Kabupaten Jombang, sebuah wilayah di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, dikenal sebagai tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan tradisi. Terletak di persimpangan jalur lintas tengah dan selatan Pulau Jawa, Jombang memiliki posisi strategis yang menjadikannya pusat kegiatan sosial dan keagamaan. Dikenal sebagai “Kota Santri” karena banyaknya pondok pesantren yang menjadi pusat pendidikan Islam, Jombang juga memiliki warisan budaya yang beragam, mulai dari seni pertunjukan seperti ludruk hingga kerajinan tangan seperti manik-manik kaca. Pada tahun 2022, dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-112 Kabupaten Jombang, Bupati Mundjidah Wahab meluncurkan Busana Khas Jombang Deles, sebuah busana tradisional yang menjadi simbol identitas budaya daerah ini. Artikel ini akan membahas asal usul nama busana tersebut, siapa yang mengusulkannya, serta cara pemakaiannya secara mendalam.
Jejak Sejarah dan Budaya
Jombang bukan hanya sebuah kabupaten biasa; ia adalah perpaduan unik antara tradisi Jawa dan nilai-nilai Islam yang kuat. Kabupaten ini resmi berdiri pada tahun 1910, namun jejak sejarahnya dapat ditelusuri jauh ke masa Kerajaan Majapahit. Salah satu tokoh penting dalam sejarah Jombang adalah RAA Soeroadiningrat V, bupati pertama yang meletakkan dasar pembangunan daerah ini. Selain itu, Jombang juga dikenal sebagai tempat kelahiran tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang memperkuat identitasnya sebagai pusat pendidikan Islam.
Budaya Jombang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, termasuk pakaian tradisional. Sebelum adanya Busana Khas Jombang Deles, masyarakat Jombang biasanya mengenakan pakaian adat Jawa seperti kebaya, jarik, dan blangkon pada acara-acara tertentu. Namun, pada tahun 2022, pemerintah daerah mengambil langkah besar dengan meresmikan busana khas yang dirancang khusus untuk merepresentasikan identitas Jombang. Busana ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat dengan makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai lokal.
Peluncuran Busana Khas Jombang Deles: Momen Bersejarah
Pada tanggal 21 Oktober 2022, bertepatan dengan Hari Jadi ke-112 Kabupaten Jombang, Bupati Mundjidah Wahab meluncurkan Busana Khas Jombang Deles dalam sebuah upacara megah di Alun-Alun Kabupaten Jombang. Peluncuran ini juga berbarengan dengan peringatan Hari Jadi ke-77 Provinsi Jawa Timur dan Hari Santri Nasional, menambah makna simbolis pada acara tersebut. Dalam acara ini, Bupati Mundjidah Wahab, Wakil Bupati Sumrambah, serta para pejabat daerah lainnya tampil mengenakan busana tersebut, diikuti oleh peragaan busana oleh generasi muda Jombang.
Dalam sambutannya, Bupati Mundjidah Wahab menyampaikan bahwa busana ini adalah wujud nyata dari upaya pelestarian budaya. “Busana ini bukan sekadar pakaian, melainkan simbol dari identitas, sejarah, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi. Ini adalah pengingat akan siapa kita dan dari mana kita berasal,” ujarnya. Masyarakat Jombang menyambut peluncuran ini dengan antusias, melihatnya sebagai langkah untuk memperkuat kebanggaan akan warisan budaya mereka di tengah arus globalisasi yang kian pesat.
Desain dan Ciri Khas Busana Jombang Deles
Busana Khas Jombang Deles dirancang dengan menggabungkan elemen tradisional Jawa dan sentuhan khas Jombang. Busana ini terdiri dari dua varian utama: untuk pria dan wanita, masing-masing dengan detail yang mencerminkan identitas budaya daerah.
Asal Usul Nama “Jombang Deles”
Nama “Jombang Deles” memiliki makna yang mendalam dan mencerminkan esensi budaya daerah. Kata “Deles” dalam bahasa Jawa berarti “murni” atau “asli,” menunjukkan bahwa busana ini adalah representasi otentik dari identitas Jombang. Nama ini dipilih untuk menegaskan bahwa busana tersebut benar-benar mencerminkan kearifan lokal, bebas dari campur tangan pengaruh luar yang dapat mengaburkan karakter aslinya.
