Sing Sopo Lali Marang Kebecikaning Liyan, Iku Koyo Kewan

Ilustrasi manusia berburu macan - Gambar diambil dari Kompasiana.com
Ilustrasi manusia berburu macan – Gambar diambil dari Kompasiana.com

Bagaimana kabar sobat blogger Jombang hari ini? The Jombang Taste kembali menyapa Anda dengan artikel kata-kata mutiara Bahasa Jawa. Nasehat bijak kali ini datang dari petuah Bahasa Jawa: Sing Sopo Lali Marang Kebecikaning Liyan, Iku Koyo Kewan. Kata-kata bijak Bahasa Jawa ini kurang lebih memiliki arti siapa yang melupakan kebaikan orang lain, itu seperti binatang. Paribasan Basa Jawa ini mengajarkan kepada Anda untuk menghargai kebaikan orang lain meskipun hanya sedikit saja.

Manusia mempunyai reward circuit atau sirkuit penghargaan, bila dia dihargai karena suatu kebaikan yang telah dilakukan maka dia akan lebih baik lagi kepada kita. Namun tidak semua orang memanfaatkan sirkuit ini. Orang Jawa telah terbiasa berusaha menyenangkan orang lain dan tidak sanggup melukai perasaan orang lain. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan di masyarakat bahwa tiap kali seorang Jawa yang sedang berbahagia selalu memberi hantaran pada tetangga kiri kanan (Sudjono: 2013).

Hal ini kemudian diperkuat oleh bunyi falsafah lain yang berbunyi: “Yen siro dibeciki liyan tulisen ing watu, yen sira gawe kebecikan tulisen ing lemah“. Artinya, jika anda diberi kebaikan oleh orang lain, tulislah pada batu. Tetapi jika anda berbuat baik, tulislah pada tanah. Dengan kata lain, jangan pernah menghitung-hitung kebaikan kita pada orang lain akan tetapi hitung dan ingatlah kebaikan orang lain terhadap kita. Dengan begitu, kita akan menjadi manusia yang punya rasa balas budi dan membalas kebaikan orang lain.

Orang yang suka menghitung kebaikan yang telah dilakukan pada orang lain maka akan menggerus rasa ikhlas dalam dirinya. Sebaliknya, rasa pamrih mulai muncul dan semakin besar perkembangannya hingga pada akhirnya menjadi semangat memamerkan kebaikan diri. Nasehat bijak masyarakat Jawa mengajarkan kepada kita semua agar tidak mengingat bantuan yang telah kita lakukan pada orang lain. Biarlah Tuhan mencatat amal baik Anda dan Tuhan tidak akan pernah salah memberi balasan kepada manusia.

Walau begitu, janganlah kita berpikir sebaliknya, yaitu jangan selalu mengingat-ngingat kesalahan orang lain tapi selalu ingat-ingatlah kesalahan kita pada orang lain. Orang yang mengingat-ingat kesalahan orang lain akan diliputi rasa dendam. Dendam akan mematikan kreatifitas hidup karena pikiran Anda akan dipenuhi oleh niat jahat. Sebaiknya kita berusaha berprasangka baik terhadap kesalahan orang lain. Dengan begitu kita akan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain dan akan selalu suka berintrospeksi untuk memperbaiki kesalahan diri.

Tidak mengingat-ingat kesalahan orang disini bukan berarti melupakannya karena dengan melupakan kita telah kehilangan kewaspadaan kita. Ajaran ini berarti tetaplah catat kesalahan itu tapi tak usah diungkit-ungkit karena bisa saja itu akan menggangu hubungan kita. Karena tak selamanya orang itu berbuat salah. Bisa saja apa yang dilakukannya pada masa lalu adalah sebuah kekhilafan. Khilaf adalah sifat yang wajar dimiliki oleh manusia. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang hidupnya tidak pernah berbuat salah.

Demikian ulasan singkat The Jombang Taste mengenai kata-kata bijak Bahasa Jawa sebagaimana tertulis dalam buku Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung. Mari membiasakan diri berbuat baik kepada sesama dan tidak perlu mengungkit-ungkit kebaikan Anda di masa lalu. Keadaan Anda hari ini adalah buah perbuatan Anda di masa lalu. Semoga artikel motivasi kehidupan ini bisa bermanfaat untuk Anda. Mari kenali lagi kekayaan budaya Nusantara!

Daftar Pustaka:

Sudjono. 2013. Nguri-uri Pitutur Luhur Falsafah Adi Luhung. CV. Karya Mandiri Sentosa: Ngawi

10 Replies to “Sing Sopo Lali Marang Kebecikaning Liyan, Iku Koyo Kewan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *