Tari Remo Surabayan merupakan salah satu kesenian tradisional yang ikonik dari Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya. Tarian ini dikenal dengan gerakan yang energik, lincah, dan penuh semangat, sering kali menggambarkan perjuangan seorang pangeran dalam medan pertempuran. Sebagai bagian dari budaya Arek (sebutan untuk masyarakat Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, dan sekitarnya), Tari Remo tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol kekuatan, kewaspadaan, dan identitas lokal. Dalam artikel ini, kita akan menelusuri asal mula lahirnya kesenian ini, para seniman maestro yang menjadi pilarnya, serta perkembangannya hingga era modern. Tari Remo Surabayan terus hidup sebagai bentuk ekspresi budaya yang adaptif, mencerminkan semangat masyarakat Jawa Timur yang tangguh.
Asal Mula Lahirnya Kesenian Tari Remo Surabayan
Asal usul Tari Remo dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di wilayah Jawa Timur. Menurut berbagai sumber sejarah, tarian ini pertama kali diciptakan oleh seorang seniman jalanan bernama Cak Mo, yang berasal dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Cak Mo, yang pernah menjadi gemblak (pria rupawan yang tinggal bersama warok) dalam grup Reog Ponorogo, menciptakan Tari Remo sebagai bentuk seni yang sederhana namun ekspresif. Awalnya, tarian ini lahir dari tradisi seni jalanan atau pengamen yang tampil di pasar-pasar atau acara rakyat. Gerakannya terinspirasi dari perjuangan pangeran dalam pertempuran, dengan elemen-elemen seperti tendangan kaki yang kuat, ayunan tangan yang dinamis, dan ekspresi wajah yang tegas, melambangkan keberanian dan ketangguhan.
Pada masa itu, Tari Remo belum sepenuhnya berkembang di Surabaya. Namun, sekitar abad ke-20, tarian ini mulai dipopulerkan di Kota Pahlawan oleh Raden Ngabehi Prawironegoro, seorang tokoh seni terkenal dari Surabaya. Ia mengintegrasikan Tari Remo ke dalam pertunjukan Ludruk, seni teater tradisional Jawa Timur yang sarat dengan humor sosial dan kritik masyarakat. Dalam Ludruk, Tari Remo berfungsi sebagai pembuka acara, yang disebut “ngremo” dalam bahasa Jawa, artinya menari dengan semangat. Pengaruh politik lokal dan kebutuhan masyarakat seni pertunjukan membuat Tari Remo berkembang menjadi gaya Surabayan yang khas, dengan karakter tegas dan gerakan yang lebih halus dibandingkan gaya Jombangan atau Malangan. Asal mula ini juga terkait dengan musim kemarau panjang di Ponorogo, di mana seniman seperti Cak Mo mencari nafkah melalui seni jalanan, yang kemudian menyebar ke Surabaya melalui migrasi budaya.
Tari Remo Surabayan lahir dari perpaduan antara tradisi Reog Ponorogo dan Ludruk, di mana elemen maskulin seperti busana pria dengan selendang dan keris menjadi ciri khas. Awalnya ditarikan oleh laki-laki, tarian ini mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan, sesuai dengan semangat perjuangan masyarakat Jawa Timur melawan penjajahan. Seiring waktu, asal mula sederhana ini menjadi fondasi bagi perkembangan lebih lanjut, membuat Tari Remo tidak hanya sebagai hiburan, tapi juga media penyampaian pesan moral.
Seniman Maestro yang Menjadi Pilar Tari Remo Surabayan
Beberapa seniman telah menjadi maestro yang tak tergantikan dalam sejarah Tari Remo Surabayan. Cak Mo, sebagai pencipta asli, adalah figur legendaris yang meletakkan dasar tarian ini. Ia tidak hanya menciptakan gerakan dasar, tapi juga memperkenalkannya sebagai bagian dari Ludruk di Jombang sebelum menyebar ke Surabaya.
Salah satu maestro paling ikonik adalah Munali Fatah, seorang penggerak Ludruk yang tak kenal menyerah. Lahir di Jawa Timur, Munali menciptakan gaya Remo khas yang energik dan inovatif. Ia pernah mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan berbagai perguruan seni, di mana ia melatih generasi muda untuk melestarikan tarian ini. Munali dikenal dengan Tari Remo Munali Fatah, yang menekankan simbol tokoh seperti Sawunggaling, dan menjadi sumber konservasi budaya di Surabaya.
