Kabupaten Malang, sebagai salah satu wilayah di Jawa Timur yang kaya akan kekayaan budaya, menyimpan berbagai kesenian tradisional yang menjadi cerminan identitas masyarakatnya. Di antara berbagai bentuk seni yang berkembang di sana, Tari Beskalan menonjol sebagai salah satu yang paling ikonik dan tertua. Tarian ini bukan hanya sekadar pertunjukan estetis, melainkan sebuah narasi hidup yang menggabungkan elemen ritual, hiburan, dan penghormatan terhadap leluhur. Berasal dari kata “bakalan” yang berarti “seni yang dilakukan di jalanan” atau “dasar” dari segala bentuk penghargaan, Tari Beskalan mencerminkan keterbukaan masyarakat Malang terhadap tamu dan alam sekitar.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang. Dimulai dari sejarah penciptaannya yang penuh misteri dan inspirasi spiritual, kemudian keunikannya dibandingkan dengan tarian serupa seperti Tari Remo Jombangan dan Tari Remo Suroboyoan. Selanjutnya, peran tarian ini sebagai ekspresi budaya tradisi, usaha pelestarian yang sedang dilakukan, hingga kendala yang dihadapi dalam pengembangannya. Pembahasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman holistik tentang bagaimana Tari Beskalan tetap relevan di era modern, sambil menjaga akar tradisinya. Melalui lensa ini, kita dapat melihat bagaimana seni tradisional seperti Tari Beskalan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, memperkaya khazanah budaya Indonesia.
Tari Beskalan, yang sering dibawakan oleh penari wanita dengan gerakan lincah dan anggun, biasanya melibatkan 4-6 orang penari. Properti seperti selendang merah, cundhuk mentul pada sanggul, dan iringan gamelan slendro menambah daya tariknya. Namun, di balik keindahannya, tarian ini menyimpan lapisan makna yang dalam, mulai dari ritual kesuburan tanah hingga simbol keramahan Malangan. Mari kita telusuri lebih jauh.
Sejarah Penciptaan Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang
Sejarah Tari Beskalan tidak lepas dari konteks sosial dan spiritual masyarakat Malang pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Tarian ini lahir sebagai bentuk ekspresi komunal yang terkait erat dengan kehidupan agraris masyarakat setempat. Menurut sumber sejarah, Tari Beskalan pertama kali muncul sebagai tarian ritual yang dilakukan saat membuka lahan pertanian atau mendirikan bangunan baru. Ritual ini melibatkan penggalian tanah untuk menanam tumbal seperti kepala kerbau, sebagai bentuk persembahan kepada roh leluhur dan Dewi Sri, dewi kesuburan padi. Hal ini mencerminkan pandangan masyarakat Malang yang harmonis dengan alam, di mana tanah dianggap sebagai entitas suci yang harus dihormati.
Penciptaan Tari Beskalan dikaitkan dengan kisah mistis seorang penari legendaris bernama Miskayah (atau Sukanti), warga Desa Ngadirekso, Kecamatan Poncokusumo, sekitar tahun 1920-an. Miskayah, yang dikenal sebagai tandak andong (penari keliling), jatuh sakit parah. Dalam mimpinya, ia dikunjungi oleh Putri Proboretno dari Kerajaan Mataram, yang mengajarinya gerakan tarian untuk menyembuhkan penyakitnya. Setelah menari mengikuti petunjuk mimpi tersebut, Miskayah sembuh secara ajaib. Sebagai nazar, ia mengubah namanya menjadi Miskayah dan mulai membawakan tarian itu secara luas. Kisah ini tidak hanya menjadi legenda, tapi juga fondasi spiritual Tari Beskalan, yang kemudian disebut sebagai Tari Beskalan Putri.
Pada tahun 1930-an, Tari Beskalan berkembang pesat seiring munculnya pertunjukan andong, sejenis tayub keliling yang mirip dengan ngamen di jalanan. Saat itu, tarian ini sering dibawakan oleh laki-laki yang berpakaian wanita, dengan gerakan feminim yang lincah untuk menarik perhatian penonton. Dokumentasi pertama penari Beskalan adalah Riyati, yang direkam oleh Padepokan Mangun Dharmo di Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, pada era yang sama. Perkembangan ini bertepatan dengan pesatnya ludruk di Malang, di mana Tari Beskalan menjadi pembuka setelah Tari Remo, menambah elemen hiburan rakyat.
Secara historis, Tari Beskalan juga terkait dengan mitos penciptaan tanah Jawa. Legenda menyebutkan bahwa untuk menghuni tanah Jawa, diperlukan tumbal “cok bakal” (kepala kerbau) yang ditanam di tanah. Simbolisme ini terintegrasi dalam gerakan tarian, di mana penari menggambarkan proses “membuka” tanah dengan langkah dinamis. Pada masa kolonial, tarian ini menjadi bentuk resistensi budaya halus, di mana masyarakat Malang mempertahankan identitasnya melalui pertunjukan keliling. Hingga kini, Tari Beskalan telah berevolusi dari ritual menjadi pertunjukan seremonial, seperti penyambutan tamu negara atau festival budaya. Penetapannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia pada 2023 oleh Kemendikbudristek menegaskan statusnya sebagai aset nasional. Kisah penciptaannya yang berakar pada mimpi dan ritual menjadikan Tari Beskalan bukan hanya seni, tapi juga warisan spiritual yang hidup.
