Kota Batu, Jawa Timur, yang kini dikenal sebagai kota wisata apel dan udara sejuk, menyimpan satu kekayaan budaya yang jauh lebih “liar” ketimbang taman bunga atau wahana permainan: Kesenian Bantengan. Di malam-malam tertentu, terutama menjelang bulan Suro atau acara adat besar, suara gamelan menggelegar, teriakan “Allahu Akbar” bercampur dengan raungan banteng, dan puluhan pemuda bertanduk kerbau menari-nari dalam keadaan kerasukan. Itulah Bantengan, seni trance (kesurupan) yang menjadi identitas kuat masyarakat Tumpang, Junrejo, Bumiaji, hingga Desa Tulungrejo di Kota Batu.
Artikel ini akan mengupas tuntas kesenian Bantengan dari Kota Batu: asal-usulnya, ciri khas yang membedakannya dengan seni sejenis, peran budayanya, upaya pelestarian, hingga tantangan yang dihadapi di era modern.
Asal-Usul Kelahiran Kesenian Bantengan Jawa Timur
Kesenian Bantengan tidak lahir di ruang hampa. Ia adalah perpaduan antara tradisi lokal Jawa Tengahan-Timur, pengaruh Islam, dan ritual agraris yang sudah ada sejak masa kerajaan Majapahit.
Menurut cerita lisan yang masih dipegang kuat oleh para sesepuh di Tumpang dan Punten, Bantengan bermula dari kisah Ki Ageng dewa atau Ki Ageng dewa Sakti, seorang tokoh spiritual pada abad ke-14 yang konon murid Sunan Kalijaga. Ki Ageng dewa memiliki kesaktian mengendalikan banteng liar yang sering merusak sawah warga. Ia berhasil “menaklukkan” banteng-banteng itu dengan doa dan ilmu kanuragan, lalu mengajak warga mengenakan tanduk dan kulit banteng sebagai simbol kemenangan manusia atas hawa nafsu (simbol banteng).
Versi lain yang lebih populer di kalangan akademisi (misalnya penelitian Prof. Dr. Sutjipto Wirgosaputro dari Universitas Brawijaya) menyebut Bantengan merupakan bentuk akulturasi antara tradisi totemisme Jawa kuno (penyembahan kekuatan binatang) dengan ajaran Islam sufi. Dalam tradisi sufi, “banteng” menjadi simbol nafsu lawwamah yang harus dikendalikan. Ketika pemain kerasukan, ia tidak benar-benar “dirasuki setan”, melainkan “dikuasai” oleh kekuatan spiritual leluhur yang disebut “ndadi” atau “dewa banteng”.
Pada masa kolonial Belanda, Bantengan sempat dilarang karena dianggap membangkitkan semangat perlawanan. Namun justru larangan itu membuat seni ini semakin kuat berkembang secara sembunyi-sembunyi di pedesaan Malang Raya, khususnya di wilayah yang kini menjadi Kota Batu.
Setelah kemerdekaan, Bantengan mulai tampil terbuka lagi, terutama di acara bersih desa, sedekah bumi, dan khitanan massal. Tahun 1970-1980-an menjadi masa keemasan Bantengan Kota Batu karena hampir setiap desa di lereng Panderman memiliki kelompok sendiri.
Ciri Khas Kesenian Bantengan Kota Batu
Bantengan yang berkembang di Kota Batu memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dengan Bantengan dari daerah lain (misalnya Tuban, Bojonegoro, atau Nganjuk):
- Kostum dan Properti Pemain mengenakan celana hitam panjang, kaos oblong hitam, dan rompi dari kain beludru merah atau hitam. Yang paling ikonik adalah topeng kepala banteng yang terbuat dari kayu pilihan (biasanya waru atau randu) yang diukir halus, ditambah tanduk kerbau asli sepanjang 50–80 cm. Tanduk ini tidak boleh tanduk sapi, harus kerbau, karena kerbau dianggap lebih “galak” dan sakral.
