Membangun Ekosistem Kreativitas di Kota Santri: Menelusuri Jejak Langkah Penyusunan Blueprint Jombang Creative Hub (JCH)

Di tengah arus digitalisasi dan pergeseran ekonomi global yang semakin menuntut inovasi, Kabupaten Jombang mengambil langkah berani dan strategis untuk memposisikan dirinya sebagai pusat kreativitas baru di Jawa Timur. Pada hari Kamis, 27 November 2025, sebuah momentum penting tercatat dalam sejarah pembangunan daerah ini. Bertempat di Ruang Rapat I Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jombang, Jl. KH. Wahid Hasyim No. 141, digelar Forum Group Discussion (FGD) tentang Penyusunan Blueprint serta Pembangunan dan Pengembangan Jombang Creative Hub (JCH).

Pertemuan yang berlangsung hangat dan produktif mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB ini bukan sekadar rapat koordinasi biasa. Ini adalah perwujudan dari sinergi kolosal yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, pemerintah, akademisi, hingga kaum religius, untuk merumuskan masa depan ekonomi kreatif di Jombang.

Konvergensi Lintas Sektor: Sebuah Kolaborasi Heksa-Helix

Salah satu aspek paling menonjol dari FGD ini adalah komposisi pesertanya. Jika biasanya pembangunan ekonomi kreatif hanya melibatkan pemerintah dan pelaku usaha, Jombang menerapkan pendekatan yang jauh lebih inklusif. Daftar hadir pertemuan ini mencerminkan miniatur kekuatan sosial-ekonomi Kabupaten Jombang.

Tuan rumah, Bappeda Kabupaten Jombang, hadir dengan kekuatan penuh. Kepala Badan memimpin langsung, didampingi oleh jajaran strategisnya: Kepala Bidang Ekonomi (beserta 7 staf), Kepala Bidang Prasarana Wilayah, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia, serta Kepala Bidang Pengendalian dan Evaluasi. Kehadiran tim lengkap Bappeda ini menandakan bahwa JCH bukan proyek tempelan, melainkan masuk dalam prioritas perencanaan jangka panjang daerah.

Dukungan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pun sangat solid. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata hadir bersama para kabidnya, menyadari bahwa JCH akan menjadi destinasi baru dan wadah kepemudaan. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Komunikasi dan Informatika, hingga Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta DPMPTSP turut ambil bagian. Kehadiran Kepala Bagian Perekonomian dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang semakin menegaskan bahwa inisiatif ini didukung secara administratif dan moral.

Namun, yang membuat forum ini istimewa adalah pelibatan elemen pendidikan dan keagamaan yang menjadi ciri khas Jombang. Sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Jombang, Universitas Darul Ulum, Universitas PGRI, Universitas Hasyim Asy’ari, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum, Universitas KH. A. Wahab Hasbullah, hingga Institut Teknologi dan Bisnis PGRI Dewantara, mengirimkan perwakilan humas dan kemahasiswaannya. Tak ketinggalan, pimpinan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP/SMA/SMK/MTs/MA hadir, menyadari bahwa input utama JCH nantinya adalah para pelajar dan mahasiswa ini.

Basis kultural Jombang sebagai Kota Santri direpresentasikan dengan kehadiran pimpinan dari empat pilar pesantren besar: Pondok Pesantren Tebuireng, Bahrul Ulum Tambak Beras, Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Darul Ulum Rejoso Peterongan. Sinergi antara “sarung” dan “teknologi” inilah yang diproyeksikan menjadi DNA unik Jombang Creative Hub.

Di sisi akar rumput ekonomi, hadir pula Ketua Koperasi Desa Merah Putih dari berbagai wilayah (Pulogedang, Banjarsari, Janti) serta Ketua BUMDesa dari Tambakrejo, Ngampungan, dan Miagan. Kehadiran mereka, bersama 5 orang perwakilan pelaku ekonomi kreatif, Ketua KONI (3 orang), serta tim ahli dari Airlangga Executive Education Center (AEEC) UNAIR (6 orang), melengkapi ekosistem diskusi hari itu.

