Kesenian Jaran Kepang Jawa Timur yang Berkembang di Kota Batu: Warisan Budaya, Magis, dan Identitas

Kota Batu, yang dikenal sebagai Kota Wisata di Jawa Timur, tidak hanya menyimpan keindahan alam pegunungan, tetapi juga kesenian tradisional yang sangat kuat: Jaran Kepang atau Jathilan. Di kota ini, Jaran Kepang bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ritual adat, upacara bersih desa, sedekah bumi, dan bahkan penyambutan tamu besar. Pertunjukan yang penuh trance, atraksi ekstrem makan beling, jalan di atas bara, cambuk api, serta iringan gamelan yang menghentak membuat Jaran Kepang Batu menjadi salah satu yang paling terkenal di Indonesia.

Artikel ini akan membahas secara mendalam kesenian Jaran Kepang Jawa Timur yang berkembang di Kota Batu, mulai dari sejarah kelahirannya, ragam perkembangannya di berbagai kota, ciri khasnya dibanding Jaran Dor Jombangan dan Jaran Sentherewe Kediri, peran budayanya, upaya pelestarian, hingga hambatan inovasi di era modern.

Sejarah Kelahiran Kesenian Jaran Kepang Jawa Timur

Jaran Kepang, disebut juga Jathilan, Kuda Lumping, atau Ebeg di Jawa Tengah, lahir sebagai seni pertunjukan yang menggabungkan unsur ritual animisme, pengaruh Hindu-Buddha, dan Islam. Asal-usulnya dapat ditelusuri hingga abad ke-16 pada masa Kerajaan Mataram Islam. Menurut legenda populer, kesenian ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan para wali lainnya sebagai media dakwah Islam yang disesuaikan dengan budaya lokal.

Cerita yang paling sering diceritakan di Jawa Timur adalah kisah perjuangan Pangeran Diponegoro (1825–1830) melawan Belanda. Para prajurit Diponegoro yang kehilangan kuda perang tetap berlatih dengan anyaman bambu berbentuk kuda. Mereka menari dengan penuh semangat hingga masuk ke dalam kondisi trance (ndadi atau kesurupan) untuk membuktikan bahwa semangat jihad tidak pernah padam meski tanpa kuda sungguhan. Dari sinilah muncul istilah “jaran kepang” (kuda dari anyaman bambu).

Di Jawa Timur, Jaran Kepang mulai menyebar luas pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 melalui komunitas santri dan abangan di pedesaan. Pada masa itu, pertunjukan masih sangat ritualistik: dilakukan hanya pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon, dipimpin oleh dukun atau pawang yang membaca mantra-mantra Jawa kuno bercampur ayat Al-Qur’an. Trance dianggap sebagai bentuk komunikasi dengan leluhur atau roh penjaga desa.

Di Kota Batu sendiri, Jaran Kepang mulai berkembang pesat sejak tahun 1950-an, terutama di desa-desa seperti Desa Tulungrejo, Punten, Torongrejo, Sumberejo, dan Pesanggrahan. Kelompok-kelompok seperti Turonggo Satria Muda (Punten), Turonggo Mudho (Tulungrejo), dan Jaran Kepang Temenggung (Pesanggrahan) menjadi pelopor yang hingga kini masih aktif.

Ragam Perkembangan Jaran Kepang Jawa Timur di Berbagai Kota

Jaran Kepang Jawa Timur memiliki ragam gaya yang sangat kaya karena masing-masing daerah mengembangkan ciri khasnya sendiri:

  • Kota Batu & Kabupaten Malang: gaya “Batu-Malang” terkenal dengan trance yang sangat ekstrem (makan kaca, menyilet lidah, berjalan di atas bara api, mandi air panas). Musiknya menggunakan gamelan pélog yang cepat dan keras, dengan banyak bonang dan saron.
  • Tulungagung & Trenggalek: lebih lembut dan artistik, trance-nya tidak terlalu keras, banyak gerakan tari yang halus, sering disebut “Jaran Kepang gaya Selatan”.
  • Jombang: dikenal sebagai “Jaran Dor” (dibahas lebih lanjut di bawah).
  • Kediri: “Jaran Sentherewe” dengan iringan musik campuran saronen dan gamelan.
  • Ponorogo: meskipun lebih terkenal Reog, ada juga Jaran Kepang yang sering digabung dengan elemen Reyog (barongan kecil).
  • Lamongan & Bojonegoro: gaya “Jaran Buto” yang sangat besar (kuda kepangnya lebih tinggi dan berat), penarinya sering masuk trance massal.