Selain itu, “Deles” juga melambangkan keutuhan dan harmoni, nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jombang. Dengan menyematkan nama “Jombang Deles,” busana ini menjadi simbol persatuan dan kebanggaan kolektif, mengingatkan warga akan akar budaya mereka yang kaya dan autentik.

Pengusul Busana Khas Jombang Deles
Busana Khas Jombang Deles diusulkan oleh Bupati Jombang, Hj. Mundjidah Wahab, sebagai bagian dari visi kepemimpinannya untuk melestarikan budaya lokal. Sejak menjabat sebagai bupati, Mundjidah Wahab telah menunjukkan komitmen kuat untuk mengangkat potensi Jombang, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun budaya. Peluncuran busana ini adalah salah satu wujud nyata dari upaya tersebut.
Proses penciptaan busana ini melibatkan kolaborasi dengan seniman, budayawan, dan perancang busana lokal. Mereka bekerja sama untuk merancang busana yang tidak hanya indah, tetapi juga sarat dengan makna yang mencerminkan sejarah dan nilai-nilai Jombang. Inisiatif ini mendapat dukungan luas dari masyarakat dan menjadi salah satu pencapaian penting dalam masa kepemimpinan Mundjidah Wahab.
Simbolisme dan Filosofi di Balik Busana
Setiap elemen dalam Busana Khas Jombang Deles memiliki makna filosofis yang kaya, mencerminkan identitas dan sejarah Jombang.
Udheng Blangkon Sundhul Mego
Penutup kepala pria ini melambangkan sifat egaliter dan toleransi masyarakat Jombang. Nama “Sundhul Mego” terinspirasi dari karakter Patih dalam cerita Wayang Topeng Jatiduwur, sebuah kesenian tradisional Jombang yang mengisahkan kebijaksanaan dan kepemimpinan.
Jas Gulon Dwi Gatra
Jas pria dinamai setelah RAA Soeroadiningrat V, bupati pertama Jombang, sebagai bentuk penghormatan atas jasanya. “Dwi Gatra” merujuk pada dua pilar: kepemimpinan dan pengabdian, yang menjadi landasan masyarakat Jombang.
Kemodoningrat Pati
Busana wanita ini mengambil nama dari Dewi Kemodoningrat, tokoh dalam Wayang Topeng Jatiduwur yang dipercaya sebagai pendiri Dusun Kemodo di Jombang. Nama ini melambangkan keanggunan, kekuatan, dan warisan budaya.
Warna-warna dalam busana ini juga memiliki makna:
- Putih: Kesucian dan spiritualitas, mencerminkan identitas Jombang sebagai Kota Santri.
- Hijau: Pertumbuhan dan harmoni, menggambarkan keindahan alam Jombang.
- Merah: Keberanian dan semangat, simbol dari jiwa masyarakat Jombang.
Cara Pemakaian Busana Khas Jombang Deles
Mengenakan busana ini membutuhkan perhatian terhadap detail untuk menjaga estetika dan makna budayanya.
Busana Pria
- Jas Gulon Dwi Gatra: Kenakan jas putih di atas kemeja putih, kancingkan rapi, dan pastikan motif batik pada lengan terlihat jelas.
- Udheng Blangkon Sundhul Mego: Ikat udheng di kepala dengan blangkon di dahi, lipat dan kencangkan dengan rapi.
- Celana dan Bebet: Kenakan celana hitam, lalu lilitkan bebet di pinggang dengan motif Tapih Kudawaningpati menghadap depan.
Busana Wanita
- Kemodoningrat Pati: Kenakan gaun dengan jarik dililitkan di pinggang, susun sampiran jarik di depan dengan rapi.
- Kerudung: Gunakan sebagai jilbab atau selendang, sesuaikan dengan preferensi, pastikan melengkapi keanggunan busana.
Busana ini harus dikenakan dengan penuh kebanggaan, mencerminkan nilai-nilai tradisi dan persatuan.
Makna dan Penggunaan di Masa Depan
Busana Khas Jombang Deles adalah langkah besar dalam melestarikan budaya Jombang. Bupati Mundjidah Wahab merencanakan agar busana ini menjadi seragam wajib bagi ASN setiap hari Kamis dan digunakan pada acara-acara khusus seperti Hari Jadi Kabupaten Jombang. Busana ini juga menjadi alat pendidikan budaya bagi generasi muda, memastikan warisan ini terus hidup.