Keunikan Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang Dibanding Tari Remo Jombangan dan Tari Remo Suroboyoan
Tari Beskalan memiliki keunikan yang membedakannya dari tarian Remo lainnya di Jawa Timur, meskipun semuanya berasal dari tradisi ludruk dan memiliki gerakan dasar yang mirip. Tari Remo Jombangan, khas Kabupaten Jombang, dan Tari Remo Suroboyoan (atau Surabaya), mewakili variasi regional dari Tari Remo yang lebih maskulin dan energik, sementara Beskalan menekankan feminitas dan keanggunan. Perbedaan ini terletak pada asal-usul, fungsi, gerakan, dan kostum.
Pertama, dari segi asal-usul dan fungsi. Tari Remo Jombangan lahir sebagai pembuka ludruk di Jombang, menggambarkan keberanian pangeran perang dengan gerakan gagah dan dinamis. Sementara Tari Remo Suroboyoan lebih urban, sering ditampilkan di Surabaya sebagai hiburan kota dengan elemen komedi. Tari Beskalan, sebaliknya, berakar pada ritual agraris Malang, awalnya sebagai persembahan kepada Dewi Sri untuk kesuburan tanah. Keunikannya terletak pada dualitas: ritual-spiritual yang menjadi hiburan, membuatnya lebih fleksibel untuk acara seremonial seperti bersih desa atau penyambutan tamu.
Kedua, gerakan. Gerakan Tari Beskalan lebih anggun, lincah, dan feminim, dengan penekanan pada “solah” (rangkaian gerak dasar) dan “sendi” (penghubung gerak) yang non-representatif. Penari menggunakan langkah “ulat” (melata) dan “pandeleng” (mengintip) untuk menggambarkan kecantikan wanita Malangan, dengan ritme lambat yang transisi ke dinamis. Bandingkan dengan Tari Remo Jombangan, yang gerakannya lebih tegas dan maskulin, seperti “joget” dengan lompatan tinggi untuk simbol keperwiraan. Tari Remo Suroboyoan punya elemen improvisasi komedi, dengan gerakan “ngglece” (jenaka) yang lebih bebas. Beskalan unik karena gerakannya mengandung nilai filosofis kesuburan, di mana setiap putaran selendang melambangkan alur sungai yang memberi kehidupan.
Ketiga, kostum dan properti. Kostum Beskalan khas Malangan: sanggul dengan cundhuk mentul, kebaya encim, jarik merah, dan selendang sutra yang melambangkan darah tumbal ritual. Ini lebih sederhana dan simbolis dibanding kostum Remo Jombangan, yang menggunakan rompi hijau-merah dengan aksesoris prajurit seperti sabuk emas untuk gaya gagah. Tari Remo Suroboyoan cenderung modern dengan kaus putih lengan panjang dan celana panjang semata kaki, tanpa elemen jarum emas yang ada di Malangan. Iringan musik Beskalan juga unik: gamelan slendro dengan tetembangan lagu daerah Malang, berbeda dari iringan kendang cepat di Remo Jombangan yang lebih ritmis untuk pertunjukan massa.
Keunikan ini membuat Tari Beskalan sebagai “nenek moyang” Tari Remo di Malang, di mana Remo berkembang dari Beskalan sebagai adaptasi hiburan. Sementara Remo Jombangan dan Suroboyoan lebih fokus pada identitas regional Jombang dan Surabaya, Beskalan mewakili esensi Malangan: harmoni antara ritual dan keramahan.

Peran Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang sebagai Ekspresi Budaya Tradisi
Tari Beskalan bukan hanya pertunjukan, tapi ekspresi mendalam dari tradisi budaya Malang. Sebagai tari komunal, ia dilahirkan oleh masyarakat untuk masyarakat, mencerminkan nilai gotong royong dan hubungan harmonis dengan alam. Dalam konteks tradisi, tarian ini berfungsi sebagai medium spiritual untuk memanggil roh leluhur, terutama dalam ritus tanah yang memohon kesuburan. Gerakan lincahnya melambangkan alur kehidupan: dari pembukaan lahan (awal) hingga panen (puncak), mengajarkan nilai syukur dan kesabaran.
Sebagai ekspresi budaya, Tari Beskalan memperkuat identitas Malangan. Ia menggambarkan keterbukaan masyarakat terhadap tamu, “tamu adalah raja”, melalui gerakan selamat datang yang penuh senyum dan undangan. Di era modern, perannya meluas ke pendidikan karakter: melalui latihan tari, generasi muda belajar disiplin, kreativitas, dan apresiasi nilai tradisional seperti hormat dan kerjasama. Festival budaya seperti Ludruk atau acara pemerintahan menggunakan Beskalan untuk membangun kebanggaan daerah, menjadikannya simbol keberlanjutan tradisi di tengah globalisasi.