Di Kota Batu, sejak tahun 1990-an mulai muncul dualisme: ada kelompok yang tetap mempertahankan gaya ritual (hanya tampil untuk hajat desa) dan kelompok yang mulai mengarah ke pertunjukan seni panggung untuk wisata. Kelompok Turonggo Jakartansari (Desa Sidomulyo) bahkan pernah tampil di Istana Negara pada tahun 2018 dan di Asian Games 2018 sebagai representasi Jawa Timur.

Ciri Khas Jaran Kepang Kota Batu Dibanding Jaran Dor Jombangan dan Jaran Sentherewe Kediri

Meskipun sama-sama dari Jawa Timur, ketiga aliran ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok:

  1. Jaran Kepang Batu-Malang
    • Trance sangat ekstrem dan atraksi bahaya tinggi (makan beling, jalan di bara, cambuk api, mandi air mendidih).
    • Musik: gamelan pélog nem dan barang, irama cepat dan keras.
    • Kostum: warna-warna cerah (merah, kuning, hitam), topeng barongan kecil (celengan), celana pendek, kaos oblong.
    • Pawang menggunakan bahasa Jawa kuno campur Arab pegon.
    • Durasi trance bisa sampai 1–2 jam, penari sering “ngamuk” dan harus ditenangkan dengan ritual khusus.
  2. Jaran Dor Jombangan
    • Hampir tidak ada trance ekstrem. Penari tetap sadar penuh.
    • Musik: bonang besar (dor), irama lebih lambat dan megah.
    • Gerakan lebih teratur, formasi rapi seperti baris-berbaris prajurit.
    • Kostum menyerupai prajurit keraton (beskap, blangkon, keris).
    • Lebih menekankan pada keindahan tari dan formasi, bukan kesurupan.
  3. Jaran Sentherewe Kediri
    • Menggunakan alat musik saronen (semacam terompet dari kayu) sebagai ciri khas utama.
    • Trance ada, tetapi lebih terkontrol dan tidak terlalu berbahaya.
    • Banyak gerakan silat dan tari yang halus.
    • Kostum lebih Islami (sarung, peci, baju koko).
    • Sering dikaitkan dengan tradisi santri dan haul Sunan Kudus/Kalijaga.

Jadi, jika Jaran Dor lebih “keraton” dan artistik, Jaran Sentherewe lebih “santri”, maka Jaran Kepang Batu adalah yang paling “primitif-magis” dan penuh daya ledak spiritual.

Peran Jaran Kepang sebagai Ekspresi Budaya Tradisi di Kota Batu

Di tengah hiruk-pikuk wisata modern Kota Batu, Jaran Kepang tetap berdiri tegak sebagai napas budaya yang paling hidup dan otentik. Kesenian kuda lumping khas lereng Gunung Panderman ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan cerminan lengkap identitas masyarakat Batu: ritual, hiburan, keberanian, pendidikan, sekaligus daya tarik pariwisata. Kelima peran itu saling terkait, membuat Jaran Kepang menjadi salah satu ekspresi budaya tradisi yang paling kaya makna di Jawa Timur.