Sebagai kesimpulan, Busana Khas Jombang Deles adalah simbol identitas, sejarah, dan harapan Jombang. Dengan desainnya yang indah dan maknanya yang mendalam, busana ini mengabadikan kekayaan budaya Jombang untuk masa depan.
Pakaian adat merupakan ciri khas suatu daerah yang mencerminkan sejarah dan mewakili budaya lokal yang berkembang di kalangan masyarakat yang bersangkutan. Dewasa ini, pakaian adat tak melulu melingkupi area provinsi tapi juga makin mengerucut ke tiap kota/ kabupaten. Beberapa kawasan di Jawa Timur bahkan sudah memiliki busana adat yang mewakili ciri khas kotanya. Kini, Jombang juga ingin menunjukkan ciri khas kebudayaan dengan busana adat yang mewakili karakter masyarakat yang berlandaskan nuansa SANTRI sesuai dengan slogannya yang BERIMAN.
Busana Khas Pria Jombangan
Udeng/Blangkon Sundhul Mego
Deskripsi Rancangan Penutup Kepala / Blangkon
Konon, penggunaan ikat kepala sudah sejak awal terbentuknya budaya Jawa.Dahulu, masyarakat Jawa sudah memakai penutup kepala dari lilitan kain yang melingkar dan bagian atas terbuka.Kemudian, istilah blangkon muncul untuk menyebut ikat kepala instan atau ikat kepala siap pakai. Diceritakan dalam legenda bahwa dahulu Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, raksasa penguasa tanah Jawa dengan membentangkan penutup kepala untuk menutupi seluruh tanah Jawa. Namun, dalam kisah tidak diceritakan secara jelas ukuran, lebar, dan jenis kain penutup kepala tersebut.Entah berupa kain seperti blangkon atau tidak.
Menurut catatan sejarah, masyarakat Islam keturunan Arab dari Gujarat masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan.Namun, saat itu penganut Islam sangat sedikit karena kerajaan Hindu dan Budha masih memegang kekuasaan dan berjaya. Ada teori berpendapat bahwa kebiasaan memakai blangkon berawal dari akulturasi atau penyerapan budaya Hindu dan Islam oleh masyarakat Jawa.Terlihat para pedagang Gujarat kerap melilit kain lebar dan panjang di kepala, yakni surban.Hal ini kemudian menginspirasi masyarakat Jawa untuk memakai ikat kepala seperti yang dilakukan orang-orang Arab pada saat itu.
Kabarnya, sejarah kehadiran blangkon berawal dari pencetus bernama Ki Ageng Giring yang merupakan sesepuh keluarga Keraton Mataram. Zaman dahulu, para penyebar agama Islam yang memasuki tanah Jawa memiliki rambut panjang. Mereka enggan memotong rambut karena menganggap bahwa rambut merupakan anugerah-Nya sehingga akan mengingkari sang kuasa bila memotongnya. Sementara di budaya Jawa, tidak ada lelaki yang berambut panjang. Karenanya, Ki Ageng Giring mencetuskan untuk menutup rambut dengan ikat kepala. Seiring perkembangan zaman, ikat kepala ini pun berubah nama menjadi blangkon.
Mondolan atau bentuk bulat yang ada di belakang blangkon merupakan wujud ikatan rambut para penyebar Islam yang sekarang digunakan blangkon masyarakat Yogyakarta yang disebut iket. Di Solo, mondolan tidak berbentuk bulat, melainkan sedikit gepeng karena para pengikut ajaran Islam di sana telah memotong rambutnya. Meski begitu, mereka tetap memakai ikat kepala yang sudah menjadi budaya.Sama halnya di Jawa Timur bahwa blangkon yang biasa dipakai busana adat para dalang dan pengrawitnya tidak menggunakan mondolan dan cenderung berbentuk kecil dan gepeng.
