Sejarah Penemuan Situs Mbah Blawu di Jombang
Situs Mbah Blawu merupakan salah satu penemuan arkeologi yang menarik perhatian para sejarawan dan arkeolog di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur. Terletak di Dusun Sumbersari, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, situs ini bukan hanya sebuah lokasi purbakala, tetapi juga objek ziarah spiritual bagi masyarakat setempat. Nama “Mbah Blawu” merujuk pada seorang tokoh legendaris yang dihormati sebagai sesepuh desa, dengan makamnya menjadi pusat pemujaan atau punden. Situs ini dikelilingi oleh hamparan perkebunan tebu, sekitar 300 meter di sebelah barat kantor Desa Sukosari, menjadikannya sebagai warisan budaya yang tersembunyi di tengah kehidupan pedesaan modern. Penemuan situs ini membuka jendela baru terhadap peradaban kuno di Jawa, terutama era pra-Majapahit, yang sering kali terlupakan di balik gemerlap sejarah kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit.
Latar belakang penemuan Situs Mbah Blawu bermula dari cerita rakyat dan observasi awal masyarakat. Sejak lama, warga Desa Sukosari menyadari adanya sisa-sisa batu bata kuno yang berserakan di sekitar makam Mbah Blawu. Makam ini dikenal sebagai Makam Sentono, tempat di mana orang-orang datang untuk berziarah dan memohon berkah. Legenda menyebutkan bahwa Mbah Blawu adalah seorang wali atau kyai yang memiliki ilmu spiritual tinggi, meskipun identitas historisnya masih kabur. Namun, baru pada awal tahun 2018, Jombang digegerkan oleh penemuan benda-benda purbakala di kompleks makam tersebut. Temuan ini berawal dari penyerahan arca dari Candi Pandegong kepada dinas terkait, yang kemudian memicu penelusuran lebih lanjut oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Upaya ini didorong oleh permintaan tokoh masyarakat setempat yang khawatir terhadap kelestarian situs di tengah ancaman pertanian dan pembangunan.
Proses penemuan secara resmi dimulai pada tahun 2019, ketika BPCB Jawa Timur (kini berganti nama menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan atau BPK Wilayah XI) melakukan evaluasi awal dan ekskavasi tahap pertama. Ekskavasi ini dilakukan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, dengan dukungan dana dari pemerintah daerah. Pada tahap awal, tim arkeolog menemukan sisa struktur bangunan di sekitar makam, termasuk pola struktur candi yang unik. Struktur tersebut berbentuk huruf T, dengan ukuran persegi sekitar 9 x 9 meter, dan kaki candi tersusun dari bata merah kuno dengan ketebalan 11 cm—lebih besar daripada bata peninggalan Majapahit di Mojokerto. Temuan ini mengejutkan karena menunjukkan adanya pengaruh arsitektur dari era lebih tua.
Pada tahun 2022, ekskavasi dilanjutkan ke tahap kedua, yang berfokus pada sumuran dan area sekitarnya. Ekskavasi ini berlangsung selama enam hari mulai 19 September 2022, dengan anggaran Rp50 juta dari Pemkab Jombang. Hasilnya luar biasa: ditemukan sumuran untuk peletakan peripih, tengkorak manusia, batu andesit lonjong, serta struktur bata berbentuk kotak. Di sisi barat, terungkap tembok tebal setebal 80 cm dengan permukaan rata, diduga sebagai pondasi atau pagar candi utama. Sementara di sisi timur, ada struktur bata sepanjang 2 meter dengan lima lapisan, yang menjorok di bagian bawah. Selain itu, artefak seperti koin kuno, pecahan benda dari tanah liat, batu umpak andesit, dan potongan arca (hanya bagian dada, lengan, dan perut) juga ditemukan. Temuan ini memperkaya data arkeologi, meskipun belum ada prasasti atau angka tahun yang menentukan usia pasti.
