannya dalam kategori Ekspresi Budaya Tradisional, di bawah perlindungan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Sebagai WBTb, Oklik dianggap aset nasional yang hidup melalui praktik masyarakat, bukan benda fisik seperti candi.

Pengakuan ini membuka peluang untuk nominasi UNESCO, mirip dengan Reog Ponorogo. Nilai universal Oklik terletak pada pesan gotong royong dan resiliensi menghadapi bencana, yang relevan di era global seperti pandemi COVID-19. Di Bojonegoro, Oklik menjadi ikon kearifan lokal, dilestarikan melalui dokumentasi dan transmisi antargenerasi.

Oklik sebagai Ekspresi Budaya Tradisi

Oklik adalah ekspresi budaya tradisi yang kaya simbolisme Jawa. Sebagai musik idiophone perkusi, alatnya terbuat dari ruas bambu yang dipukul, menghasilkan suara padu ketika dimainkan secara kolektif. Pertunjukan melibatkan arak-arakan, nyanyian, dan dagelan, mencerminkan perpaduan musik, tari, dan teater rakyat.

Dalam tradisi, Oklik mirip dengan kentongan atau angklung, tapi unik dengan konteks ritual Bojonegoro. Ia mewakili identitas masyarakat agraris yang menghormati alam dan leluhur, menjadi media pendidikan moral tentang persatuan. Di acara seperti sedekah bumi, Oklik memperkaya ekspresi budaya, menggabungkan Islam dan kejawen.

OKLIK BOJONEGORO

Tantangan Melestarikan Oklik

Pelestarian Oklik menghadapi berbagai tantangan. Pengaruh modernisasi membuat generasi muda kurang minat, lebih memilih hiburan digital daripada seni tradisional. Urbanisasi menyebabkan pemuda merantau, sehingga transmisi pengetahuan lisan terhambat. Selain itu, akses informasi terbatas dan kurangnya dokumentasi membuat Oklik rentan punah.

Degradasi lingkungan, seperti penebangan bambu untuk industri, mengancam bahan baku. Pandemi COVID-19 sempat menghentikan pertunjukan massal, mempercepat penurunan. Tantangan ekonomi juga ada, karena biaya latihan dan alat mahal bagi komunitas pedesaan.

Usaha Melestarikan Oklik

Usaha pelestarian Oklik dilakukan secara kolaboratif. Pemerintah Bojonegoro melalui Dinas Kebudayaan menggelar festival seperti Pekan Seni Kerakyatan dan Parade Oklik, termasuk launching HKI pada 2022. Komunitas seperti Karang Taruna Pohagung dan Lembaga Krida Wira mengadakan revitalisasi melalui pertunjukan rutin.

Pendidikan menjadi kunci: Oklik dimasukkan ke ekstrakurikuler sekolah, seperti di SDLB PKK Sumberrejo untuk terapi autis. Studi etnomusikologi oleh akademisi mendokumentasikan sejarahnya. Promosi melalui media sosial dan YouTube, seperti video parade 2025, memperluas jangkauan. Kolaborasi dengan musisi modern, seperti Nguber Drummer, membawa Oklik ke panggung nasional.

Kesimpulan

Oklik bukan hanya seni pertunjukan, tapi jiwa Bojonegoro yang berirama. Dari asal usul ritual hingga pengakuan nasional, ia mengajarkan nilai persatuan dan ketahanan. Meski tantangan besar, usaha pelestarian menjanjikan kelangsungannya. Mari dukung Oklik agar tetap menggetarkan generasi mendatang, memperkaya budaya Indonesia.

Tinggalkan komentar