- Musik Pengiring Gamelan Bantengan Kota Batu menggunakan saron dengan nada slendro yang lebih “kasar” dibanding gamelan biasa. Instrumen wajib adalah kendang besar (bedug) yang dipukul keras untuk memanggil “roh banteng”. Ada juga terompet besar dari bambu yang disebut “bhen” yang bunyinya menyerupai derkahan banteng.
- Prosesi Kesurupan Berbeda dengan daerah lain yang langsung “ndadi” begitu musik dimainkan, di Kota Batu ada ritual “panggil banteng” yang panjang. Pawang (biasanya disebut “Juru Kunci” atau “Mbekel”) membakar kemenyan, membaca mantra Jawa-Islam, lalu menyiram air bunga ke pemain. Proses kesurupan bisa memakan waktu 30–60 menit, dan ketika akhirnya “masuk”, pemain bisa berlari, mengamuk, memanjat pohon, atau bahkan memakan rumput dan tanah.
- Jenis Tarian Ada tiga babak utama:
- Babak Ngamuk (pemain liar tanpa kendali)
- Babak Tandhing (adu kekuatan antar banteng)
- Babak Rila (penenangan, pemain kembali sadar dengan sendirinya)
- Bahasa dan Doa Doa-doa yang digunakan campuran Jawa kuno dan Arab pegon. Contoh: “Gusti Allah, Kanjeng Nabi Muhammad, Sunan Kalijaga, Ki Ageng dewa, mugi kersa ngaturaken kanugrahan dhateng kawula sadaya…”
Pembeda Bantengan dengan Kesenian Jaran Kepang (Jathilan)
Banyak orang masih sering menyamakan Bantengan dengan Jaran Kepang atau Jathilan. Padahal keduanya sangat berbeda:
| Aspek | Bantengan | Jaran Kepang / Jathilan |
|---|---|---|
| Hewan yang ditiru | Banteng / Kerbau | Kuda |
| Properti utama | Tanduk kerbau asli | Kuda kepang anyaman bambu |
| Musik | Gamelan slendro + bedug besar | Gamelan biasa + angklung |
| Kesurupan | Sangat keras, bisa memakan benda tajam | Ringan sampai sedang |
| Pawang | Juru kunci (biasanya keturunan) | Indang (bisa siapa saja) |
| Tujuan ritual | Tolak bala, sedekah bumi | Hiburan, tolak bala |
| Bahaya fisik | Tinggi (pemain sering terluka tanduk) | Rendah |
| Wilayah utama | Malang Raya (khususnya Kota Batu) | Yogyakarta, Klaten, Wonosari |
Intinya: Jaran Kepang lebih “ramah penonton” dan hiburan, sedangkan Bantengan adalah ritual spiritual yang masih sangat sakral dan berbahaya.
Peran Kesenian Bantengan sebagai Ekspresi Budaya Tradisi
Di tengah gemerlap lampu kota wisata Batu yang dipenuhi wahana modern dan kafe Instagramable, masih ada ruang di mana bau kemenyan bercampur bensin knalpot, suara gamelan bersahut-sahutan dengan deru motor, dan puluhan pemuda bertanduk kerbau mengamuk di bawah lampu sorot. Itulah Bantengan, kesenian trance asal Kota Batu yang bukan sekadar pertunjukan, melainkan napas hidup budaya masyarakat lereng Gunung Panderman. Lebih dari hiburan, Bantengan adalah ekspresi tradisi yang tetap bertahan dengan empat peran utama.