Dari segi analisis sejarah, arkeolog menduga situs ini berasal dari era Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Mpu Sindok (abad ke-10 Masehi). Dugaan ini didasarkan pada kesamaan ukuran bata dengan Candi Pandegong di Jombang, yang juga dari periode yang sama. Struktur candi yang langka ini menunjukkan pengaruh peradaban pra-Majapahit, di mana masyarakat kuno membangun tempat suci dengan teknik bata merah yang kuat. Tidak seperti candi Majapahit yang lebih rumit, situs ini lebih sederhana namun mencerminkan transisi budaya di Jawa Timur. Penemuan ini membantah anggapan bahwa wilayah Jombang hanya kaya akan peninggalan Islam atau Majapahit, melainkan memiliki akar Hindu-Buddha yang lebih dalam.
Signifikansi Situs Mbah Blawu tidak hanya terletak pada nilai historisnya, tetapi juga pada potensi wisata dan pendidikan. Situs ini menjadi bukti peradaban kuno yang membuka wawasan tentang masyarakat pra-Majapahit, termasuk praktik keagamaan dan arsitektur mereka. Namun, tantangan pelestarian muncul, seperti dugaan perusakan pada 2023 dan ancaman dari aktivitas pertanian. Pemerintah daerah dan BPK terus berupaya melindungi situs ini melalui kajian lanjutan dan promosi sebagai destinasi wisata sejarah. Pada 2024, ada rencana ekskavasi lebih lanjut untuk mengungkap bagian candi yang masih terkubur.
Sejarah penemuan Situs Mbah Blawu di Jombang adalah cerita tentang bagaimana warisan kuno bisa tersembunyi di balik tradisi spiritual modern. Dari temuan awal pada 2018 hingga ekskavasi mendalam pada 2022, situs ini telah mengungkap jejak Kerajaan Medang yang langka. Penemuan ini tidak hanya memperkaya khazanah sejarah Indonesia, tetapi juga mengajak kita untuk lebih menghargai dan melestarikan peninggalan leluhur. Dengan terusnya penelitian, diharapkan misteri Mbah Blawu akan semakin terkuak, memberikan kontribusi bagi pemahaman kita tentang masa lalu Jawa yang gemilang.
Peran Juru Pemelihara Situs pada Situs Mbah Blawu di Jombang
Situs Mbah Blawu di Dusun Sumbersari, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bukan hanya sebuah lokasi arkeologi yang menyimpan misteri peradaban kuno, tetapi juga pusat ziarah spiritual bagi masyarakat setempat. Situs ini mencakup makam Mbah Blawu, seorang tokoh legendaris yang dihormati sebagai sesepuh desa, serta sisa-sisa struktur candi dari era pra-Majapahit. Di tengah ancaman modern seperti limbah berbahaya dan aktivitas pertanian, peran juru pemelihara situs (jupel) menjadi sangat krusial. Mereka adalah ujung tombak pelestarian cagar budaya, memastikan kelestarian situs ini untuk generasi mendatang.
Latar belakang Situs Mbah Blawu bermula dari penemuan sisa batu bata kuno yang berserakan di sekitar makam. Pada 2019, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur melakukan ekskavasi awal, mengungkap struktur candi berbentuk huruf T dengan bata merah tebal 11 cm, diduga dari masa Kerajaan Medang abad ke-10. Ekskavasi lanjutan pada 2022 menemukan sumuran, tengkorak manusia, dan artefak seperti koin kuno serta potongan arca. Situs ini unik karena menggabungkan unsur spiritual dan historis, di mana makam Mbah Blawu menjadi punden pemujaan. Namun, tanpa pemeliharaan yang tepat, situs ini rentan rusak, seperti yang terjadi pada 2022 ketika limbah B3 mengancam area ekskavasi. Di sinilah juru pemelihara berperan sebagai penjaga harian.