Maestro lain adalah Ali Markasa, spesialis Tari Remo Boletan dari Jombang, yang sering tampil di acara-acara besar seperti lomba di SMKI Surabaya. Penampilannya yang energik dan ciri khas membuatnya meraih penghargaan sebagai Maestro Remo. Di Surabaya, Heri Lentho dijuluki “seniman berjiwa kesatria” karena karya-karyanya yang mencerminkan semangat pahlawan. Ia aktif dalam menciptakan variasi Remo yang modern tanpa kehilangan esensi tradisional.
Tak ketinggalan Sariono, seorang seniman tari spesialis Remo dari Surabaya, yang menciptakan Tari Remo Gagrak Anyar. Karyanya sering ditampilkan dalam acara penting, seperti penyambutan tamu negara. Para maestro ini tidak hanya melestarikan, tapi juga mengembangkan Tari Remo melalui pengajaran dan pertunjukan, memastikan kelangsungannya di tengah arus globalisasi.
Perkembangan Tari Remo Surabayan
Perkembangan Tari Remo Surabayan sangat dinamis, dipengaruhi oleh perubahan sosial, politik, dan budaya. Awalnya sebagai tarian jalanan dan pembuka Ludruk, tarian ini berkembang pesat di Surabaya pada era pasca-kemerdekaan. Kota Surabaya menjadi pusat perkembangan tertinggi, dengan terciptanya gaya Surabayan yang lebih halus dan terstruktur. Pada 1960-an hingga 1980-an, Tari Remo mulai beralih fungsi menjadi tarian penyambutan tamu penting, seperti dalam upacara Hari Jadi Kota Surabaya setiap 31 Mei atau acara kenegaraan.
Pada era 1990-an, pengaruh global membuat Tari Remo mengalami inovasi, seperti penambahan elemen kontemporer dalam festival internasional. Contohnya, Festival Tari Remo dan Yosakoi di Surabaya yang melibatkan ratusan peserta, atau pemecahan rekor MURI pada 2022 dengan puluhan ribu penari Remo. Pemerintah Kota Surabaya bahkan menjadikannya ekstrakurikuler wajib di sekolah untuk menjaga kearifan lokal.
Perkembangan ini juga terlihat dalam bentuk pertunjukan, seperti Tari Remo Gagrak Anyar di Sanggar Putra Bima Respati Surabaya, yang mengadaptasi gerakan untuk acara modern. Buku visual dan dokumentasi seperti “Perancangan Buku Visual Story Fotografi tentang Sejarah dan Perkembangan Tari Remo di Surabaya” oleh Faisal Fathqurrachman Julian membantu pelestarian. Kini, Tari Remo tidak lagi eksklusif ditarikan oleh pria; variasi perempuan muncul, mencerminkan inklusivitas. Namun, tantangan seperti urbanisasi membuatnya harus terus beradaptasi agar tetap relevan.
Tari Remo Surabayan adalah bukti hidup bagaimana sebuah kesenian bisa lahir dari akar rakyat, didukung oleh maestro-maestro hebat, dan berkembang menjadi simbol budaya nasional. Dengan sekitar 700 kata ini, semoga pembaca semakin menghargai warisan ini dan turut melestarikannya.
Perbedaan Tari Remo Surabayan dan Tari Remo Boletan Jombang: Ciri Khas dan Perkembangannya
Tari Remo merupakan salah satu kesenian tradisional ikonik dari Jawa Timur yang mencerminkan semangat perjuangan dan identitas budaya masyarakat Arek. Tarian ini memiliki variasi gaya berdasarkan daerah asalnya, seperti Tari Remo Surabayan dan Tari Remo Boletan dari Jombang. Meskipun keduanya berakar dari tradisi yang sama, terdapat perbedaan signifikan dalam gerakan, busana, dan fungsi sosial. Artikel ini akan membahas perbedaan kedua tarian tersebut, serta ciri khas yang membedakan perkembangan Tari Remo di Surabaya dan Jombang. Dengan memahami hal ini, kita bisa menghargai bagaimana seni tradisional adaptif terhadap konteks lokal sambil mempertahankan esensi budaya Jawa Timur.
Asal Usul Tari Remo dan Dasar Perbedaannya
Tari Remo pertama kali diciptakan oleh seorang seniman jalanan bernama Cak Mo di Desa Ceweng, Jombang, sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Awalnya, tarian ini lahir dari tradisi Reog Ponorogo dan Ludruk, di mana Remo berfungsi sebagai pembuka pertunjukan untuk menarik perhatian penonton. Gerakan dasarnya menggambarkan perjuangan seorang pangeran dalam pertempuran, dengan elemen maskulin seperti tendangan kaki yang kuat dan ayunan tangan dinamis.
