Kerupuk Abang Ijo: Ikon Kuliner dan Warisan Budaya tak Benda dari Kabupaten Bojonegoro

Asal Usul Kerupuk Abang Ijo

Kerupuk Abang Ijo, atau yang lebih dikenal sebagai Kerupuk Klenteng Rasa Asli, merupakan salah satu warisan kuliner paling ikonik dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Makanan ringan ini tidak hanya menjadi pelengkap hidangan sehari-hari masyarakat setempat, tetapi juga simbol ketahanan budaya dan ekonomi daerah. Dengan bentuk spiral yang unik dan warna-warni cerah, merah (abang), hijau (ijo), kuning, serta putih, kerupuk ini telah bertahan hampir satu abad, bahkan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2024.

Sejarah kerupuk Abang Ijo bermula pada era kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada 8 Maret 1929. Pendirinya adalah pasangan suami istri keturunan Tionghoa, Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio. Mereka memulai usaha ini di tengah kondisi ekonomi yang sulit, akibat banjir besar Sungai Bengawan Solo yang menghancurkan lahan pertanian, serta depresi ekonomi global yang melanda. Awalnya, Tan Tjian Liem membuka toko kelontong di timur pasar kota Bojonegoro, namun usaha itu bangkrut. Ia kemudian belajar membuat kerupuk di Sidoarjo bersama dua rekannya dari Tuban. Setelah kongsi itu bubar, Tan Tjian Liem kembali ke Bojonegoro dan mendirikan pabrik kerupuk kecil di Jalan Jaksa Agung Suprapto, tepat di sebelah timur Klenteng Hok Swie Bio, sebuah tempat ibadah Tri Dharma yang menjadi asal nama “Kerupuk Klenteng”.

Pada awalnya, kerupuk ini hanya berwarna putih polos, terbuat dari bahan sederhana seperti tepung tapioka berkualitas, garam, dan air. Namun, karena dianggap kurang menarik di pasaran, pasangan ini berinovasi dengan menambahkan pewarna makanan sintetis untuk menghasilkan varian merah, hijau, dan kuning. Inovasi ini langsung meledak popularitasnya, hingga masyarakat setempat menjulukinya “kerupuk abang ijo” dalam bahasa Jawa, yang berarti kerupuk merah-hijau. Nama ini begitu melekat, meski nama resmi pabrik tetap Kerupuk Klenteng Rasa Asli.

Proses pembuatan kerupuk Abang Ijo hingga kini masih mempertahankan cara tradisional, tanpa bahan kimia pemekar atau pengawet berbahaya. Adonan dicampur, dikukus, dicetak menjadi bentuk spiral tidak beraturan, dijemur di bawah sinar matahari hingga kering, lalu digoreng menggunakan pasir panas untuk menghasilkan tekstur renyah dan gurih alami (gulami). Rasa gurih khas ini menjadi pembeda utama dari kerupuk modern yang sering menggunakan vetsin atau bahan sintetis. Saat ini, usaha ini dikelola oleh generasi keempat, Anton Indarno, yang terus menjaga resep warisan leluhur.

Perkembangan kerupuk Abang Ijo dalam dunia perdagangan dan kuliner daerah sangat mengesankan. Dari usaha rumahan kecil, ia berkembang menjadi ikon oleh-oleh wajib Bojonegoro. Pada masa awal, penjualan masih menggunakan sistem teban (satuan tradisional), tapi sejak 1980-an beralih ke timbangan untuk lebih modern. Kerupuk ini tidak hanya dikonsumsi lokal sebagai pelengkap nasi atau sayur, tapi juga laris sebagai camilan dan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Bojonegoro, terutama saat musim liburan atau perayaan seperti Imlek dan Lebaran.

Di bidang perdagangan, kerupuk Abang Ijo telah menembus pasar lebih luas. Dijual dalam kemasan berbagai ukuran, dari 250 gram hingga 1 kilogram, dengan harga terjangkau, produk ini tersebar di toko oleh-oleh se-Jawa Timur, bahkan hingga luar provinsi melalui platform online seperti Shopee dan Tokopedia. Anton Indarno aktif memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, membuat logo resmi, mematenkan merek, serta mendapatkan sertifikat halal dan uji laboratorium dari Sucofindo dan BPOM. Hal ini membuktikan adaptasi terhadap era digital tanpa mengorbankan kualitas tradisional.

Dalam konteks kuliner daerah, kerupuk Abang Ijo memperkaya keragaman makanan khas Bojonegoro, yang dikenal dengan pengaruh budaya Jawa-Tionghoa. Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi semakin mengukuhkan posisinya. Sertifikat ini diserahkan pada Desember 2024, menandai bahwa kerupuk ini bukan sekadar makanan, tapi bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan. Pemerintah daerah pun mendorongnya sebagai alat pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama UMKM lokal.

Meski menghadapi tantangan seperti penurunan daya beli masyarakat pasca-pandemi atau kenaikan harga bahan baku, kerupuk Abang Ijo tetap eksis. Pabriknya masih mempekerjakan puluhan pekerja lokal, mostly perempuan, dan sering ramai pengunjung yang ingin melihat proses produksi secara langsung. Di era modern ini, kerupuk warna-warni ini tidak hanya bertahan, tapi juga menjadi simbol inovasi dan ketangguhan kuliner daerah.