Lebih dalam, Tari Beskalan menyimpan nilai filosofis Jawa: “memayu hayuning bawana” (melestarikan keseimbangan alam). Setiap elemen dari selendang merah sebagai darah kehidupan hingga iringan slendro yang tenang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritual. Sebagai WBTb sejak 2019 di tingkat provinsi dan 2023 nasional, perannya sebagai ekspresi budaya semakin diakui, memperkaya narasi Nusantara. Dengan demikian, Beskalan bukan artefak mati, tapi napas hidup tradisi Malang yang terus berevolusi.
Usaha Pelestarian Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang
Pelestarian Tari Beskalan menjadi prioritas bagi pemerintah dan komunitas Malang, mengingat statusnya sebagai WBTb. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang aktif menyelenggarakan pelatihan dan festival. Pada Juni 2025, Disparbud menggelar Pelatihan Tari Malangan “Tari Beskalan Putri” di Taman Wisata New Wendit, melibatkan 38 sanggar tari dari seluruh kabupaten. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan penari, kreativitas, dan apresiasi terhadap gerak asli, dengan instruktur seperti Ki Soleh Adi Pramono dari Padepokan Mangun Dharmo.
Festival Tari Beskalan Putri pada November 2024 di Pendopo Agung menjadi momentum besar, mengimplementasikan prinsip 4P (Pembinaan, Perlindungan, Pemanfaatan, Pengembangan). Acara ini melibatkan komunitas Tandhak Malang dan Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM), menampilkan puluhan kelompok penari untuk membangun karakter masyarakat dan kebanggaan daerah. Selain itu, inisiatif pendidikan seperti workshop di Mila Art Dance School oleh Gandung Djatmiko pada 2022 memperkenalkan teknik dasar kepada pemula.
Komunitas seperti Paguyuban Sri Margo Utomo dan Padepokan Mangun Dharmo berperan sebagai pusat pelatihan, menerima magang dari universitas seperti UM dan ISI Yogyakarta. Buku panduan seperti “Perancangan Buku Tata Rias, Kostum, dan Gerak Tari Beskalan Putri Malang” (2012) dan ensiklopedia berbasis ilustrasi untuk SMP (2021) menjadi alat edukasi. Dukungan finansial dari pemerintah provinsi juga mendorong pertunjukan rutin di festival nasional. Usaha ini holistik, menggabungkan pendidikan, pertunjukan, dan dokumentasi untuk memastikan Beskalan lestari.
Kendala Pengembangan Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang
Meskipun ada kemajuan, pengembangan Tari Beskalan menghadapi sejumlah kendala. Pertama, pengaruh modernisasi dan globalisasi membuat generasi muda lebih tertarik pada seni kontemporer atau hiburan digital, menyebabkan penurunan minat belajar tari tradisional. Seperti disebutkan, Tari Beskalan Putri “semakin terlupakan” di era modern, dengan penari muda kurang memahami makna ritualnya.
Kedua, keterbatasan sumber daya. Banyak sanggar kekurangan dana untuk kostum autentik atau iringan gamelan lengkap, sementara pelatihan sering bergantung pada sponsor pemerintah yang terbatas. Dokumentasi sejarah juga minim, menyebabkan variasi gerakan antar daerah tidak terstandarisasi, seperti perdebatan tentang akar Beskalan di Tumpang vs. Poncokusumo.
Ketiga, kurangnya integrasi dengan pariwisata. Meskipun Malang kaya wisata, Tari Beskalan jarang dipromosikan sebagai atraksi utama, kalah saing dengan Reog Ponorogo atau Tari Topeng Malangan. Pandemi COVID-19 juga menghambat pertunjukan langsung, mempercepat “pudar” warisan ini. Selain itu, isu gender historis di mana awalnya dibawakan pria menimbulkan tantangan adaptasi kontemporer.
Untuk mengatasi, diperlukan kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, komunitas, dan akademisi, seperti pengembangan digital (video tutorial) dan insentif bagi penari muda. Kendala ini, jika diatasi, justru bisa menjadi katalisator inovasi.
Kesimpulan
Kesenian Tari Beskalan dari Kabupaten Malang adalah permata budaya yang mencerminkan jiwa Malangan: anggun, lincah, dan penuh makna. Dari sejarah mistis Miskayah hingga keunikannya yang feminim dibanding Remo Jombangan dan Suroboyoan, tarian ini berperan sebagai jembatan ekspresi tradisi yang hidup. Usaha pelestarian melalui pelatihan dan festival menjanjikan, meski kendala modern menuntut inovasi. Di tangan generasi mendatang, Beskalan bukan hanya warisan, tapi inspirasi untuk harmoni budaya. Mari kita jaga agar irama slendro ini terus bergema, memperkaya Indonesia.