Visi Besar: 17 Sektor dan Semangat Kepemudaan

Dalam sesi pemaparan utama, Sdr. Irfan Kharisma Putra, S.AB., M.AB., selaku Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah Kabupaten Jombang, membedah visi besar di balik pendirian JCH. Dalam presentasinya yang komprehensif, Irfan menegaskan bahwa Jombang Creative Hub tidak didirikan hanya untuk mengikuti tren, melainkan sebagai jawaban atas kebutuhan ruang ekspresi yang selama ini tercecer.

“Jombang Creative Hub akan menjadi rumah bagi 17 sektor ekonomi kreatif ditambah satu seksi khusus olahraga,” papar Irfan di hadapan peserta FGD. Penambahan sektor olahraga ini menarik, mengingat irisan antara gaya hidup sehat, sport-tourism, dan industri kreatif semakin tebal di kalangan anak muda.

Irfan menguraikan empat tujuan fundamental dari pendirian JCH:

  1. Meningkatkan Ekonomi Lokal: Menciptakan nilai tambah dari produk dan jasa berbasis intelektual.

  2. Melestarikan Budaya Lokal: Mengemas tradisi Jombang dalam format kekinian agar relevan bagi generasi Z dan Alpha.

  3. Mendukung Partisipasi Generasi Muda: Memberikan kanal positif untuk energi pemuda Jombang yang melimpah.

  4. Menciptakan Ruang Kolaborasi dan Inovasi: Memecah sekat antar-komunitas agar terjadi persilangan ide yang melahirkan inovasi baru.

Infrastruktur: Dari Tenant hingga Studio Visual

Blueprint yang didiskusikan hari itu tidak hanya bicara konsep abstrak, tetapi juga teknis fasilitas fisik. Jombang Creative Hub dirancang untuk menjadi one-stop solution bagi para kreator.

Dalam rancangannya, JCH akan menyediakan fasilitas yang sangat dibutuhkan di era konten digital. Akan ada bilik khusus untuk konten kreator, memungkinkan para YouTuber, TikToker, atau Podcaster lokal memproduksi konten berkualitas tinggi tanpa harus pergi ke kota besar seperti Surabaya atau Jakarta.

Selain itu, JCH akan menampung Tenant UKM, memberikan etalase premium bagi produk lokal terkurasi. Bagi para musisi yang selama ini kesulitan mencari tempat latihan dan rekaman yang representatif, studio musik berstandar profesional juga masuk dalam daftar fasilitas utama. Tidak ketinggalan, tempat seminar dan tempat workshop video visual disiapkan untuk memfasilitasi transfer ilmu (knowledge transfer) yang berkelanjutan.

Fasilitas ini disiapkan untuk menampung beragam komunitas yang diharapkan akan lahir dan tumbuh besar di JCH. Irfan Kharisma Putra menyebutkan secara spesifik komunitas target yang akan diinkubasi, antara lain: penggiat budaya, komunitas musik, komunitas teater, komunitas kopi (mengingat Jombang memiliki potensi kopi Wonosalam), komunitas fotografi, komunitas lukis, komunitas fashion, hingga komunitas modifikasi otomotif.

Program Unggulan: Santri Digitalpreneur hingga Creative Impact Index

FGD sore itu semakin memanas ketika pembahasan masuk ke ranah program strategis. Gedung hanyalah cangkang, programlah yang menjadi nyawanya. Untuk memastikan JCH hidup dan berdampak, dirumuskanlah enam program strategis unggulan:

  1. Incubator Creative Center: Sebuah program pendampingan intensif bagi startup atau pelaku kreatif pemula untuk mematangkan model bisnis mereka.

  2. Desa Kreatif Terpadu: Program yang mengintegrasikan potensi desa (melalui BUMDesa dan Koperasi yang hadir) dengan sentuhan kreativitas modern, sehingga produk desa memiliki daya saing global.

  3. Santri Digitalpreneur: Ini adalah program “Signature” Jombang. Memanfaatkan jaringan pesantren yang masif, program ini bertujuan mencetak santri yang tidak hanya pandai mengaji kitab kuning, tetapi juga cakap dalam digital marketing, pembuatan konten positif, dan bisnis online.

  4. Creative Market JCH: Sebuah pasar berkala yang menjadi ajang transaksi dan validasi produk bagi para tenant dan komunitas.

  5. Festival Creative Jombang: Event tahunan berskala besar untuk merayakan pencapaian komunitas dan menarik wisatawan luar daerah.

