Di lereng selatan Pegunungan Argopuro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, angin membawa aroma tanah basah bercampur bau kemenyan. Setiap tahun, saat panen raya kedua usai, desa-desa seperti Kamal, Arjasa, Patrang, dan Jelbuk bergemuruh dengan suara lesung dipukul ritmis, diikuti raungan tawa dan teriakan anak-anak. Puluhan sosok raksasa setinggi 2,5 meter, berwajah seram berwarna merah-hitam, bergoyang-goyang diarak keliling desa. Itulah Ta’butaan, kesenian boneka raksasa yang bukan sekadar hiburan, melainkan napas hidup masyarakat Pendalungan, perpaduan etnis Jawa dan Madura.
Artikel ini mengupas Ta’butaan mengenai asal mulanya, pengaruh Bali, pembeda dengan ondel-ondel Betawi dan ogoh-ogoh Bali, peran budayanya, usaha pelestarian, hingga hambatan yang menggerogoti. Di era digital di mana TikTok lebih ramai daripada ritual adat, Ta’butaan tetap berdiri tegak, mengingatkan bahwa raksasa tak selalu menakutkan, ia pelindung.
Asal Mula Kelahiran Kesenian Ta’butaan Jember
Ta’butaan bukan lahir dari kekosongan. Ia adalah jawaban atas kelaparan dan kekacauan abad ke-18, ketika wilayah Blambangan (kini Jember-Banyuwangi) dilanda “laep panjhang”, kekeringan parah yang membuat sawah retak dan warga memakan daun-daun. Menurut tradisi lisan keturunan Buyut Nyami (pendiri Desa Kamal) ke-12, paceklik itu berlangsung enam tahun berturut-turut. Hama wereng dan belalang merajalela, dianggap ulah “buta” atau raksasa penunggu gunung yang murka karena warga lalai ritual.
Pada 1768-1778, VOC memanfaatkan krisis itu untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, meninggalkan jejak migrasi dan akulturasi. Di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, desa tertua di Jember utara dengan peninggalan megalitik seperti batu kenong dan menhir, seorang tokoh bernama Ki Samba menciptakan solusi. Ia membuat sepasang boneka raksasa: laki-laki dari kayu waru (merah, simbol kekuatan), perempuan dari kayu polai (putih, simbol kesuburan). Boneka ini diisi penari, diarak dalam ritual “Kadisah” (bersih desa pasca-panen kedua), diiringi lesung dan ronjengan, sambil doa Jawa kuno dibacakan.
Nama “Ta’butaan” dari bahasa Madura “ta’buta” (raksasa) atau “tabu” (memukul), mencerminkan mayoritas pelaku dari etnis Madura yang bermigrasi abad ke-19 sebagai buruh perkebunan. Dari Kamal, seni ini menyebar ke Pakusari, Patrang, Jelbuk. Awalnya sakral, hanya tampil setahun sekali untuk tolak bala, kini jadi pertunjukan hajatan. Penelitian Winarsih (1995) dan Retno (2019) mengonfirmasi: Ta’butaan adalah akulturasi Madura-Jawa, lahir dari trauma kolonial dan agraris.
Pengaruh Budaya Bali dalam Perkembangan Kesenian Ta’butaan Jember
Jember, sebagai “titik temu” Blambangan, tak lepas dari hembusan Bali. Wilayah ini dekat Banyuwangi, pintu gerbang Pulau Dewata, sehingga migrasi budaya Hindu-Bali meresap sejak Majapahit runtuh (abad ke-15). Ta’butaan, meski dominan Madura-Jawa, terpengaruh elemen Bali dalam simbolisme dan ritual.
Pertama, konsep “bhuta kala”, raksasa jahat yang harus diusir, mirip ogoh-ogoh Bali, tapi Ta’butaan lebih “hidup” karena diisi penari, bukan patung mati. Pengaruh ini dari era Blambangan, kerajaan buffer antara Jawa dan Bali, di mana ritual tolak bala seperti Tawur Agung (Bali) beradaptasi jadi Kadisah. Doa Jawa kuno dalam Ta’butaan punya nuansa sufi Hindu, seperti mantra “om swastiastu” yang tercampur.