Pertama, fungsi ritual dan spiritual masih menjadi jantung utama Jaran Kepang hingga hari ini. Di desa-desa seperti Punten, Tulungrejo, Torongrejo, Pesanggrahan, dan Sidomulyo, pertunjukan hanya boleh digelar pada hari-hari tertentu, terutama Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Masyarakat mempercayai bahwa saat penari masuk trance (ndadi), roh leluhur atau jin penjaga desa merasuki tubuh mereka. Melalui mulut penari yang kesurupan itulah petuah, peringatan, atau permintaan sesaji disampaikan. Acara bersih desa, sedekah bumi, ruwatan sukerta, bahkan tolak bala bencana gunung selalu mengundang kelompok Jaran Kepang. Bagi warga Batu, pertunjukan ini adalah “dialog” langsung dengan dunia gaib yang menjaga keselamatan kampung.

Kedua, sebagai hiburan rakyat, Jaran Kepang tidak pernah absen dalam siklus kehidupan masyarakat. Khitanan, pernikahan, turun tanah bayi, hingga syukuran panen apel selalu diramaikan irama bonang dan saron yang menghentak. Pada malam 17 Agustus, Alun-alun Kota Batu sering dipenuhi warga yang menonton atraksi makan beling, jalan di atas bara api, atau penari yang “ngamuk” hingga harus ditenangkan pawang. Bagi generasi tua, suara gamelan pélog itu adalah nostalgia masa kecil; bagi anak muda, ia menjadi ajang pamer keberanian dan solidaritas kampung.

Ketiga, Jaran Kepang adalah simbol identitas lokal yang sangat kuat. Masyarakat Batu yang hidup di lereng gunung dikenal keras, pemberani, dan “ora minggir” (tak pernah mundur). Mentalitas ini tercermin sempurna dalam atraksi-atraksi ekstrem: penari yang memakan kaca, menyilet lidah, berjalan di atas bara, atau menahan cambuk api tanpa luka berarti. Bagi warga Batu, trance bukan hanya kesurupan, melainkan bukti bahwa manusia bisa melampaui batas fisik jika “dikuatkan” oleh leluhur. Inilah yang membuat Jaran Kepang Batu berbeda dengan daerah lain yang lebih lembut—ia adalah pernyataan: “Kami orang gunung, kami tak kenal takut.”

Keempat, Jaran Kepang berfungsi sebagai pendidikan karakter sejak dini. Anak-anak laki-laki mulai dilatih sejak usia 7–10 tahun. Mereka belajar disiplin (harus datang latihan tiap malam), kerja sama (formasi harus rapi), keberanian (harus siap trance kapan saja), dan rasa hormat pada leluhur serta pawang. Proses latihan yang keras—berlatih di bawah guyuran hujan, berpuasa mutih, atau duduk bersila berjam-jam—membentuk karakter tangguh. Banyak mantan penari Jaran Kepang yang kini menjadi polisi, TNI, atau pengusaha sukses mengaku mental baja mereka ditempa di sanggar kuda kepang.

Kelima, sejak 2010-an, Jaran Kepang telah menjadi aset pariwisata budaya yang sangat berharga bagi Kota Batu. Pertunjukan rutin digelar di Alun-alun Kota Batu setiap akhir pekan, di Jatim Park 2, Museum Angkut, BNS (Batu Night Spectacular), bahkan di hotel-hotel berbintang. Kelompok seperti Turonggo Jakartansari, Turonggo Satria Muda, dan Jaran Kepang Temenggung sering diundang tampil di luar negeri (Malaysia, Singapura, Brunei). Pemerintah Kota Batu secara resmi menetapkan Jaran Kepang sebagai ikon kesenian kota dan mengadakan Festival Jaran Kepang tahunan yang diikuti puluhan kelompok. Wisatawan domestik maupun mancanegara terpukau melihat manusia “kehilangan akal” demi seni, lalu pulang membawa cerita tentang “kuda kepang ajaib dari Kota Batu”.

Kelima peran ini saling menguatkan: ritual memberi kekuatan spiritual, hiburan mempererat kebersamaan, identitas membangun kebanggaan, pendidikan melahirkan generasi tangguh, dan pariwisata memberi nafkah serta pengakuan. Inilah yang membuat Jaran Kepang tidak pernah benar-benar “mati” meski zaman terus berubah. Ia tetap hidup karena masih dibutuhkan—bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai cara masyarakat Batu memahami diri mereka sendiri, leluhur mereka, dan tempat mereka di dunia.

