Mpu Sindok, raja pertama periode Jawa Timur Kerajaan Medang (Mataram Kuno), meninggalkan warisan epigrafi yang luar biasa: setidaknya 20 prasasti yang tersebar dari tahun 929 hingga 944 Masehi. Prasasti-prasasti ini menjadi sumber utama untuk memahami perpindahan ibu kota dari Bhumi Mataram (Jawa Tengah) ke Watugaluh (Jombang) serta pendirian Wangsa Isyana. Berbeda dengan periode Jawa Tengah yang prasastinya lebih sporadis, dokumen-dokumen Sindok hampir seluruhnya berfokus pada penetapan sima (tanah perdikan bebas pajak), anugerah loyalitas, infrastruktur, dan legitimasi religius. Analisis perbandingan ini mengungkap evolusi kebijakan: dari fondasi religius-legitimasi di awal pemerintahan, menuju pembangunan ekonomi-militer di fase konsolidasi.
Kronologi dan Pola Umum Prasasti Mpu Sindok
Prasasti-prasasti Sindok dapat dikelompokkan secara kronologis berdasarkan tahun Saka (dikonversi ke Masehi):
| Tahun M | Prasasti Utama | Lokasi Utama | Tema Dominan |
|---|---|---|---|
| 929 | Turryan, Linggasutan, Gulung-Gulung, Cunggrang | Tamwlang, Pasuruan, Jombang | Sima religius & pertapaan |
| 930 | Plosorejo, Jeru-Jeru, Gemekan (Masahar) | Kediri, Mojokerto | Pembelian tanah & sima suci |
| 931 | Waharu, Sumbut | Wilayah Brantas | Anugerah loyalitas anti-musuh |
| 934 | Paradah, Hering | Paradah, Hujung | Penghapusan pajak sawah |
| 935 | Kanuruhan, Wulig, Tengaran | Kanuruhan, Mojokerto, Jombang | Infrastruktur & sima jasa |
| 937 | Anjuk Ladang | Nganjuk | Militer + sima kemenangan |
| 941–944 | Kamban, Muncang, Wurandungan | Hujung, Kanuruhan | Sima lanjutan & anugerah |
Kesamaan struktural yang mencolok:
- Semua diawali kalender Saka yang presisi (tithi, paksa, naksatra).
- Gelar raja lengkap: Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isanawikrama Dharmottungadewawijaya.
- Perintah dikeluarkan melalui pejabat tinggi (Rakai Hino Pu Sahasra, Rakai Kanuruhan Pu Da, Rakai Wka Pu Baliswara).
- Daftar mangilala drwyahaji (pajak yang dilarang masuk sima: pangkur, tawan, tirip, dll.).
- Daftar saksi/hadir (puluhan orang) dan sapatha (kutukan pelanggar: dimakan harimau, disambar petir, neraka).
- Frasa kunci: “Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh” menegaskan kelanjutan tahta Mataram di tanah baru.
Struktur ini mirip prasasti-prasasti sima era Sanjaya sebelumnya, tetapi Sindok jauh lebih produktif dan sistematis, menunjukkan administrasi yang lebih terpusat pasca-perpindahan.
Perbandingan Tema dan Evolusi Strategi
1. Fase Awal (929–931 M)
Fondasi Religius-Legitimasi Prasasti Turryan, Linggasutan, Gulung-Gulung, dan Cunggrang (929 M, Dusun Sukci, Pasuruan) merupakan kelompok pertama. Isi dominan: penetapan sima untuk pertapaan dan bangunan suci di Gunung Pawitra (Penanggungan).
Cunggrang secara spesifik memerintahkan rakyat di bawah Wahuta Wungkal untuk memelihara pathirtan (Candi Belahan) dan prasada, sekaligus menghormati makam Rakryan Bawang (ayah Dyah Kebi, permaisuri Sindok). Ini strategi legitimasi dinasti: menghubungkan Wangsa Isyana dengan leluhur Mataram.