Menurut Ki Sareh (asal Bareng Jombang), Ki Suwadi (asal desa Grobogan Mojowarno Jombang), Pak Mulyono (pengrawit asal Peterongan Jombang), dan Ki Prawito almarhum (asal Tejo Mojoagung Jombang) awal mula blangkon berasal dari udeng / kain lembaran 1 x 1 m2 diikatkan di kepala secara manual, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menggunakan penutup kepala. Supaya lebih simpel maka dibuatlah blangkon permanen/kain lembaran tersebut dipotong-potong sesuai dengan bentuk ikat kepala yang disebut dengan Blangkon Jawa Timuran.
Blangkon Jawa Timuran ini memiliki bentuk yang berbeda dengan blangkon di daerah lain karena tidak menggunakan mondolan Yogyakarta maupun Surakarta. Disisi lain terdapat Poncot di depan yang mengarah ke atas serta berbentuk agak kotak hampir mirip dengan kopyah. Blangkon ini sering digunakan adalah para dalang dan pengrawit wayang kulit gaya Jawa Timuran atau gaya jek-dong/cek-dong yang dahulu wayang kulit Jawa Timuran ini disebut gaya Mojopahitan serta pamong jaman dulu.
Berdasarkan keterangan tersebut maka diusulkan Blangkon tersebut menjadi penutup kepala Busana Adat khas Jombang yang kemudian diberi tambahan Poncot Wingking (Poncot Belakang) yang lebih tinggi dari poncot Ngarsa/poncot ngarep dan berjumlah 2 (dua) seperti poncot udeng para seniman ludruk Jombang. Bentuk tersebut diusulkan karena ingin tetep nguri-uri atau ngurip-urip tinggalan para leluhur yang digunakan oleh beberapa orang Jombang dulu hingga sekarang.
Bagian Blangkon
- Poncot Ngarsa / Ngarep mengarah keatas, terletak di tengah persimpangan blangkon seperti menggunakan sorban disilangkan serta berbentuk :
a. seperti Sekar Kanthil / Bunga Kantil dari dua kata atau disebut Jarwa dhosok Kanthi Laku yang berarti semua cita-cita harus didasari ikhtiar dengan ikhlas. Manfaat bunga kantil untuk kesehatan di antaranya untuk mengatasi radang gusi, menjaga kesehatan gigi, meredakan stres, meringankan gejala menopause, meredakan cemas, hingga membantu menurunkan berat badan
b. Seperti kayon/gunungan sebagai lambang kekuatan angin/napas yang berarti ketika engkau masih bernafas maka semua keinginan harus atas dasar kehendak yang kuasa.
c. Kayon/gunungan ymbo ditarik garis lurus akan berbentuk segitiga yang terdapat tiga sudut yang diartikan ada manusia yang harus mencintai rasulnya dan untuk satu tujuan yaitu semua yang dilakukan hanya untuk sang pencipta.
- Poncot Wingking / belakang berjumlah 2 (dua) mengarah keatas, terletak dibagian belakang blangkon berada di tengah, dan berbentuk seperti Poncot Ngarsa. Sebagai simbol pengingat bahwa kita ada di dunia karena melalui perantara orang tua kita. Serta sebagai pengingat bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan pasangannya, ada gelap dan terang, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, senang dan sedih, danlain-lain.
-
Plipitan merupakan bagian tepi namun bagian atas kepala sebagai tanda persilangan supaya simbol seperti bersorban dan diberi motif jombangan seperti sulur simbol t, motif yang ada di candi Arimbi, sebagai ciri simbol Jombangan.
-
Wiron Sinom merupakan lipatan kain udeng yang dibentuk seperti wiru jarik orang jawa sebagai simbol rambut sinom (rambut yang sangat lembut terletak dipangkal rambut bagian depan) sebagai simbol lembut atau kalem atau kehalusan dalam berfikir.
-
Kupingan yang ujungnya mengarah kekiri dan kekanan dan berbentuk seperti pedang. Sebagai ymbol pengingat selalu memotong informasi untuk dipilah mana yang baik dan mana yang buruk.
-
Bundhelan artinya ikatan, memiliki arti bahwa semua hal di atas harus kita ikat pada diri kita sebagai pegangan hidup.
Jas Gulon Dwigatra
Jas Gulon Dwigarta merupakan busana atasan pria. Dipilih desain jas karena mengikuti pola busana adat Jawa yang cenderung menggunakan jas untuk busana atasannya. Bagian Jas Gulon Dwigartra ini menjadi titik pembeda dengan busana adat dengan daerah lain di Jawa Timur. Jas gulon bermakna memakai kerah tegak, untuk membedakan dengan model potong gulon atau pun desain teluk belanga.