Di tengah gemerlap lampu neon dan wahana modern, dentuman bonang Jaran Kepang terus mengingatkan: di balik wajah wisata yang ramah, Kota Batu masih menyimpan jiwa gunung yang liar, mistis, dan tak pernah benar-benar jinak. Itulah esensi budaya tradisi yang sejati—ia tidak hanya dipentaskan, ia dihidupi.

Usaha Melestarikan Jaran Kepang di Kota Batu

Di tengah ancaman modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, Kota Batu justru menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga Jaran Kepang tetap hidup dan relevan. Sejak tahun 2015, pemerintah, sanggar, sekolah, hingga anak muda secara bersama-sama membangun ekosistem pelestarian yang solid dan kreatif.

Langkah paling strategis dilakukan oleh Pemerintah Kota Batu dengan mencanangkan Jaran Kepang sebagai ikon kesenian resmi kota sejak 2015. Setiap tahun, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu menggelar Festival Jaran Kepang se-Kota Batu yang diikuti 30–50 kelompok dari seluruh kecamatan. Festival ini tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga sarana regenerasi: setiap kelompok wajib menurunkan minimal 30 % penari di bawah usia 18 tahun. Pemenang festival mendapat bantuan dana perawatan alat musik dan kostum dari APBD, sehingga sanggar kecil di desa terpencil pun tetap bertahan.

Sanggar-sanggar menjadi tulang punggung pelestarian sehari-hari. Turonggo Satria Muda (Punten), Turonggo Jakartansari (Sidomulyo), Jaran Kepang Temenggung (Pesanggrahan), Jaran Kepang Karya Bhakti (Tulungrejo), dan puluhan sanggar lain rutin latihan dua hingga tiga kali seminggu, bahkan saat musim hujan. Mereka aktif merekrut anggota baru dari kalangan pelajar SMP dan SMA melalui program “open recruitment” tiap awal tahun ajaran. Tak jarang, latihan diakhiri dengan makan bersama sederhana demi menjaga rasa kekeluargaan. Beberapa sanggar memberikan insentif kecil berupa uang transport dan konsumsi agar anak-anak tetap rajin datang.

Dinas Pendidikan Kota Batu memberikan dukungan resmi dengan memasukkan ekstrakurikuler Jaran Kepang di sejumlah sekolah negeri, antara lain SMPN 1 Batu, SMPN 2 Batu, SMKN 1 Batu (jurusan pariwisata), dan SMAN 1 Batu. Pelajaran dilakukan satu kali seminggu dengan pelatih dari sanggar senior. Sekolah menyediakan ruang latihan dan sebagian alat musik, sementara siswa yang berprestasi di festival tingkat kota mendapat tambahan nilai seni budaya. Program ini berhasil: pada tahun 2024, lebih dari 600 siswa aktif menjadi penari Jaran Kepang di sekolah-sekolah tersebut.

Era digital dimanfaatkan secara maksimal. Hampir setiap kelompok besar memiliki kanal YouTube dan akun Instagram resmi. Turonggo Jakartansari TV (lebih dari 50 ribu subscriber) rutin mengunggah video latihan, pertunjukan ritual, hingga behind-the-scene trance. Konten “ngobrol bareng pawang” atau “cara membuat kuda kepang” mendapat ratusan ribu views dan menarik minat anak muda luar kota untuk belajar. Beberapa kelompok bahkan membuka kelas online berbayar bagi diaspora Batu yang ingin anaknya tetap mengenal Jaran Kepang.

Inovasi dan kolaborasi seni menjadi daya tarik baru. Sejak 2018, muncul karya-karya kontemporer seperti “Jaran Kepang feat Breakdance” oleh Turonggo Jakartansari, “Jaran Kepang Kolplay” (menggunakan lagu-lagu K-pop sebagai pengiring trance), hingga “Jaran Kepang Elektrik” dengan lampu LED pada kuda kepang. Meski sempat menuai kontroversi dari kalangan puris, inovasi ini berhasil menarik ratusan penonton muda di setiap penampilan. Hasilnya, banyak remaja yang awalnya hanya menonton kolaborasi ini, akhirnya tertarik bergabung ke sanggar tradisional.

