Seni pertunjukan Sanduk dari Batu merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang mencerminkan harmoni antara tradisi dan kebersamaan masyarakat. Berasal dari Kota Batu, Jawa Timur, Sanduk bukan hanya tarian, melainkan simbol gotong royong dan ungkapan syukur atas hasil panen. Dalam era modern di mana budaya tradisional sering terpinggirkan oleh arus globalisasi, Sanduk tetap bertahan sebagai ikon budaya lokal. Artikel ini akan membahas asal usul Sanduk, statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI), upaya pelestarian seni pertunjukan tradisional ini, serta tantangan yang dihadapi pemerintah dan seniman dalam mengembangkannya. Melalui pemahaman mendalam, diharapkan masyarakat semakin menghargai dan ikut melestarikan warisan ini, yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkuat identitas nasional.
Asal Usul Seni Pertunjukan Sanduk
Asal usul seni pertunjukan Sanduk tidak bisa dipisahkan dari sejarah migrasi dan akulturasi budaya di Jawa Timur. Sanduk awalnya berasal dari Madura, di mana tarian ini difungsikan sebagai bagian dari ritual adat untuk menyambut hasil panen atau perayaan keagamaan. Para penari, baik pria maupun wanita, mengenakan baju tradisional Madura yang didominasi warna merah cerah, melambangkan semangat dan keberanian. Gerakan tariannya dinamis, melibatkan banyak orang, mencerminkan nilai gotong royong yang kuat dalam masyarakat Madura.
Ketika dibawa ke Kota Batu sekitar tahun 1962, Sanduk mengalami akulturasi dengan budaya Jawa setempat. Tokoh seperti Bang Miun dari Kampung Meduran, Kelurahan Sisir, menjadi pelopor dalam mengembangkan seni ini. Grup Seni Sanduk Bang Miun lahir sebagai bentuk ungkapan syukur atas panen melimpah di daerah pegunungan Batu yang subur. Awalnya, pertunjukan ini sederhana, dilakukan di desa-desa sebagai hiburan komunal. Seiring waktu, Sanduk berkembang menjadi seni pertunjukan yang lebih terstruktur, dengan iringan musik gamelan campur sari dan kostum yang memadukan elemen Madura-Jawa.
Kota Batu, yang dikenal sebagai pusat pariwisata, memberikan ruang bagi Sanduk untuk berkembang. Pada era 1970-an, seni ini mulai ditampilkan di festival lokal, seperti Festival Sanduk Idola. Karakteristik unik Sanduk terletak pada partisipasi massal, di mana hampir seluruh peserta adalah kaum perempuan, mencerminkan peran wanita dalam masyarakat Batu yang suka bergotong royong. Atribut Madura seperti kain sarung dan selendang tetap dipertahankan, tapi ditambah dengan elemen Jawa seperti kebaya dan jarik, menciptakan cita rasa khas Batu.
Sejarah Sanduk juga terkait dengan migrasi masyarakat Madura ke Batu pada abad ke-19, saat pembukaan lahan pertanian. Mereka membawa tradisi seni untuk mempertahankan identitas di tanah baru. Saat ini, Sanduk bukan lagi ritual semata, tapi telah menjadi bagian dari identitas Kota Batu, sering ditampilkan di acara wisata seperti Sendratari Arjuna Wiwaha. Evolusi ini menunjukkan bagaimana seni tradisional beradaptasi dengan zaman, dari fungsi sakral menjadi hiburan edukatif yang memperkaya pariwisata budaya.
Dalam konteks lebih luas, asal usul Sanduk mirip dengan seni pertunjukan lain di Indonesia, seperti Tari Saman dari Aceh atau Reog Ponorogo, yang lahir dari kehidupan agraris dan spiritual masyarakat. Namun, keunikan Sanduk terletak pada inklusivitasnya, di mana siapa saja bisa ikut serta, tanpa batasan usia atau gender. Ini membuat Sanduk menjadi simbol persatuan di tengah keragaman budaya Indonesia.
Sanduk sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Pada 7 Oktober 2025, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI secara resmi menetapkan Tari Sanduk sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Pengakuan ini menjadi tonggak penting bagi Kota Batu, yang kini semakin mantap sebagai kota wisata budaya. Sanduk termasuk dalam domain seni pertunjukan, bersama dengan warisan lain seperti Tari Topeng Kona atau Selametan Gugur Gunung dari daerah lain.
Proses penetapan dimulai sejak 2023, ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mendaftarkan Sanduk dan Glendo Barong sebagai calon WBTBI. Setelah tujuh tahun perjuangan, pengakuan ini akhirnya diraih, menjadikan Sanduk bagian dari 2.727 warisan budaya tak benda yang telah ditetapkan hingga 2025. Status ini bukan hanya formalitas, tapi pengakuan atas nilai-nilai yang terkandung di dalamnya: kebersamaan, syukur, dan pelestarian tradisi.