Jas Gulon Dwigatra sebagai pembeda dengan bentuk Jas Mataraman dan Jas Jawa Timuran atau sering disebut jas Basofi. Sedangkan dwigatra adalah bertemunya dua gatra budaya menurut pemetaan sejarawan dan budayawan almarhum Prof. Ayu Sutarto, yaitu gatra budaya Mataraman (Pracima) dan gatra budaya Arek (purwa) .
Tapih Kudawaningpati
Tapih adalah istilah untuk busana bagian bawah pria. Istilah tapih yang artinya kain atau busana bawah sudah dipakai sejak era Mataram Kuna Medang. Tapih Kudawaningpati untuk menunjukkan busana laki-laki Jombang Deles.
Nama Tapih Kudawaningpati diambil dari tokoh dalam cerita Panji Wayang Topeng Jatiduwur yang diduga peninggalan Majapahit. Sejarah Majapahit juga tak lepas dari sejarah yang ada di Jombang sebagai latar belakang kota santri Jombang BERIMAN.
Raden Panji Kudawaningpati merupakan sosok yang dipercaya sebagai pembabat Dusun Wonoayu, Desa Dukuhmojo, Mojoagung. Panji Kudawaningpati dipercaya sebagai putra mahkota kerajaan Jenggala yang wilayahnya masuk Jombang bagian timur kini.
Tampilan Tapih Kudawaningpati berupa gabungan dari celana dan sarung atau celarung. Bagian bawah busana laki-laki Jombang Deles ini terdapat kain jarik yang memiliki sampiran kain penutup di bagian depan seperti jarik pada umumnya. Bagian depan dibuat bukaan samping kiri untuk menghadap posisi pasangan busana putri yang menghadap sebaliknya. Terdapat aksen batik Jombangan yang sudah dirancang oleh tim di bagian depan sebagai ciri khas busana bawahan ini.
Tapih celarung ini mewakili sarung sebagai bagian dari pakaian santri yang menjadi ciri khas Jombang, namun juga dipadu dengan celana yang mewakili tampilan modern. Keduanya digabung menjadi satu untuk tampilan santri tapi juga resmi, sekaligus memenuhi kebutuhan kenyamanan bagi pemakainya.
Selop Canelo
Selop adalah bentuk alas kaki seperti sepatu sandal. Bentuk ini mengikuti pola alas kaki yang digunakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya yang sering muncul pada tampilan busana adat pria. Dalam bahasa Jawa Kuna disebut Canela (baca: Canelo). Bermakna dalam setiap langkah harus bersumber (menggantungkan diri) pada hati yang tulus suci. Istilah canelo bisa diartikan cantolna ing telenging nala (gantungkan pada tengah hati).
Busana Khas Perempuan Jombangan
Busana Putri Kemodoningrat
Busana wanita dalam pakaian adat Jombang Deles dinamai dengan Kemodoningrat. Nama Dewi Kemodoningrat adalah nama lain Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana istri Panji Asmara bangun alias Inu Kertapati atau Panji Kudawaningpati. Dewi Kemodoningrat juga nama tokoh dalam Wayang Topeng Jatiduwur. Dewi Kemodoningrat juga dipercaya sebagai pembabat Dusun Kemodo, desa Dukuhmojo, Mojoagung.
1. Kudung, Jilbab, sanggul.
Kepala wanita mengenakan kerudung polos yang senada dengan warna bajunya. Warna yang disepakati adalah hijau botol yang mencerminkan islam sebagai agama mayoritas di Jombang, juga bentuk perwakilan warna santri. Bagian kerudung ini sebagai penutup kepala sesuai dengan ciri khas kota Santri Jombang BERIMAN. Model kerudung berupa selendang yang dikenakan sebagai penutup kepala, seperti busana adat Jawa Timur pada umumnya.