  6. Creative Impact Index: Sebuah alat ukur berbasis data untuk mengevaluasi seberapa besar dampak ekonomi dan sosial yang dihasilkan oleh aktivitas di JCH, memastikan setiap rupiah anggaran yang keluar dapat dipertanggungjawabkan manfaatnya.

Strategi Lokasi: Merebut Kembali Aset Publik

Salah satu poin krusial yang dibahas dalam FGD tersebut adalah kepastian lokasi. Irfan Kharisma Putra menyampaikan kabar baik yang menjadi landasan hukum kuat bagi pendirian JCH. Lokasi permanen Jombang Creative Hub direncanakan akan menempati Ruko Simpang Tiga di Jalan Gus Dur.

Pemilihan lokasi ini sangat strategis. Jalan Gus Dur adalah jantung keramaian Jombang, simbol penghormatan kepada tokoh bangsa, dan mudah diakses dari berbagai penjuru. Sebelumnya, lokasi ini sempat terkendala sengketa kepemilikan yang berlarut-larut. Namun, dalam FGD tersebut ditegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jombang telah memenangkan sengketa kepemilikan Ruko Simpang Tiga melalui keputusan Mahkamah Agung RI. Keputusan ini memberikan legitimasi penuh bagi Pemkab untuk menyulap area yang dulunya semrawut menjadi pusat peradaban baru.

Transformasi Ruko Simpang Tiga menjadi Creative Hub merupakan simbolisasi perubahan wajah kota; dari sekadar area komersial konvensional menjadi pusat inovasi.

Namun, menyadari bahwa renovasi dan pembangunan ulang Ruko Simpang Tiga membutuhkan waktu, semangat komunitas tidak boleh padam menunggu gedung selesai. Oleh karena itu, disepakati sebuah langkah taktis: sebelum gedung utama di Jalan Gus Dur siap, operasional dan penggalangan komunitas Jombang Creative Hub akan dipusatkan sementara di Tirta Wisata Keplaksari, Peterongan.

Lokasi transisi ini dipilih karena memiliki ruang terbuka yang cukup luas dan fasilitas dasar yang memadai untuk kegiatan kumpul komunitas, workshop sederhana, dan pertunjukan seni skala kecil. Langkah ini menunjukkan pragmatisme tim perumus; bahwa pembangunan ekosistem (manusia) harus berjalan paralel dengan pembangunan fisik.

Tantangan dan Harapan

Dalam sesi diskusi, berbagai masukan muncul dari para peserta. Pihak akademisi menyoroti pentingnya kurikulum pelatihan yang sesuai standar industri. Pihak pesantren menekankan agar konten kreatif yang dihasilkan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan kesantunan khas Jombang. Sementara itu, para ketua BUMDesa dan Koperasi berharap JCH bisa menjadi “kakak asuh” yang membantu pemasaran produk-produk desa mereka.

Perwakilan KONI juga menyambut baik masuknya sektor olahraga, menyarankan adanya pojok E-Sports yang kini sedang digandrungi pemuda, sebagai jembatan antara olahraga dan teknologi digital.

Tantangan terbesar ke depan adalah menjaga konsistensi. Banyak creative hub di daerah lain yang mati suri setelah seremoni pembukaan karena kehabisan nafas program. Namun, dengan pelibatan AEEC UNAIR sebagai pendamping ahli dalam penyusunan blueprint, serta struktur kolaborasi yang melibatkan banyak pihak sejak awal, optimisme membumbung tinggi di Ruang Rapat Bappeda sore itu.

Penutup

Pukul 16.00 WIB, FGD berakhir dengan sejumlah catatan penting yang akan dituangkan dalam dokumen final Blueprint Jombang Creative Hub. Pertemuan hari Kamis, 27 November 2025 ini, kelak akan dikenang sebagai titik nol kebangkitan ekonomi kreatif Kabupaten Jombang.

Jombang Creative Hub bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah manifestasi dari mimpi kolektif masyarakat Jombang untuk melihat daerahnya maju tanpa kehilangan jati diri. Dengan memadukan kekuatan santri, energi pemuda, kearifan lokal, dan teknologi digital, Jombang siap bertransformasi menjadi salah satu barometer ekonomi kreatif di Jawa Timur. Dari Ruko Simpang Tiga di Jalan Gus Dur, cahaya kreativitas itu akan segera bersinar terang.

Tinggalkan komentar