Tari Remo Surabayan berkembang di Kota Surabaya sebagai varian yang lebih halus dan terstruktur, dipengaruhi oleh urbanisasi dan kebutuhan penyambutan tamu resmi. Sementara itu, Tari Remo Boletan khas Jombang diciptakan oleh Sastro Bolet Amenan, seorang pelawak Ludruk asal Arum Dalu Sengon, sekitar tahun 1960-1970. Nama “Boletan” berasal dari kata “bolet” yang berarti telanjang dada, mencerminkan gaya penampilan yang lebih primitif dan spontan. Perbedaan mendasar ini muncul dari konteks sosial: Surabaya sebagai kota pelabuhan yang multikultural membuat Remo lebih formal, sedangkan Jombang yang agraris mempertahankan nuansa rakyat dan humoris.
Ciri Khas yang Membedakan Kedua Tarian
Perbedaan utama terletak pada gerakan, busana, dan ekspresi. Tari Remo Surabayan menonjolkan teknik yang tenang namun mantap, dengan gerakan terkendali dan garis-garis gerak yang tegas. Penarinya menggunakan busana lengkap seperti beskap hitam, celana panjang, selendang sampur, dan keris, menciptakan kesan elegan dan wibawa. Gerakan kaki ritmis tapi halus, dengan hentakan yang tidak terlalu agresif, sering diiringi gamelan dengan tempo sedang. Ekspresi wajah penari cenderung serius, melambangkan kewaspadaan dan kekuatan spiritual. Varian ini memiliki pola gerak sederhana dan rapi, mudah dipelajari, seperti dalam gaya Remo Munali Fatah yang menekankan simbol tokoh Sawunggaling.
Sebaliknya, Tari Remo Boletan Jombang lebih lincah dan spontan, dengan gerakan yang mengadopsi elemen pencak silat secara kuat. Penari laki-laki tampil tanpa baju (telanjang dada), hanya mengenakan kain jarik, rompi pendek, dan aksesoris minimalis seperti gelang lonceng yang menghasilkan suara ritmis saat bergerak. Gerakan kaki rancak dan dinamis, dengan tendangan tinggi dan putaran cepat, mencerminkan semangat perjuangan yang lebih mentah dan energik. Mimik wajah ekspresif, sering diselingi humor, dan variasi gerakan lebih banyak dibandingkan Surabayan. Busana dan gerak ini merepresentasikan filosofi keberanian dan kedekatan dengan alam, serta merekatkan masyarakat antar-etnis di Jombang.
Perkembangan Tari Remo di Surabaya
Di Surabaya, Tari Remo berkembang pesat sejak era pasca-kemerdekaan, menjadi simbol identitas kota pahlawan. Puncaknya terjadi ketika Ludruk dibawa oleh Cak Durasim ke Surabaya pada abad ke-20, memunculkan genre baru seperti Remo Surabayan yang lebih adaptif. Pada 1980-an, muncul inovasi seperti Remo Trisnawati pada 1981, saat lomba di SMKI Surabaya. Kini, tarian ini sering digunakan untuk penyambutan tamu negara atau acara resmi seperti Hari Jadi Kota Surabaya, dengan penambahan elemen kontemporer dalam festival internasional. Perkembangan ini ditandai dengan inklusivitas, di mana wanita juga bisa menari (Remo Putri), dan integrasi dengan pendidikan seperti ekstrakurikuler di sekolah. Namun, urbanisasi membuatnya lebih komersial, dengan sanggar seperti Putra Bima Respati yang menciptakan variasi modern tanpa hilang esensi.
Perkembangan Tari Remo di Jombang
Di Jombang, perkembangan Tari Remo lebih berakar pada tradisi rakyat dan Ludruk. Sejak diciptakan Cak Mo, tarian ini tetap dekat dengan masyarakat agraris, dengan Remo Boletan sebagai ciri khas yang eksis sejak 1907. Pada 1960-an, Sastro Bolet Amenan mengembangkannya sebagai bentuk hiburan sosial, sering ditampilkan di pasar atau acara desa. Baru-baru ini, pada 2022, ribuan pelajar memecahkan rekor MURI dengan menari Remo Boletan, menunjukkan peranannya dalam pendidikan dan moderasi beragama. Ciri khas perkembangannya adalah tetap spontan dan komunal, digunakan untuk merekatkan etnis di Jombang, tanpa banyak pengaruh urban. Tantangannya adalah pelestarian di tengah modernisasi, tapi inisiatif seperti sosialisasi NU membantu keberlangsungannya.
Tari Remo Surabayan dan Tari Remo Boletan Jombang mewakili dua wajah seni tradisional Jawa Timur: yang satu halus dan formal, yang lain lincah dan spontan. Perbedaan ini tidak hanya pada gerakan dan busana, tapi juga pada perkembangan yang dipengaruhi konteks lokal, Surabaya lebih inovatif dan global, Jombang lebih tradisional dan komunal. Melalui pelestarian, keduanya tetap menjadi warisan budaya yang hidup, mengajarkan nilai keberanian dan harmoni sosial. Semoga artikel ini menginspirasi apresiasi lebih dalam terhadap seni Nusantara.