Pengakuan resmi datang pada tahun 2019 ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Jaran Kepang/Jathilan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (nomor registrasi 201900987) dalam domain Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional. Penetapan ini membuka akses dana dekonsentrasi dari pusat, yang digunakan Pemkot Batu untuk membuat museum mini Jaran Kepang di Alun-Alun Kota Batu (dibuka 2023) serta memperbaiki ratusan kuda kepang rusak milik sanggar.

Semua upaya ini saling menguatkan: festival memberi panggung, sanggar memberi rumah, sekolah memberi bibit baru, digital memberi jangkauan, inovasi memberi daya tarik, dan pengakuan negara memberi legitimasi serta dana. Hasilnya nyata: jumlah kelompok aktif di Kota Batu justru meningkat dari 38 kelompok pada tahun 2015 menjadi 57 kelompok pada tahun 2025, dengan lebih dari 2.500 penari aktif, 40 % di antaranya di bawah usia 20 tahun.

Jaran Kepang di Kota Batu membuktikan bahwa pelestarian tidak harus kaku dan melawan zaman. Dengan merangkul sekolah, digital, dan inovasi, kesenian yang dulu dianggap “angker” kini menjadi kebanggaan anak muda. Dentuman bonang tetap menggema, kuda kepang tetap berderap, dan trance tetap hidup—kini dengan wajah yang lebih muda, lebih luas, dan lebih tangguh.

Hambatan Pengembangan dan Inovasi Jaran Kepang di Kota Batu

Meskipun Jaran Kepang menjadi ikon Kota Batu dan terus mendapat dukungan pemerintah, kesenian ini menghadapi hambatan berat yang mengancam eksistensinya di masa depan. Enam tantangan utama saling terkait dan membuat inovasi sering terhambat.

