Anak Polah, Wong Tuwo Kepradah

Pembangunan istana Kerajaan Pulau Majeti oleh para anak buah Prabu Selang Kuning
Pembangunan istana Kerajaan Pulau Majeti oleh para anak buah Prabu Selang Kuning dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan Raja. Mereka memberontak dari pemerintah sah. Inilah ilustrasi kerjasama dalam hal kejahatan yang dapat merugikan banyak pihak.

Unen-unen Jawa berbunyi anak polah bapa kepradah berlaku bagi setiap perbuatan kids jaman now. Kali ini terjadi di lingkungan tempat tinggal saya. Empat orang remaja berbaju klub sepakbola warna hijau terlibat baku hantam dengan sekumpulan remaja berbaju hitam. Kejadian rusuh antar suporter bola seperti ini bukan baru pertama kali ada di Indonesia. Namun bagi saya, peristiwa ini jadi sangat monumental karena satu dari empat remaja itu tidak sadar diri karena gegar otak.

Bukan sekali dua kali saya mengingatkan anak-anak untuk menjauhi perkumpulan dan organisasi tidak jelas dan bersifat merusak keamanan masyarakat. Saya sering berkoar-koar di sekolah, di masjid, maupun di masyarakat. Nyatanya mereka tidak menggubris. Ucapan saya tidak mereka dengar. Kalau sudah ada kejadian seperti ini baru tahu rasa. Sudah miskin, banyak polah lagi. Duh, bikin susah orang tua.

Keempat remaja putra itu adalah para anak yatim. Artinya, mereka semuanya tidak memiliki ayah. Bahkan tiga dari empat remaja itu pernah bergabung dalam Sanggar Genius beberapa tahun silam. Rupanya pendidikan karakter yang selama ini mereka terima di sekolah maupun di sanggar belajar tidak cukup untuk menumbuhkan kesadaran diri.

Tugas berat para orang tua jaman sekarang adalah menumbuhkan rasa malu dalam diri anak-anaknya. Kids jaman now makin sedikit memiliki rasa malu. Mereka tidak punya rasa malu untuk berbuat semaunya sendiri, membuat keributan dan melakukan tindak kriminalitas layaknya orang dewasa. Tidak terpikirkan oleh mereka dampak dan akibat perbuatan itu.

Sekalipun Pak Modin, Kepala Dusun, Kepala Desa dan tokoh masyarakat berteriak lantang hari ini, itu tak ubahnya memarahi kegagalan diri mereka sendiri dalam membina generasi muda. Telat! Kemana mereka semua setahun yang lalu saat gejala perilaku menyimpang itu telah tampak di hadapan mata.

Kini perangkat agama menyarankan para pemuda untuk giat dalam aktifitas keagamaan di masjid. I tell you the truth: masjid dan TPQ bukanlah rumah sakit jiwa tempat penyembuhan pemuda sakit jiwa. Percuma mengirim anak-anak ke masjid dan TPQ selama para orang tua tidak bisa memberi teladan. Belajar di TPQ itu cuma satu jam sehari. Apakah pantas Anda berharap waktu 1 jam itu bisa memperbaiki contoh kemaksiatan selama 23 jam yang tampak di depan anak?

Pikiren dewe!

Bagikan artikel ini melalui:

7 Replies to “Anak Polah, Wong Tuwo Kepradah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *