Pada malam Jumat, 5 Desember 2025, suasana di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi begitu magis dan penuh makna. Ribuan penonton dari berbagai penjuru berkumpul di sekitar situs bersejarah untuk menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit Mojopahitan. Acara ini dipimpin oleh Dalang Ki Sareh, seorang maestro wayang kulit senior dari Jerukkuwik, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Dimulai setelah salat Isya, sekitar pukul 20.00 WIB, pagelaran ini berlangsung hingga dini hari, menyuguhkan lakon-lakon epik yang terinspirasi dari era Kerajaan Majapahit. Yang membuat acara ini istimewa adalah posisi panggung wayang yang berada dalam satu garis lurus dengan Situs Klinterejo dan Bhre Kahuripan, sebuah susunan yang sarat dengan filosofi Jawa tentang kesatuan dan harmoni.
Pagelaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah upaya pelestarian budaya yang menyatukan masa lalu dengan masa kini. Di tengah era digital yang serba cepat, wayang kulit tetap menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup. Tema “Mojopahitan” yang diusung menggambarkan kejayaan Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara pada abad ke-14 hingga ke-15. Lakon yang dimainkan oleh Ki Sareh mencakup cerita tentang Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Tribhuwana Wijayatunggadewi, yang dikenal dengan gelar Bhre Kahuripan, sebagai simbol kekuatan perempuan dalam sejarah Jawa.
Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan tertua di Indonesia, yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak tahun 2003. Berasal dari tradisi Jawa kuno, wayang kulit tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik. Boneka-boneka yang terbuat dari kulit kerbau, diukir dengan detail rumit, dimainkan oleh seorang dalang di balik layar putih yang disebut kelir. Cahaya dari blencong (lampu minyak tradisional) menciptakan bayangan yang hidup, diiringi gamelan yang merdu dan suara sinden yang menyayat hati.
Dalam konteks Pagelaran Mojopahitan, wayang kulit menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali cerita-cerita dari Kakawin Nagarakretagama, prasasti kuno yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa Hayam Wuruk. Lakon seperti “Gajah Mada Palapa” atau “Tribhuwana Menaklukkan Nusantara” disajikan dengan gaya Jawatimuran, yang khas dengan irama gamelan yang lebih dinamis dan dialog yang lebih ekspresif. Ki Sareh, sebagai dalang, tidak hanya memainkan boneka tetapi juga menjadi narator, penyanyi, dan filsuf yang menyisipkan pesan moral kontemporer, seperti pentingnya persatuan di tengah polarisasi sosial saat ini.
Sejarah wayang kulit sendiri dapat ditelusuri hingga masa Hindu-Buddha di Jawa. Menurut para ahli, wayang berasal dari ritual pemujaan dewa-dewa, di mana bayangan melambangkan dunia gaib. Pada era Majapahit, wayang menjadi alat propaganda kerajaan untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila Majapahit—sebuah konsep yang mirip dengan Pancasila modern. Pagelaran di situs bersejarah seperti Klinterejo memperkuat dimensi ini, karena lokasi tersebut langsung terkait dengan peninggalan Majapahit.
Profil Dalang Ki Sareh: Maestro dari Jombang
Ki Sareh Budi Utomo, lahir pada tahun 1956 di Jombang, adalah salah satu dalang senior yang masih aktif melestarikan wayang kulit gagrak Jawatimuran. Berasal dari keluarga petani sederhana di Jerukkuwik, Desa Bareng, ia mulai tertarik pada wayang sejak kecil setelah menyaksikan pagelaran dalang Ki Suwadi dari Mojowarno. Sejak usia remaja, Ki Sareh belajar secara otodidak, kemudian berguru pada dalang-dalang senior seperti Ki Nartosabdho dan Ki Manteb Soedharsono.
Karirnya dimulai pada 1970-an dengan pagelaran kecil di desa-desa sekitar Jombang. Ia dikenal dengan suara yang khas, kemampuan improvisasi yang luar biasa, dan penguasaan lakon-lakon klasik Mahabharata serta Ramayana. Pada 2020, ia sempat menyalakan “pelita wayang” melalui pagelaran virtual selama pandemi, menunjukkan adaptasinya dengan zaman. Pagelaran di Klinterejo pada 5 Desember 2025 menjadi salah satu puncak karirnya, di mana ia memadukan elemen tradisional dengan sentuhan modern, seperti penggunaan proyektor untuk memperbesar bayangan bagi penonton di belakang.
Ki Sareh sering mengatakan, “Wayang bukan hanya seni, tapi cermin kehidupan. Di sini, kita belajar dari para pandawa dan kurawa tentang baik dan buruk.” Pengalamannya selama lebih dari 50 tahun membuatnya menjadi panutan bagi generasi muda dalang. Di Jombang, ia mendirikan sanggar wayang untuk melatih anak-anak, memastikan warisan ini tidak punah.