Pertama, Bantengan adalah media komunikasi dengan leluhur yang masih sangat hidup. Bagi warga Tumpang, Punten, Bumiaji, hingga Tulungrejo, kesurupan atau “ndadi” bukanlah akting. Ketika seorang pemain tiba-tiba meraung, memutar mata hingga hanya putihnya yang terlihat, lalu berbicara dengan logat Jawa kuno yang tak lagi dipakai sehari-hari, masyarakat percaya bahwa roh leluhur sedang “numpang”. Roh itu bisa Ki Ageng Dewa, pendahulu kelompok, atau bahkan eyang buyut yang dulu mendirikan dukuh. Melalui mulut si “banteng”, leluhur memberi petuah: mengingatkan warga agar tetap guyup, menjaga mata air, atau memperingatkan jika ada warga yang melanggar adat. Pada acara sedekah bumi di Desa Sumberejo tahun 2024, seorang pemain yang ndadi tiba-tiba menyebut nama warga yang belum bayar nazar khitanan tiga tahun lalu. Keesokan harinya, warga tersebut datang membayar nazar dengan membawa tumpeng. Bagi masyarakat Batu, itulah bukti bahwa leluhur masih mengawasi.
Kedua, Bantengan menjadi penguat identitas lokal di tengah gempuran budaya global. Ketika anak-anak di kota lain menghabiskan malam dengan menonton drama Korea atau bermain game online, ratusan remaja di Desa Torongrejo, Pandanrejo, dan Gunungsari justru berkumpul di balai desa untuk latihan Bantengan. Mereka bangga mengatakan, “Kita punya banteng, Jogja punya jaran kepang, Korea punya K-pop, tapi yang benar-benar kerasukan cuma kita.” Identitas ini semakin kuat ketika mereka tampil di luar daerah. Pada Festival Krakatau 2023, kelompok Bantengan Turangga Jaya dari Kelurahan Sisir berhasil membuat penonton Lampung berdecak kagum karena pemainnya memanjat tiang lampu setinggi 7 meter dalam kondisi ndadi. Saat itu mereka merasa, “Ini Jawa Timur, ini Kota Batu.”
Ketiga, Bantengan adalah sekolah karakter yang tak tertulis. Untuk menjadi pemain inti, seseorang harus menjalani laku tirakat berat: puasa mutih tujuh hari, pati geni (tak boleh keluar rumah saat maghrib), hingga ngrowot (tidur di kuburan). Proses ini mengajarkan disiplin luar biasa. Seorang pawang senior di Punten pernah berkata, “Kalau kamu takut sama puasa, bagaimana mau takut sama tanduk kerbau sepanjang 70 cm?” Latihan fisik juga keras: lari keliling desa sambil membawa tanduk 15 kg, push-up 100 kali, dan belajar menahan rasa sakit ketika dicambuk rotan saat latihan “ngamuk”. Hasilnya, banyak pemain Bantengan yang tumbuh menjadi pemuda tangguh, sopan, dan berani mengambil tanggung jawab. Tak jarang, polisi dan TNI merekrut anggota dari kelompok Bantengan karena mentalnya sudah teruji.
Keempat, Bantengan kini menjadi wisata budaya alternatif yang menarik ribuan wisatawan setiap bulannya. Sejak 2015, Dinas Pariwisata Kota Batu secara rutin menggelar “Malam Bantengan” setiap Jumat malam minggu kedua di Alun-Alun Kota Batu. Pertunjukan dimulai pukul 20.00 dengan ritual panggil banteng, puncaknya pada pukul 22.00 ketika 20–30 “banteng” mengamuk secara bersamaan. Wisatawan dari Jakarta, Surabaya, bahkan Belanda dan Jepang datang khusus untuk menyaksikan trance autentik ini. Seorang turis asal Belanda, Anna van der Meer, menulis di blognya (2024): “Saya sudah melihat tari Sufi di Turki dan ritual Bali, tapi Bantengan adalah yang paling liar dan nyata. Saya merinding ketika seorang anak 17 tahun tiba-tiba berbicara dengan suara orang tua dan menunjuk hidung saya, padahal dia tidak mungkin tahu saya sedang sedih karena baru putus.”
Keempat peran ini saling menguatkan: komunikasi dengan leluhur memberi legitimasi spiritual, identitas lokal membuat anak muda bertahan, pendidikan karakter melahirkan generasi penerus yang berkualitas, dan wisata budaya memberi nafas ekonomi. Hasilnya, Bantengan tidak mati meski zaman terus berubah.