Sebagai WBTBI, Sanduk diakui sebagai simbol identitas budaya Kota Batu, yang sarat makna filosofis. Tarian ini mencerminkan semangat guyub rukun, di mana penari bergerak secara kolektif, melambangkan harmoni sosial. Pengakuan ini juga membuka peluang untuk promosi internasional, mirip dengan Wayang Kulit yang telah diakui UNESCO. Di Festival Sanduk 2025, penetapan ini dirayakan dengan pesta seni non-kompetitif, menegaskan komitmen pelestarian.
Dalam daftar WBTBI, Sanduk bergabung dengan kesenian lain seperti Bantengan atau Jaran Dor dari Batu sendiri. Ini memperkaya khazanah budaya nasional, di mana seni pertunjukan menjadi alat pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Pengakuan WBTBI juga mendorong penelitian akademik, agar generasi muda memahami akar budayanya.
Usaha Melestarikan Seni Pertunjukan Tradisional Sanduk
Upaya pelestarian Sanduk melibatkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan masyarakat. Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu menjadi motor utama, dengan menggelar Festival Sanduk tahunan sejak 2018. Festival ini tidak kompetitif, tapi fokus pada partisipasi massal, seperti pada 2025 di mana ratusan penari tampil bersama. Peserta diberi sertifikat dan uang pembinaan, mendorong regenerasi.
Paguyuban Seni Sanduk Kota Batu berperan aktif dalam pelatihan dan pertunjukan rutin. Mereka mengadakan latihan di desa-desa, mengajak anak muda ikut serta. Batu Culture Festival, digelar setiap Juni, menyajikan Sanduk bersama seni lain seperti Jaranan dan Bantengan. Pada 2022, festival ini membangkitkan semangat pasca-pandemi, dengan pertunjukan di Sendratari Arjuna Wiwaha.
Pemkot Batu juga mengintegrasikan Sanduk ke wisata, seperti di Festival Songgokerto ‘We Care’ 2018. Upaya ini mencakup dokumentasi video dan buku, serta kolaborasi dengan sekolah untuk memasukkan Sanduk ke kurikulum ekstrakurikuler. Media sosial digunakan untuk promosi, menarik wisatawan domestik dan mancanegara.
Secara nasional, pengakuan WBTBI mendorong dana hibah untuk pelestarian. Seniman seperti Katarina Dian aktif bercerita tentang sejarah Sanduk, memastikan pengetahuan turun-temurun. Usaha ini mirip dengan pelestarian Tabuik di Pariaman, yang matangkan rencana UNESCO.
Tantangan yang Dihadapi Pemerintah dan Seniman dalam Usaha Mengembangkan Seni Pertunjukan Sanduk
Meski banyak upaya, pengembangan Sanduk menghadapi tantangan serius. Pertama, minimnya eksplorasi seni budaya dalam industri pariwisata membuat Sanduk kurang dikenal secara luas. Pemerintah harus mengembangkan kompetisi antar masyarakat dan swasta untuk pelayanan publik yang lebih baik. Di Batu, tantangan ini terlihat dari kurangnya data pendukung untuk promosi.
Kedua, regenerasi seniman menjadi masalah. Generasi muda lebih tertarik pada budaya pop, membuat sulit merekrut penari baru. Seniman seperti di Paguyuban Sanduk harus berjuang melawan arus modernisasi. Mobilitas internasional dan domestik juga jadi kendala, di mana seniman kesulitan berpindah untuk tampil.
Ketiga, keterbatasan dana dan fasilitas. Pemerintah Kota Batu bergantung pada anggaran terbatas, sementara seniman butuh pelatihan dan alat musik yang mahal. Pengembangan desa kreatif seperti di Batu menghadapi tantangan konsep dan strategi. Globalisasi juga mengancam, di mana pengaruh budaya asing bisa merusak autentisitas Sanduk.
Keempat, koordinasi antara pemerintah dan seniman sering tidak sinkron. Misalnya, dalam event seperti Obah Nggedruk Bumi, tantangan logistik muncul. Pandemi COVID-19 memperburuk, menghentikan pertunjukan dan mengurangi minat masyarakat. Untuk mengatasi, diperlukan reinventing government, seperti di Disparta Batu, dengan fokus pada pembinaan pelaku usaha.
Tantangan ini mirip dengan seni lain di Indonesia, seperti Kesenian Ludruk di Kabupaten Jombang, yang butuh inovasi untuk bertahan. Namun, dengan komitmen kuat, seperti yang ditunjukkan Wali Kota Batu, pengembangan bisa berhasil.
Kesimpulan
Seni pertunjukan Sanduk dari Batu adalah warisan berharga yang menyatukan asal usul Madura-Jawa, status WBTBI, upaya pelestarian melalui festival, dan tantangan pengembangan di era modern. Dengan kolaborasi yang lebih baik, Sanduk bisa menjadi aset nasional yang mendukung pariwisata dan identitas budaya. Mari kita dukung pelestarian ini agar generasi mendatang tetap bisa menikmati keindahannya.