Ekspresi Budaya Tradisional yang Harus Dilestarikan dari Kepunahan
Tari Ngremo Surabayan, atau lebih dikenal sebagai Tari Remo gaya Surabaya, merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia yang kaya akan makna filosofis dan estetika. Tarian ini mencerminkan semangat kepahlawanan, keberanian, dan identitas masyarakat Arek Suroboyo yang dinamis serta lugas. Sebagai ekspresi budaya tradisional Jawa Timur, Tari Ngremo Surabayan tidak hanya menghibur, tapi juga menyampaikan nilai-nilai luhur seperti perjuangan hidup manusia yang penuh tantangan. Di tengah arus modernisasi yang pesat, tarian ini menghadapi ancaman kepunahan, sehingga pelestarian menjadi keharusan bagi generasi saat ini.
Makna dan Ekspresi Budaya dalam Tari Ngremo Surabayan
Tari Ngremo Surabayan lahir dari akar tradisi Ludruk dan Reog, dengan gerakan yang tenang namun tegas, melambangkan kewibawaan seorang pangeran dalam pertempuran. Gerakannya halus dan terstruktur, berbeda dengan varian lain yang lebih lincah, mencerminkan karakter masyarakat Surabaya yang mantap dan berwibawa. Busana khas seperti beskap hitam, celana panjang, selendang sampur, dan keris menambah kesan elegan, sementara iringan gamelan menciptakan nuansa heroik. Tarian ini mengandung filosofi “ngelana” sebagai perjalanan hidup manusia, dari budhalan (pembuka), inti (puncak), hingga ulihan (penutup). Sebagai ekspresi budaya, ia menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan dan semangat juang rakyat Jawa Timur, terutama dalam konteks sejarah perlawanan terhadap penjajahan. Pada 2023, Tari Ngremo Surabayan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Nasional oleh Kemendikbudristek, menegaskan nilai universalnya sebagai identitas bangsa.
Tantangan Kepunahan di Era Modern
Meskipun ikonik, Tari Ngremo Surabayan rentan punah akibat modernisasi dan globalisasi. Generasi muda lebih tertarik pada budaya populer seperti K-pop atau tarian viral di media sosial, menyebabkan minat terhadap seni tradisional menurun. Kurangnya regenerasi pelatih, keterbatasan dokumentasi gerakan, dan stigma bahwa tradisional identik dengan “kuno” menjadi hambatan utama. Urbanisasi di Surabaya membuat pertunjukan Ludruk sebagai wadah asli tarian ini semakin jarang, sementara pengaruh budaya asing menggeser apresiasi masyarakat. Jika tidak diatasi, warisan ini bisa hilang seperti beberapa tarian Jawa Timur lainnya yang nyaris punah akibat perubahan gaya hidup.
Upaya Pelestarian yang Telah Dilakukan
Berbagai inisiatif telah digencarkan untuk menyelamatkan Tari Ngremo Surabayan. Pemerintah Kota Surabaya menjadikannya ekstrakurikuler wajib di sekolah-sekolah sejak beberapa tahun lalu, sehingga ribuan pelajar mengenal dan mempraktikkannya. Pada 2022, tari Remo massal melibatkan 65.946 pelajar memecahkan rekor MURI, menanamkan jiwa kepahlawanan sekaligus melestarikan budaya di situs bersejarah. Festival seperti Remo-Yosakoi yang menggabungkan dengan tarian Jepang, serta acara Sembrani Bumi Nusantara 2025 dengan 1.000 pelajar, menjadi ajang promosi inovatif.
Mengapa Harus Dilestarikan dan Langkah ke Depan
Pelestarian Tari Ngremo Surabayan bukan sekadar menjaga tarian, tapi mempertahankan identitas bangsa di tengah globalisasi. Ia mengajarkan nilai keberanian, harmoni, dan patriotisme kepada generasi muda, serta menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia yang diakui dunia. Tanpa upaya bersama, ekspresi budaya ini bisa lenyap, merugikan warisan leluhur.
Langkah ke depan meliputi integrasi digital seperti video tutorial di media sosial, kolaborasi kontemporer tanpa hilang esensi, dan peningkatan sanggar anak-anak. Masyarakat, pemerintah, dan pendidik harus bersinergi agar tarian ini tetap hidup. Dengan demikian, Tari Ngremo Surabayan akan terus menjadi ekspresi budaya yang abadi, menginspirasi generasi mendatang.