Gemekan (930 M) unik karena mencatat pembelian tanah dengan emas (3 kati 5 suwarna) untuk sima Prasada Kabhaktyan Pangurumbigyan. Perbandingan: Prasasti awal ini lebih “religius-pribadi”, fokus pada Gunung Penanggungan sebagai pusat suci baru, menggantikan Prambanan yang ditinggalkan.
2. Fase Pertengahan (934–935 M)
Ekonomi dan Loyalitas Prasasti Wulig (8 Januari 935 M) dan Tengaran menonjol karena aspek infrastruktur. Wulig mencatat peresmian bendungan Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya oleh Rakryan Mangibil (istri Sindok). Ini bukti visi ekonomi: irigasi untuk pertanian sawah di lembah Brantas yang subur.
Waharu dan Sumbut (931 M) serta Hering (934 M) berisi anugerah sima karena “kesetiaan melawan musuh negara”. Perbandingan dengan fase awal: Bergeser dari agama murni ke ekonomi-politik. Sima tidak lagi hanya untuk candi, melainkan imbalan loyalitas dan alat pembangunan.
3. Fase Akhir (937–944 M)
Militer dan Konsolidasi Prasasti Anjuk Ladang (937 M) adalah yang paling dramatis. Berbeda dari yang lain, ia mencatat pembangunan jayastambha (tugu kemenangan) atas pasukan Malayu (Sriwijaya), kemudian diganti candi suci (Sang Hyang Prasada Kabhaktyan). Hadiah sima diberikan atas jasa rakyat Anjuk Ladang yang membantu menghalau invasi.
Prasasti akhir seperti Muncang dan Wurandungan masih sima, tetapi lokasinya semakin meluas (Hujung, Kanuruhan). Perbandingan: Anjuk Ladang adalah “puncak militer” yang tidak ada di prasasti sebelum 937 M. Ini membuktikan ancaman eksternal (invasi Malayu) mempercepat konsolidasi, sementara prasasti lain lebih domestik.
Perbedaan Lokasi dan Dampak Geografis
Semua prasasti ditemukan di lembah Sungai Brantas (Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri). Tidak ada satu pun di Jawa Tengah pasca-929 M. Ini kontras tajam dengan prasasti era Dyah Wawa yang masih di Kedu-Prambanan.
- Konsentrasi di sekitar Watugaluh menunjukkan strategi teritorial: membangun “jaringan sima” untuk mengamankan ibu kota baru.
- Cunggrang (Pasuruan) fokus barat daya (Penanggungan); Anjuk Ladang (Nganjuk) fokus timur laut (pertahanan); Wulig (Mojokerto) fokus pusat (irigasi).
Kesimpulan: Prasasti Sindok sebagai Cermin Visi Kenegaraan
Analisis perbandingan menunjukkan bahwa prasasti-prasasti Mpu Sindok bukan sekadar dokumen administratif, melainkan alat strategi rekonstruksi peradaban. Kesamaan gaya dan tema sima mencerminkan konsistensi kebijakan: agama sebagai legitimasi, sima sebagai alat ekonomi-sosial, dan anugerah sebagai pengikat loyalitas. Perbedaannya justru menggambarkan evolusi:
- Awal: religius (membangun fondasi suci di tanah baru).
- Tengah: ekonomi (bendungan, irigasi).
- Akhir: militer (pertahanan terhadap Malayu).
Jumlah prasasti yang melimpah, rata-rata lebih dari 1 prasasti per tahun, membuktikan Mpu Sindok adalah administrator visioner, jauh lebih aktif daripada raja-raja sebelumnya. Prasasti-prasasti ini menjadi jembatan langsung ke Airlangga dan Majapahit: sistem sima yang ia sempurnakan menjadi model feudal Hindu-Siwa yang bertahan berabad-abad.
Dengan demikian, misteri perpindahan Mataram bukan lagi “pelarian”, melainkan proyek besar rekonstruksi yang terdokumentasi rapi dalam batu-batu prasasti Sindok. Setiap prasasti adalah potongan puzzle yang, ketika dibandingkan, mengungkapkan gambaran utuh: seorang raja yang mengubah bencana Merapi dan ancaman invasi menjadi fondasi peradaban Jawa Timur yang tangguh.


