Di tengah kemajuan zaman yang serba canggih, ada satu fenomena yang menggelisahkan: dunia seolah-olah sedang berjalan mundur, kembali ke masa kegelapan yang dikenal sebagai Jahiliyah. Jahiliyah, yang secara harfiah berarti “kebodohan,” adalah istilah yang merujuk pada periode pra-Islam di jazirah Arab, di mana masyarakat hidup dalam kekacauan moral, tenggelam dalam maksiat, dan jauh dari nilai-nilai spiritual.
Salah satu contoh nyata dari tren ini adalah transformasi Al-Ula, sebuah kota bersejarah di Arab Saudi yang dulunya dianggap “terkutuk,” kini menjadi pusat wisata yang penuh kontroversi dengan dugem dan maksiat sebagai daya tariknya. Bagaimana sebuah tempat yang sarat akan sejarah kelam bisa berubah menjadi simbol kemunduran moral? Artikel ini akan mengupas sejarah Al-Ula, perkembangannya di era modern, dan kaitannya dengan kembalinya ke masa Jahiliyah.
Sejarah Al-Ula: Jejak Peradaban dan Kutukan
Al-Ula, terletak sekitar 300 kilometer di utara Madinah, adalah salah satu kawasan paling bersejarah di Arab Saudi. Kota ini menyimpan jejak peradaban kuno yang menakjubkan, sekaligus cerita kelam yang tercatat dalam sejarah Islam. Ribuan tahun lalu, Al-Ula menjadi rumah bagi kaum Tsamud, sebuah suku yang disebutkan dalam Al-Quran. Kaum Tsamud, yang hidup sekitar abad ke-7 hingga ke-6 SM, dikenal dengan kecanggihan mereka dalam memahat batu untuk membuat rumah dan makam, seperti yang terlihat di situs Mada’in Saleh. Namun, kesombongan mereka terhadap ajaran Nabi Saleh AS dan penolakan terhadap tauhid membuat mereka dilaknat oleh Allah SWT. Dalam Al-Quran, Surah Al-Hijr (15:80-84) menceritakan kehancuran mereka akibat gempa bumi dan petir sebagai hukuman ilahi.
Setelah kehancuran Tsamud, Al-Ula terus berkembang sebagai pusat perdagangan penting. Kerajaan Lihyan dan Dinasti Nabatean kemudian menguasai wilayah ini, meninggalkan warisan arsitektur yang hingga kini masih memukau, seperti makam-makam batu di Mada’in Saleh yang mirip dengan Petra di Yordania. Namun, meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi, Al-Ula juga membawa stigma sebagai “tempat terkutuk.”
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah melewati wilayah ini saat menuju Perang Tabuk dan memperingatkan para sahabatnya untuk tidak memasuki reruntuhan kaum yang diazab kecuali sambil menangis, agar mereka tidak tertimpa nasib yang sama. “Jangan masuk ke tempat orang-orang yang tersiksa itu kecuali jika kalian sambil menangis, jika tidak dapat menangis maka jangan masuk ke sana, jangan sampai kalian tertimpa apa yang telah menimpa mereka,” sabda Rasulullah SAW.
Sejarah ini memberikan Al-Ula identitas ganda: sebagai situs bersejarah yang kaya dan sebagai tempat yang memiliki aura spiritual yang berat. Selama berabad-abad, kawasan ini lebih dikenal sebagai daerah yang dihindari, sebuah kota hantu yang menyimpan pelajaran tentang akibat dari kesombongan dan kemaksiatan.
Transformasi Al-Ula: Dari Kelam Menjadi Glamor
Di era modern, Al-Ula mengalami perubahan drastis. Pemerintah Arab Saudi, melalui proyek ambisius Visi 2030 yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, berupaya menjadikan Al-Ula sebagai destinasi wisata kelas dunia. Dengan investasi miliaran dolar, kawasan ini telah dilengkapi infrastruktur modern seperti hotel bintang lima, resor mewah, dan fasilitas hiburan. Nama-nama seperti Habitats AlUla, Banyan Tree, dan Dar Tantora The House Hotel kini menjadi simbol kemewahan di tengah padang pasir. Mada’in Saleh, yang kini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan arsitektur kuno.
Namun, transformasi ini tidak hanya tentang pelestarian sejarah atau pembangunan ekonomi. Al-Ula kini juga menjadi tuan rumah berbagai acara yang jauh dari nilai-nilai tradisional Islam. Festival musik internasional, konser dengan artis global, dan pesta malam yang melibatkan alkohol serta tarian menjadi bagian dari agenda wisata. Pada tahun 2019, misalnya, acara Winter at Tantora menampilkan pertunjukan musik dan seni yang menarik ribuan wisatawan asing. Belum lagi, rumor tentang “dugem” dan aktivitas maksiat lainnya semakin memperkuat persepsi bahwa Al-Ula telah berubah dari tempat yang dihindari menjadi pusat hiburan yang glamor namun kontroversial.