2. Bayak Landung
Kebaya merupakan busana adat Jawa yang juga menjadi bagian busana yang dipakai oleh wanita Jombang pada umumnya. Catatan kolonial dan potret kuno juga menampilkan kebaya sebagai baju atasan yang dikenakan oleh wanita Jawa termasuk perempuan Jombang. Istilah Bayak, merupakan singkatan dari kebaya. Bayak lebih sering digunakan oleh masyarakat Jombang untuk menyebut atasan wanita jawa berupa kebaya. Model Kutubaru dimodifikasi dengan aksen lancip ke bawah, menjadi ciri khas Jombang dan menyelaraskan model busana Jas Gulon Dwigatra.
Landung maknanya panjang. Bentuknya juga memang panjang hingga sekitar selutut sebagai bentuk kesantunan perempuan Jombang yang selalu berlandaskan pakaian Santri. Nama bayak landung dipilih agar tidak mengadopsi istilah baju kurung yang sudah menjadi busana tradisi daerah atau pulau lain, contohnya pulau Sumatera.
3. Slendang Pathi
Selendang menjadi pelengkap busana wanita dalam busana adat Jombang Deles karena unsur keanggunannya. Meski sudah mengenakan kerudung atau jilbab, dengan mengenakan selendang, para wanita jadi lebih cantik dan memancarkan aura perempuan Jawa yang mempesona. Selendang bisa dikenakan seperti pasmina, atau disampirkan di salah satu pundak sehingga menampilkan kibaran kain yang anggun.
Nama slendang pathi dipilih karena juga ditemukan dalam folklor asal-usul nama desa Tengaran, kecamatan peterongan. Ketika seorang pendekar wanita bernama Nini Gariyah yang membantu Raja Mpu Sindok yang menyeberangi bengawan Warantas (kali Brantas) dengan bantuan jembatan selendang pathi.
4. Tapih Kemodoningrat
Tapih Kemodoningrat adalah penyebutan untuk pakaian bawah perempuan dalam busana Jombang Deles. Nama Kemodoningrat dipilih sebagi bagian dari sejarah Dewi Kemodoningrat. Dewi Kemodoningrat adalah nama lain Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana istri Panji Asmara bangun alias Inu Kertapati atau Panji Kudawaningpati. Dewi Kemodoningrat juga nama tokoh dalam Wayang Topeng Jatiduwur. Dewi Kemodoningrat juga dipercaya sebagai pembabat Dusun Kemodo, desa Dukuhmojo, Mojoagung.
Bagian bawah busana perempuan Jombang Deles ini berupa kain jarik yang memiliki sampiran kain penutup di bagian depan seperti jarik wanita pada umumnya. Bagian depan dibuat bukaan samping kanan untuk menghadap posisi pasangan busana putra yang menghadap sebaliknya. Terdapat aksen batik Jombangan yang sudah dirancang oleh tim di bagian depan sebagai ciri khas busana bawahan ini.
Terdapat alternatif desain Tapih Kudawaningpati berupa gabungan dari celana dan sarung atau celarung seperti bagian bawahan putra pasangannya. Hal ini diberikan sebagai opsi bagi para wanita yang ingin mengenakan busana yang praktis dan ringkas sehingga tidak menghambat mobilitas dalam beraktivitas.
Bawahan celarung ini mewakili sarung sebagai bagian dari pakaian santri yang menjadi ciri khas Jombang, namun juga dipadu dengan celana yang mewakili tampilan modern. Keduanya digabung menjadi satu untuk tampilan santri tapi juga resmi, sekaligus memenuhi kebutuhan kenyamanan bagi pemakainya.
5. Selop canelo
Selop adalah bentuk alas kaki seperti sepatu sandal. Bentuk ini mengikuti pola alas kaki yang digunakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya yang sering muncul pada tampilan busana adat pria. Dalam bahasa Jawa Kuna disebut Canela (baca: Canelo). Bermakna dalam setiap langkah harus bersumber (menggantungkan diri) pada hati yang tulus suci. Istilah canelo bisa diartikan cantolna ing telenging nala (gantungkan pada tengah hati). Tampilan ini bisa diberi hiasan tumpal atau segitiga terbalik yang diambil dari motif ngremo atau Candi Rimbi.
Penggunaan busana ini sebagai bentuk tampilan adat yang mewakili budaya dan sejarah masyarakat Jombang. Dari tampilan ini diharapkan Jombang memiliki ciri khas khusus yang berbeda, tak sekedar mengekor pada busana Jawa Timur Pada umumnya.