Situs Klinterejo terletak di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto, dan merupakan salah satu peninggalan penting dari era Majapahit. Ditemukan pada abad ke-19, situs ini mencakup area seluas sekitar 5 hektar dengan temuan arkeologi seperti struktur bata kuno, umpak batu, sumur tua, yoni, sandaran arca, jaladwara, dan balok batu. Yang paling menonjol adalah yoni dengan prasasti angka tahun 1294 Saka (setara dengan 1372 Masehi), yang diyakini menandai tahun meninggalnya Bhre Kahuripan.
Menurut arkeolog, situs ini dulunya adalah kompleks pemukiman atau petilasan kerajaan. Sebaran temuan menunjukkan pola pemukiman Majapahit, dengan sumur-sumur yang menandakan kehidupan sehari-hari. Pada 2014, situs ini sempat terbengkalai, tapi upaya pelestarian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah merevitalisasinya. Kini, Klinterejo menjadi destinasi wisata sejarah, terutama setelah penggalian baru pada 2023 yang mengungkap keterkaitannya dengan Situs Bhre Kahuripan.
Kompleks Bhre Kahuripan, yang berdekatan dengan Klinterejo, memiliki struktur unik seperti pagar bata berbentuk bintang delapan sudut, yang ditemukan melalui ekskavasi pada 2020. Arkeolog menduga ini adalah petilasan atau makam Tribhuwana, dengan hot spring kuno yang memberikan petunjuk tentang istana Majapahit yang hilang. Kedua situs ini sebenarnya satu kesatuan, seperti dinyatakan dalam laporan BPCB pada 2023, menunjukkan bahwa Klinterejo adalah ekstensi dari Bhre Kahuripan.
Salah satu elemen paling menarik dari pagelaran ini adalah posisi panggung wayang yang berada dalam satu garis lurus dengan Situs Klinterejo dan Situs Bhre Kahuripan. Susunan ini bukan kebetulan, melainkan dirancang untuk menyiratkan makna filosofis dalam budaya Jawa. Dalam tradisi Jawa, garis lurus sering melambangkan “sumbu filosofi,” seperti yang terlihat di Yogyakarta dengan garis imajiner dari Gunung Merapi, Keraton, hingga Laut Selatan. Garis ini melambangkan siklus hidup manusia: dari lahir (utara), hidup di dunia (tengah), hingga kematian dan kembali ke alam (selatan).
Di konteks Klinterejo, garis lurus ini bisa diartikan sebagai kesatuan antara masa lalu (Bhre Kahuripan sebagai simbol sejarah Majapahit), masa kini (Situs Klinterejo sebagai warisan yang dilestarikan), dan masa depan (panggung wayang sebagai medium pendidikan budaya). Filosofi ini mirip dengan “sirat al-mustaqim” dalam Islam Jawa, yang berarti jalan lurus menuju kebenaran, tapi diadaptasi dengan nilai-nilai lokal seperti harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Menurut Primbon Jawa, garis lurus juga melambangkan stabilitas, keberanian, dan keseimbangan emosi. Orang dengan garis tangan lurus diyakini memiliki kepemimpinan yang kuat, seperti Tribhuwana sendiri. Dalam pagelaran, Ki Sareh menyisipkan dialog tentang ini, di mana tokoh Semar mengajarkan bahwa “garis lurus adalah jalan kebijaksanaan, tanpa belok-belok yang membingungkan.”
Jalannya Pagelaran: Malam yang Penuh Hikmah
Acara dimulai dengan ruwatan, ritual pembersihan untuk mengusir energi negatif, diikuti pembukaan oleh pejabat setempat yang menekankan pentingnya pelestarian budaya. Ki Sareh naik panggung dengan pakaian tradisional, duduk di depan gunungan wayang. Lakon pertama, “Tribhuwana Menjadi Ratu,” menceritakan bagaimana Bhre Kahuripan naik tahta setelah kematian Jayanegara, dengan Gajah Mada sebagai pendukungnya.
Suara gamelan mengalun, sinden menyanyi tembang macapat, dan bayangan boneka menari di kelir. Penonton, dari anak kecil hingga lansia, terpaku. Ada momen lucu saat Petruk dan Gareng bergurau, tapi juga momen serius saat Tribhuwana berpidato tentang persatuan. Pagelaran berakhir dengan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam.
Secara keseluruhan, Pagelaran Wayang Kulit Mojopahitan pada 5 Desember 2025 adalah perpaduan sempurna antara seni, sejarah, dan filosofi. Ia mengingatkan kita bahwa budaya adalah garis lurus yang menghubungkan generasi, menuju masa depan yang harmonis.