Kerupuk Abang Ijo membuktikan bahwa makanan sederhana bisa menjadi warisan berharga. Dari pabrik kecil dekat klenteng pada 1929 hingga menjadi kebanggaan nasional, perjalanannya mencerminkan semangat masyarakat Bojonegoro dalam melestarikan tradisi sambil beradaptasi dengan zaman. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Bojonegoro, mencicipi atau membawa pulang kerupuk ini adalah cara terbaik menghargai sejarah kuliner Indonesia yang kaya.

Warisan Budaya Tak Benda dan Sumber Daya Genetik yang Perlu Dilestarikan

Kerupuk Abang Ijo, atau dikenal sebagai Kerupuk Klenteng Rasa Asli, merupakan ikon kuliner khas Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang telah bertahan hampir satu abad. Dengan bentuk spiral tidak beraturan dan warna-warni cerah, merah (abang), hijau (ijo), kuning, serta putih, kerupuk ini bukan hanya camilan biasa, melainkan simbol akulturasi budaya Jawa-Tionghoa yang kaya nilai historis.

Sejarahnya bermula pada 8 Maret 1929, saat pasangan suami istri keturunan Tionghoa, Tan Tjian Liem dan Oei Hay Nio, mendirikan pabrik kecil di Jalan Jaksa Agung Suprapto, tepat di sebelah timur Klenteng Hok Swie Bio, tempat ibadah Tri Dharma yang menjadi asal nama “Kerupuk Klenteng”. Usaha ini lahir di tengah kesulitan ekonomi era kolonial, akibat banjir Bengawan Solo dan depresi global. Awalnya kerupuk polos putih dari tepung tapioka, garam, dan air, tapi inovasi pewarna makanan sintetis membuatnya populer, hingga dijuluki “abang ijo” oleh masyarakat setempat.

Pada 22 Agustus 2024, Kerupuk Abang Ijo resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Sertifikat diserahkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 9 Desember 2024. Pengakuan ini menjadikannya salah satu dari 14 kuliner Jawa Timur yang dilindungi, bersama lodho, rawon nguling, dan lainnya. Sebagai WBTbI, kerupuk ini mewakili pengetahuan tradisional, keterampilan turun-temurun, dan identitas budaya Bojonegoro yang tak tergantikan.Proses pembuatan tradisional menjadi alasan utama status ini.

Adonan dari tepung tapioka berkualitas tinggi dicampur garam dan air, dikukus, dicetak spiral, dijemur alami di bawah matahari, lalu digoreng dengan pasir panas untuk tekstur renyah dan rasa gurih alami (gulami). Tanpa vetsin, pemekar kimia, atau pengawet berbahaya, metode ini berbeda dari kerupuk modern. Kini dikelola generasi keempat, Anton Indarno, yang mempertahankan resep leluhur sambil mendapatkan sertifikat halal, BPOM, dan uji lab Sucofindo.

Selain warisan budaya, Kerupuk Abang Ijo dapat dipandang sebagai sumber daya genetik dalam konteks pelestarian keanekaragaman hayati kuliner Indonesia. Meski bukan varietas tanaman hidup, penggunaan tepung tapioka dari singkong lokal berkualitas spesifik mencerminkan pengetahuan tradisional tentang sumber daya genetik nabati. Proses tanpa bahan sintetis menjaga kemurnian rasa yang bergantung pada varietas singkong unggul daerah, yang rentan hilang akibat modernisasi pertanian. Dalam kerangka Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan dan konvensi keanekaragaman hayati, pelestarian resep ini turut melindungi pengetahuan indigenous tentang pengolahan sumber daya genetik lokal, mencegah monopoli industri besar dan menjaga biodiversitas kuliner.

Pelestarian Kerupuk Abang Ijo menjadi keharusan di era globalisasi. Pengakuan WBTbI mendorong pemerintah daerah mempromosikannya sebagai ikon pariwisata dan pemberdayaan UMKM. Anton Indarno aktif menggunakan media sosial, platform e-commerce, dan branding modern untuk menjangkau pasar nasional, tanpa mengubah esensi tradisional. Pabriknya mempekerjakan puluhan pekerja lokal, mayoritas perempuan, sehingga berkontribusi pada ekonomi masyarakat.

Namun, tantangan tetap ada: kenaikan harga bahan baku, penurunan daya beli pasca-pandemi, dan ancaman imitasi murah berbahan kimia. Untuk melestarikan sebagai WBTbI dan sumber daya genetik, diperlukan langkah konkret seperti pendidikan resep di sekolah vokasi, festival kuliner tahunan, perlindungan indikasi geografis, dan dukungan riset varietas singkong lokal. Generasi muda harus dilibatkan agar pengetahuan ini tak punah.

Kerupuk Abang Ijo membuktikan bahwa kuliner sederhana bisa menjadi pilar budaya nasional. Dari pabrik kecil dekat klenteng pada 1929 hingga warisan budaya tak benda pada 2024, perjalanannya mengajarkan ketangguhan dan inovasi. Melestarikannya berarti menjaga identitas Bojonegoro, keanekaragaman kuliner Indonesia, dan warisan pengetahuan tradisional untuk generasi mendatang. Saat berkunjung ke Bojonegoro, mencicipi kerupuk renyah ini adalah cara menghargai kekayaan budaya yang tak ternilai.

Sumber gambar: foryourplate.id

Tinggalkan komentar