Malam ini, jika Anda berkunjung ke Alun-Alun Kota Batu pada jadwal yang tepat, Anda akan melihat lampu-lampu neon kafe di kejauhan, tapi di tengah alun-alun ada lingkaran api dan bau kemenyan. Di sana, tradisi masih hidup, mengamuk, dan menolak dilupakan. Bantengan bukan hanya kesenian. Ia adalah cara masyarakat Batu mengatakan kepada dunia: “Kami masih punya akar, dan akar itu masih kuat menggenggam tanah.”

Usaha Melestarikan Kesenian Bantengan: Dari Latihan Tengah Malam sampai Warisan Nasional
Kesenian Bantengan pernah hampir hilang pada akhir 1990-an. Generasi tua mulai meninggal, anak muda lebih memilih dangdut orkes atau band kampus, dan tanduk kerbau asli semakin sulit didapat karena harga melonjak hingga puluhan juta. Namun, sejak awal 2010-an, gelombang baru muncul: masyarakat, seniman, dan pemerintah Kota Batu bahu-membahu melakukan berbagai upaya sistematis agar “raungan banteng” tetap bergema di lereng Panderman. Berikut empat pilar utama pelestarian yang sedang berjalan hingga akhir 2025.
Pertama, Paguyuban Bantengan Kota Batu menjadi “otak” dan jantung pelestarian. Didirikan pada 17 Mei 2010 di Balai Desa Punten oleh 12 kelompok perintis, paguyuban ini kini memiliki 47 anggota resmi yang mencakup hampir semua kelurahan/desa di Kota Batu, dari Junrejo sampai Bumiaji. Setiap bulan mereka mengadakan rapat koordinasi untuk membahas jadwal pentas, pembagian bantuan, dan penyelesaian konflik antar-kelompok. Puncak kegiatan adalah Festival Bantengan Nusantara yang digelar tiap Agustus di Stadion Brantas. Pada 2025, festival ke-15 ini dihadiri 52 kelompok dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, bahkan satu kelompok dari Malaysia yang mengaku “belajar dari YouTube Bantengan Kota Batu”. Festival ini bukan sekadar lomba, tapi juga bursa kostum, tanduk, dan gamelan, sekaligus ajang temu kangen antar-pawang sepuh.
Kedua, Sekolah Bantengan menjadi jawaban atas krisis regenerasi. Sejak 2018, sanggar-sanggar besar membuka kelas khusus anak-anak. Sanggar Seni Banteng Putih di Kelurahan Tulungrejo membuka program “Banteng Cilik” setiap Sabtu pagi, gratis untuk anak usia 8–15 tahun. Mereka belajar dasar-dasar: tabuh kendang, gerakan ngamuk, sampai tirakat ringan seperti puasa Senin-Kamis. Di Sanggar Seni Banteng Jaya Punten, anak-anak bahkan diberi tanduk mini dari kayu ringan agar terbiasa membawa beban. Hingga 2025, sudah lebih dari 1.200 anak lulus dari sekolah-sekolah Bantengan ini. Yang menarik, 40 % di antaranya perempuan; mereka dilatih menjadi penabuh gamelan atau pembawa bendera, sehingga peran perempuan dalam Bantengan kini semakin besar. Salah satu lulusan terbaik, Fikri (14 tahun) dari Desa Torongrejo, tahun 2025 sudah menjadi pawang cadangan termuda di Kota Batu.
Ketiga, dukungan pemerintah daerah menjadi angin segar yang nyata. Sejak 2016, Pemkot Batu menganggarkan dana khusus pelestarian Bantengan dalam APBD. Setiap kelompok aktif mendapat bantuan sound system, lampu sorot, kostum standar, dan honor pawang Rp750.000–Rp1.500.000 per pentas resmi. Pada 2024, Wali Kota Batu Hj. Dewanti Rumpoko secara resmi mengajukan Bantengan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) nasional ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Berkas setebal 1.200 halaman itu berisi sejarah, video dokumentasi 4K, transkrip mantra, dan surat dukungan dari 47 kelompok. Prosesnya masih berjalan, tapi sidang panel di Jakarta pada November 2025 memberikan sinyal positif. Jika disahkan, Bantengan akan sejajar dengan Reog Ponorogo dan Wayang Kulit sebagai WBTB nasional.