Kedua, bentuk boneka: anyaman bambu dan topeng kayu mirip Barong Landung Bali, boneka raksasa dalam upacara nangluk merana. Retno (2019) menyebut Blambangan sebagai “persimpangan” Madura-Jawa-Bali, di mana Ta’butaan evolusi dari totemisme megalitik lokal (menhir Kamal) plus elemen Bali via Banyuwangi. Bahkan, warna merah-putih boneka (merah: kekuatan, putih: kemurnian) paralel tri hita karana Bali.
Ketiga, perkembangan modern: Festival seperti Gebyar Ta’butaan di Arjasa (sejak 2019) terinspirasi Pesta Kesenian Bali, mengubah ritual jadi atraksi wisata. Namun, pengaruh ini tak dominan—Ta’butaan tetap egaliter Pendalungan, beda Bali yang hierarkis. Hasilnya, seni ini jadi jembatan timur Jawa, menyerap “taksu” Bali tanpa hilang akar Madura.
Pembeda Kesenian Ta’butaan Jember dengan Ondel-Ondel Betawi dan Ogoh-Ogoh Bali
Ta’butaan sering disamakan dengan ondel-ondel atau ogoh-ogoh karena bentuk raksasa, tapi perbedaannya mendasar, akar, fungsi, dan eksekusi.
| Aspek | Ta’butaan Jember | Ondel-Ondel Betawi | Ogoh-Ogoh Bali |
|---|---|---|---|
| Asal & Etnis | Pendalungan (Madura-Jawa), agraris Blambangan | Betawi urban, pengaruh Cina-Belanda | Bali Hindu, dari Majapahit |
| Bentuk | Boneka anyam bambu, topeng kayu seram (merah-hitam), diisi 2 penari | Anyam bambu, wajah ramah (merah-putih), 1 penari | Patung styrofoam/bambu, wajah bhuta kala menyeramkan, tak diisi |
| Musik | Lesung/ronjengan + gamelan Jawa | Tanjidor/gendang Betawi | Gamelan bleganjur |
| Fungsi Utama | Ritual Kadisah tolak bala, simbol raksasa pengganggu panen | Hiburan pesta raya, pelindung desa | Pawai Ngerupuk Nyepi, bakar simbol kejahatan |
| Gerakan | Goyang liar, interaksi komunal | Lenggak-lenggok lucu, dialog | Digoyang statis, diarak |
| Frekuensi | Setahun sekali ritual, plus hajatan | Acara Betawi rutin | Tahunan Nyepi |
| Spiritualitas | Akulturasi Islam-Jawa-Madura, doa kuno | Pra-Islam, kini hiburan | Hindu murni, tri hita karana |
Ta’butaan lebih “hidup” dan agraris, beda ondel-ondel yang urban-hibur, atau ogoh-ogoh yang destruktif (dibakar). Ini modifikasi jaranan + ondel, tapi unik seramnya simbol nafsu jahat.
Peran Kesenian Ta’butaan Jember sebagai Ekspresi Budaya Tradisi
Ta’butaan bukan boneka mati, ia cermin jiwa Pendalungan. Pertama, sebagai media spiritual: Dalam Kadisah, raksasa simbol “buta” yang diusir, mengajarkan pengendalian nafsu seperti Buto-Butoan jelang Ramadan. Doa Jawa kuno dan sesaji tasyakuran Islam Jawa jadi dialog leluhur, tolak bala gagal panen atau wabah.
Kedua, penguat identitas: Di Jember multi-etnis, Ta’butaan jadi “abyor” (periuk besar) yang nyatukan Jawa-Madura. Anak muda di Baratan belajar nilai egaliter: gotong royong arak boneka, hormati alam agraris. Seperti lengger atau can macanan kadduk, ia ekspresi kebersamaan.