  1. Stigma Negatif yang Masih Kuat Banyak orang tua, terutama dari kalangan menengah ke atas, melarang anaknya ikut Jaran Kepang. Alasan utama adalah bahaya fisik (luka bakar, pecahan kaca di mulut, cambukan api) dan stigma mistis. Di mata sebagian warga perkotaan, trance dianggap syirik atau gangguan jin. Akibatnya, anak-anak yang sudah latihan bertahun-tahun sering dipaksa berhenti saat masuk SMP karena “malu sama tetangga” atau “takut nilai sekolah turun”. Stigma ini paling terasa di wilayah kota baru seperti Junrejo dan Batu kota, sedangkan di desa masih dianggap biasa.
  2. Regenerasi yang Semakin Sulit Generasi Z dan Alpha lebih memilih K-pop, TikTok dance, breakdance, atau e-sport. Latihan Jaran Kepang yang keras (malam hari, hujan tetap latihan, puasa mutih, trance tanpa bayaran) dianggap kuno dan tidak “Instagramable”. Banyak remaja yang awalnya antusias, keluar setelah 3–6 bulan karena tidak tahan fisik atau bosan. Pada 2024, rata-rata usia penari aktif di sanggar besar sudah naik menjadi 28–35 tahun. Beberapa sanggar di Desa Sumberejo dan Giripurno bahkan hanya memiliki 4–5 penari junior dari total 25 anggota.
  3. Biaya Operasional yang Sangat Tinggi Satu set perlengkapan lengkap (20 ekor kuda kepang baru, gamelan pélog lengkap, sound system, kostum, topeng barongan) bisa mencapai Rp 80–150 juta. Harga anyaman bambu dan cat khusus terus naik, sementara honor pertunjukan masih rendah (Rp 4–7 juta sekali tampil untuk hajatan, sudah dibagi 30–40 orang). Banyak kelompok terpaksa memakai kuda kepang tua yang sudah rapuh atau gamelan pinjaman. Ketika alat rusak, mereka terpaksa vakum berbulan-bulan karena tidak ada dana perbaikan.
  4. Konflik Ritual vs Hiburan yang Tak Kunjung Selesai Kelompok tradisional (terutama di Punten, Tulungrejo, Torongrejo) menolak keras segala bentuk inovasi. Penari perempuan, musik DJ, lampu LED, bahkan koreografi terlalu rapi dianggap “merusak kesakralan”. Sebaliknya, kelompok yang sering tampil di hotel dan wisata (seperti di Alun-Alun atau Jatim Park) terpaksa berinovasi agar penonton tidak bosan. Akibatnya muncul perpecahan: kelompok tradisional menuduh kelompok wisata “menjual leluhur”, sementara kelompok wisata menuduh yang tradisional “miskin kreativitas dan membuat seni mati perlahan”.
  5. Larangan Atraksi Bahaya dari Pemerintah Daerah Sejak 2012, beberapa kecamatan di Malang Raya (termasuk Kecamatan Bumiaji dan Batu) pernah mengeluarkan surat larangan atraksi ekstrem karena alasan keselamatan dan kesehatan. Pada 2023, Dinas Kesehatan Kota Batu kembali mengeluarkan imbauan tertulis agar atraksi makan beling dan jalan di bara api dihentikan. Akibatnya, banyak kelompok terpaksa mengurangi atau menghilangkan elemen trance. Tanpa trance, daya tarik Jaran Kepang hilang separuh, penonton komplain “kurang greget”, dan honor turun drastis.
  6. Dampak Pandemi COVID-19 yang Masih Terasa Selama 2020–2022, hampir 100 % pertunjukan berhenti total. Lebih dari 15 kelompok di Kota Batu bubar permanen, ratusan kuda kepang lapuk di gudang, gamelan berkarat karena tidak dirawat. Banyak penari muda yang sudah terlatih pindah profesi menjadi driver ojol atau buruh apel. Hingga 2025, jumlah kelompok aktif belum kembali ke angka sebelum pandemi. Trauma “jangan kumpul-kumpul” juga masih membekas pada orang tua, sehingga mereka semakin enggan mengizinkan anak latihan malam.

Keenam hambatan ini menciptakan lingkaran setan: stigma membuat regenerasi sulit ? regenerasi sulit membuat kelompok kekurangan penari ? kekurangan penari membuat honor kecil ? honor kecil membuat sulit beli alat ? alat rusak dan larangan atraksi membuat pertunjukan kurang menarik ? kurang menarik membuat sponsor enggan ? kembali ke stigma dan seterusnya.

Jika tidak segera diatasi secara sistematis (misalnya subsidi alat dari pemda, asuransi keselamatan penari, kurikulum sekolah yang lebih serius, dan dialog antar-kelompok tentang batas inovasi yang masih menghormati tradisi), Jaran Kepang Kota Batu berisiko menjadi “hanya cerita di museum” dalam satu-dua dekade mendatang. Dentuman bonang yang kini masih mengguncang malam Batu bisa saja perlahan meredup, digantikan suara wahana permainan dan musik DJ, yang ironisnya justru pernah ingin dikolaborasikan demi menyelamatkan kesenian ini.

Penutup

Jaran Kepang Kota Batu adalah perpaduan luar biasa antara spiritualitas kuno, ekspresi seni rakyat, dan identitas lokal yang tangguh. Dari kuda bambu sederhana yang lahir di masa perjuangan Diponegoro, kini ia menjadi ikon Kota Batu yang mendunia. Meski menghadapi tantangan modernisasi dan stigma, semangat “ndadi” yang ada dalam diri setiap penari terus membawa harapan: bahwa selama masih ada orang yang mau “kesurupan” demi melestarikan budaya, Jaran Kepang tidak akan pernah mati.

Di tengah gemerlap lampu wisata Kota Batu, irama bonang dan sorak penonton yang menyaksikan manusia “kehilangan akal” demi seni, tetap menjadi pengingat bahwa di balik modernitas, ada jiwa Jawa yang liar, pemberani, dan tak pernah benar-benar jinak.

Tinggalkan komentar