Keempat, dokumentasi digital oleh generasi muda menjadi senjata ampuh di era media sosial. Komunitas “Bantengan Millenial” yang berdiri sejak 2020 kini memiliki 120.000 followers di TikTok (@bantenganbatu.official) dan 87.000 subscribers di YouTube. Mereka mengunggah tidak hanya video pertunjukan, tapi juga behind the scene: cara membuat topeng banteng, latihan tirakat, sampai wawancara pawang sepuh dengan subtitle Indonesia-Inggris. Video “Ndadi Level Dewa – Bantengan Turangga Setya 2024” bahkan ditonton 3,2 juta kali dalam tiga bulan. Berkat konten ini, banyak anak muda luar Kota Batu yang tertarik belajar, bahkan ada mahasiswa Belanda dan Jepang yang datang khusus untuk riset skripsi. Dokumentasi digital juga membantu saat pandemi 2020–2022: ketika pentas fisik dilarang, mereka tetap latihan dan live streaming setiap Minggu malam, sehingga kelompok tidak bubar.
Keempat pilar ini saling menguatkan. Paguyuban memberi koordinasi, sekolah Bantengan mencetak penerus, pemerintah memberi legitimasi dan dana, serta anak muda memastikan Bantengan tetap “viral” di dunia digital. Hasilnya terlihat nyata: pada 2010 hanya ada 12 kelompok aktif, kini menjadi 47, bahkan terus bertambah. Jumlah penonton Malam Bantengan rutin di Alun-Alun Kota Batu meningkat dari 800 orang (2015) menjadi rata-rata 4.500 orang (2025).
Pelestarian Bantengan membuktikan bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas. Ia bisa hidup dengan festival megah, kelas gratis untuk anak-anak, anggaran daerah, dan viral di TikTok sekaligus. Yang terpenting, raungan banteng tetap autentik, tanduk kerbau tetap asli, dan kemenyan tetap mengepul di malam Jawa Timur. Selama ada anak muda yang mau puasa mutih dan pawang yang masih hafal mantra Jawa-Arab kuno, Bantengan akan terus mengamuk, dari generasi ke generasi.
Hambatan Mengembangkan Kesenian Bantengan: Antara Tanduk Kerbau dan Realitas Zaman
Meski semangat pelestarian Bantengan di Kota Batu terlihat menggelora, di balik sorot lampu festival dan video TikTok viral, ada lima hambatan berat yang terus menggerogoti kelangsungan kesenian trance paling liar di Jawa Timur ini. Tanpa penanganan serius, raungan banteng bisa berubah menjadi isak tangis di masa depan.
Pertama, stigma negatif dan masalah keselamatan masih menjadi momok utama. Di luar komunitas, banyak masyarakat (terutama kalangan santri perkotaan dan keluarga berpendidikan tinggi) yang menganggap Bantengan musyrik, syirik, atau bahkan ilmu hitam. Komentar “itu kan main setan” masih sering terdengar di media sosial setiap video Bantengan viral. Lebih parah lagi, risiko cedera nyata. Dalam tiga tahun terakhir (2023–2025), tercatat tiga kasus serius: satu pemain di Desa Punten tertusuk tanduk temannya sendiri hingga paru-parunya robek, satu lagi di Bumiaji patah tulang kering karena terjatuh dari pohon saat ndadi, dan satu kasus di Tulungrejo mengalami gegar otak setelah adu tanduk. Semua harus dirawat di RSSA Malang. Meski pawang selalu menegaskan “yang luka karena kurang tirakat”, citra “berbahaya” membuat banyak orang tua melarang anaknya ikut Bantengan.