Perubahan ini memicu reaksi keras dari sebagian masyarakat. Seorang pengguna media sosial X menulis, “Al-Ula tempat terkutuk di Arab Saudi jadi tempat dugem dan maksiat,” mencerminkan kekhawatiran bahwa modernisasi telah mengorbankan nilai-nilai spiritual demi keuntungan ekonomi. Bagi banyak orang, transformasi Al-Ula bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga simbol dari kemunduran moral yang mengingatkan pada kebiasaan buruk masa Jahiliyah.
Jahiliyah di Era Modern: Refleksi atas Kemaksiatan
Apa itu Jahiliyah? Secara historis, Jahiliyah adalah periode sebelum Islam datang ke jazirah Arab, ditandai dengan kemerosotan moral seperti penyembahan berhala, perjudian, minum khamr, dan perlakuan buruk terhadap perempuan. Namun, lebih dari sekadar masa lalu, Jahiliyah juga merupakan konsep yang relevan kapan saja masyarakat menjauh dari ajaran tauhid dan tenggelam dalam materialisme serta hedonisme.
Transformasi Al-Ula bisa dilihat sebagai cerminan dari Jahiliyah modern. Jika dulu kaum Tsamud dihancurkan karena kesombongan dan kemaksiatan, kini kawasan yang sama menjadi panggung bagi aktivitas yang oleh sebagian pihak dianggap melanggar hukum syariat. Dugem, konsumsi alkohol, dan pesta malam adalah perilaku yang mengingatkan pada kebiasaan masyarakat Jahiliyah pra-Islam. Seorang ulama pernah berkata, “Jahiliyah bukan hanya tentang zaman, tetapi tentang hati yang lupa pada Allah.” Dalam konteks ini, Al-Ula menjadi simbol dari hati yang tergoda oleh gemerlap duniawi, mengabaikan peringatan sejarah dan agama.
Kritik ini tidak hanya datang dari kalangan konservatif. Banyak warga Saudi sendiri yang merasa bahwa pengembangan Al-Ula telah melampaui batas. Mereka mempertanyakan mengapa sebuah tempat yang memiliki makna spiritual dan sejarah kelam justru dijadikan pusat hiburan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. “Dulu Nabi melarang kita masuk ke sana, sekarang kita malah bikin pesta di tempat itu,” tulis seorang netizen di X, menunjukkan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh sebagian masyarakat.
Pandangan Lain: Modernisasi atau Penghianatan?
Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa pengembangan Al-Ula adalah langkah maju. Pemerintah Saudi menegaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk melestarikan warisan budaya sekaligus mendiversifikasi ekonomi yang selama ini bergantung pada minyak. Dengan menarik wisatawan global, Al-Ula tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga memperkenalkan sejarah Arab pra-Islam ke dunia. UNESCO pun mendukung upaya ini dengan mengakui Mada’in Saleh sebagai warisan dunia, menunjukkan bahwa ada nilai universal dalam pelestarian situs tersebut.
Namun, pertanyaan mendasar tetap ada: apakah modernisasi ini dilakukan dengan cara yang menghormati sejarah dan ajaran agama? Bagi pendukung modernisasi, Al-Ula adalah bukti bahwa Saudi bisa beradaptasi dengan dunia global tanpa kehilangan identitasnya. Tetapi bagi kritikus, mengubah tempat terkutuk menjadi pusat maksiat adalah bentuk penghianatan terhadap nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi. Perdebatan ini mencerminkan dilema yang lebih besar: bagaimana menyeimbangkan kemajuan dengan moralitas?
Kesimpulan: Pelajaran dari Al-Ula
Transformasi Al-Ula dari kota terkutuk menjadi destinasi wisata global adalah cerminan dari tantangan yang dihadapi di era modern. Di satu sisi, ada keinginan untuk maju, berkembang, dan bersaing di panggung dunia. Di sisi lain, ada risiko kehilangan akar spiritual dan moral yang menjadi pondasi masyarakat. Bagi sebagian orang, Al-Ula adalah kisah sukses modernisasi. Namun bagi yang lain, ini adalah peringatan bahwa kita “makin kesini makin balik ke jaman Jahiliyah.”
Sejarah Al-Ula mengajarkan kita tentang bahaya kesombongan dan kemaksiatan, sebagaimana yang dialami kaum Tsamud. Transformasinya saat ini menantang kita untuk bertanya: apakah kita belajar dari masa lalu, atau justru mengulangi kesalahan yang sama dengan wajah baru? Sebagai masyarakat, kita perlu kritis terhadap arah yang kita ambil, memastikan bahwa kemajuan tidak datang dengan mengorbankan nilai-nilai yang telah menjaga kita selama berabad-abad. Al-Ula bukan hanya tentang batu dan pasir; ini tentang hati, moral, dan bagaimana kita memilih untuk menghadapi masa depan.