Ketiga, pendidikan karakter: Gerakan liar ajar keberanian, warna seram ingatkan jahat diri. Bagi anak Kamal, Ta’butaan sekolah hidup: hormati panen, guyub desa. Di era gadget, ia lawan individualisme.
Keempat, wisata budaya: Sejak 2019, festival Arjasa tarik ribuan, cipta ekonomi UMKM. Ta’butaan jadi ikon Jember, seperti JFC tapi akar. Secara keseluruhan, ia ekspresi tradisi: simbolis, komunal, adaptif—menggambarkan Pendalungan yang tangguh.
Usaha Melestarikan Kesenian Ta’butaan Jember
Pelestarian Ta’butaan tak tunggu kiamat. Pertama, paguyuban seperti Rukun Damai di Baratan (sejak 2010) koordinasi 20+ kelompok, adakan festival tahunan Stadion Arjasa. Tahun 2025, Gebyar Ta’butaan tarik 5.000 penonton, termasuk turis Bali.
Kedua, sekolah seni: Sanggar di Kamal buka kelas gratis anak 8-15 tahun, ajar anyam bambu dan tari. Kolaborasi Unej dan Polije (2025) luncurkan VIAA—platform digital VR interaktif, rekam ritual 360°, jangkau Gen Z via TikTok. Hasil: 10.000 unduhan, 30% lulusan jadi penari.
Ketiga, dukungan pemerintah: Disparbud Jember (2019) usul WBTB nasional—disahkan 2024 oleh Kemendikbud. APBD alokasikan Rp500 juta/tahun untuk kostum, gamelan. DPRD dampingi anggaran, Compo’e Bud di Kamal jadi pusat edukasi megalitik + Ta’butaan.
Keempat, dokumentasi: Buku “Djember Tempo Doeloe” (Widodo, 2014) dan video UGM (2023) arsipkan lisan. KKN mahasiswa revitalisasi, seperti ubah warna boneka biar “instagrammable”. Hasil: Dari 5 kelompok aktif (2010) jadi 25 (2025), pentas naik 40%.
Hambatan Program Pelestarian Kesenian Ta’butaan Jember
Di balik sukses, Ta’butaan hadapi badai. Pertama, regenerasi macet: Anak muda pilih konten kreator daripada latihan malam, pengaruh gadget. Di Jelbuk, pelaku turun 50% sejak 2020—hanya 60% usia 40+.
Kedua, biaya tinggi: Boneka Rp10-15 juta (kayu langka, anyam ahli), festival Rp200 juta. Bantuan APBD tak cukup, sponsor minim karena “seram”. Pandemi 2020 hentikan ritual, rugi Rp300 juta kumulatif.
Ketiga, modernisasi erosi sakralitas: Beberapa kelompok potong ritual jadi 30 menit untuk turis, hilang mantra kuno. Akulturasi berlebih: Tambah LED atau remix musik, pawang sepuh protes “hilang taksu”.
Keempat, konflik internal: Perebutan jadwal festival, “siapa paling autentik”. Di Patrang, dua paguyuban pecah 2023 gara-gara subsidi. Stigma “mistis” dari kalangan urban bikin orang tua larang anak ikut.
Kelima, eksternal: Urbanisasi Jember selatan tarik pemuda, banjir iklan global. Penelitian UGM (2023) sebut 70% responden muda tak tahu Ta’butaan. Tapi, VIAA dan WBTB jadi harapan, jika tak diatasi, raksasa ini bisa jadi relik museum.
Ta’butaan Jember adalah mozaik hidup: Dari laep panjhang lahir pelindung, pengaruh Bali beri kedalaman, beda ondel dan ogoh buat unik, peran budaya kuatkan akar, pelestarian inovatif, meski hambatan mengintai. Di 2025, saat boneka raksasa bergoyang di Arjasa, ia bisik: Tradisi tak mati jika kita arak bersama. Jember, jaga raksasamu, ia penjaga kemakmuranmu.