Kedua, krisis regenerasi semakin nyata. Latihan Bantengan menuntut komitmen berat: puasa mutih tujuh hari, pati geni, ngrowot, belum lagi latihan fisik malam-malam di lapangan. Sementara itu, anak muda usia 15–25 tahun kini punya banyak pilihan lebih “menggiurkan”: jadi konten kreator (bisa dapat ratusan ribu per hari dari TikTok Live), kerja barista di kafe Kota Batu (gaji tetap plus tips), atau magang di hotel wisata. Seorang pawang senior di Tumpang mengeluh, “Dulu satu kelompok punya 40 pemain inti, sekarang paling 12 orang, itu pun sering bolos kalau ada job endorse.” Pada 2025, dari 47 kelompok yang terdaftar di paguyuban, 11 di antaranya hanya aktif saat ada job bayaran, sisanya “tidur” sepanjang tahun.
Ketiga, biaya operasional yang terus melonjak. Satu set tanduk kerbau asli kini berkisar Rp15–25 juta karena kerbau jantan dewasa semakin langka dan banyak diekspor. Topeng kayu ukir tangan Rp3–5 juta, kostum beludru lengkap Rp2 juta per orang, sewa gamelan satu malam Rp4–7 juta, belum lagi honor pawang (Rp2–5 juta per pentas) dan konsumsi latihan. Total biaya satu kelompok aktif bisa mencapai Rp150–200 juta per tahun. Bantuan Pemkot memang ada, tapi hanya menutupi 20–30 % kebutuhan. Akibatnya, banyak kelompok terpaksa memakai tanduk replika dari fiber atau tanduk sapi yang dianggap “kurang sakti”, sehingga pawang senior menolak memimpin.
Keempat, konflik internal yang tak kunjung reda. Persaingan “siapa paling sakti” sering memuncak menjadi percekcokan bahkan tawuran. Pada 2024, dua kelompok besar di Kecamatan Bumiaji nyaris bentrok fisik hanya karena berebut jadwal tampil di acara pernikahan pejabat. Ada juga kasus pawang saling “menjampi” agar kelompok lawan gagal ndadi. Konflik ini merembet ke paguyuban: beberapa kelompok kecil menolak bayar iuran karena merasa “dikecilkan” kelompok besar. Akibatnya, koordinasi festival sering kacau, dan citra Bantengan di mata sponsor menjadi buruk.
Kelima, modernisasi ritual yang menggerus kesakralan. Tekanannya datang dari dua sisi: televisi lokal dan wisatawan. Stasiun TV swasta sering minta durasi kesurupan dipotong jadi 15 menit saja agar muat slot iklan. Demikian pula wisatawan di Alun-Alun Kota Batu: banyak yang protes kalau pertunjukan molor sampai tengah malam. Akibatnya, beberapa kelompok mulai “mempercepat” proses: kemenyan dikurangi, mantra dipotong, bahkan ada yang memakai lagu remix DJ sebagai pengiring agar lebih “instagrammable”. Pawang tua mengeluh, “Kalau begini terus, nanti bantengnya cuma akting, bukan ndadi beneran.” Pada 2025, sudah ada tiga kelompok komersial yang secara terang-terangan mengaku “main akting” demi job hotel dan kafe.
Kelima hambatan ini saling terkait. Stigma membuat orang tua melarang anaknya, regenerasi macet, biaya naik, konflik internal meledak, dan akhirnya ritual dipotong demi bertahan hidup. Jika tidak segera ditangani, Bantengan berisiko berubah menjadi sekadar “atraksi wisata” yang kehilangan rohnya, seperti banyak kesenian lain yang sudah luntur.
Namun, ada secercah harapan: beberapa kelompok mulai sadar. Mereka membentuk tim kecil untuk dialog dengan MUI setempat, membuat asuransi khusus pemain, menggalang donasi tanduk lewat crowdfunding, dan mengadakan “sekolah pawang” untuk meredam konflik. Tantangan memang berat, tapi selama masih ada anak muda yang mau tidur di kuburan demi tirakat dan pawang yang masih hafal doa Jawa-Arab kuno, Bantengan belum akan menyerah. Raungannya mungkin terdengar semakin parau, tapi masih belum mau diam.