Juru pemelihara situs cagar budaya, atau jupel, adalah tenaga teknis yang ditunjuk oleh instansi terkait seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) atau BPK. Di Indonesia, peran mereka diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menekankan tanggung jawab untuk merawat, memelihara, dan menjaga keamanan. Di Situs Mbah Blawu, jupel biasanya berasal dari masyarakat lokal, seperti warga Desa Sukosari, yang memiliki ikatan emosional dengan situs tersebut. Seleksi mereka melibatkan pengetahuan tentang sejarah lokal dan komitmen terhadap pelestarian. Pada 2022, Disdikbud Jombang menekankan pentingnya jupel pasca-ekskavasi untuk menjaga keberlangsungan situs. Mereka bukan sekadar penjaga, tapi juga penghubung antara pemerintah, arkeolog, dan masyarakat. Juru pelihara situs Mbah Blawu sekarang adalah Saga Pranata.
Peran utama juru pemelihara di Situs Mbah Blawu dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: pengamanan, pemeliharaan, dan edukasi. Pertama, pengamanan persuasif menjadi tugas pokok. Mereka bertanggung jawab mencegah kerusakan dari faktor eksternal, seperti vandalisme, pencurian artefak, atau gangguan dari hewan liar. Di situs ini, yang dikelilingi perkebunan tebu, jupel harus mengawasi agar alat pertanian tidak merusak struktur bata kuno. Mereka juga melaporkan ancaman seperti limbah B3 ke DLH atau Disdikbud, sebagaimana yang terjadi pada ekskavasi 2022. Kedua, pemeliharaan harian mencakup membersihkan lingkungan situs. Ini termasuk menyapu daun jatuh, memotong rumput, membersihkan lumut dari batu bata menggunakan sikat serat alami, dan memastikan drainase baik untuk mencegah banjir. Di Situs Mbah Blawu, yang memiliki elemen spiritual, jupel juga merawat makam dengan membersihkan area ziarah, mengganti kain penutup, dan memastikan kebersihan untuk peziarah. Prosedur ini sesuai dengan standar pelestarian, menghindari bahan kimia yang bisa merusak bata kuno.
Ketiga, peran edukasi dan informasi sangat penting, terutama karena situs ini sering dikunjungi peziarah dan wisatawan. Jupel memberikan penjelasan tentang sejarah situs, seperti dugaan asal-usul dari era Empu Sindok, dan mengingatkan pengunjung untuk tidak merusak artefak. Mereka juga memandu tur sederhana, menjelaskan temuan seperti sumuran peripih atau potongan arca, sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang nilai cagar budaya. Di Jombang, jupel sering berkoordinasi dengan desa untuk acara budaya, seperti upacara ziarah tahunan, yang memperkuat ikatan komunal. Selain itu, mereka melaporkan kondisi situs secara berkala ke BPK, membantu dalam kajian lanjutan atau ekskavasi. Peran ini membuat jupel menjadi “kuncen” modern, menggabungkan tradisi spiritual dengan pendekatan ilmiah.
Meski demikian, juru pemelihara menghadapi tantangan signifikan. Di Situs Mbah Blawu, ancaman utama adalah pembangunan infrastruktur dan polusi dari limbah industri terdekat, yang memerlukan advokasi ekstra dari jupel. Kondisi hidup mereka sering memprihatinkan, dengan gaji minim dan kurangnya fasilitas, meskipun peran mereka vital. Peningkatan kapasitas, seperti pelatihan yang dilakukan Disbudpar Jatim pada 2024, membantu mereka dalam teknik pemeliharaan modern. Contohnya, jupel di situs serupa seperti Candi Ijo di Yogyakarta, yang membersihkan lumut dan mengawasi pengunjung, bisa menjadi model untuk Mbah Blawu.
Juru pemelihara situs di Situs Mbah Blawu memainkan peran multifaset sebagai penjaga, pemelihara, dan pendidik, yang esensial untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Tanpa dedikasi mereka, situs ini mungkin hilang ditelan zaman. Pemerintah dan masyarakat perlu lebih mendukung jupel melalui anggaran dan pelatihan, agar Mbah Blawu tetap menjadi saksi bisu peradaban kuno. Dengan demikian, peran mereka tidak hanya menjaga batu bata tua, tapi juga identitas bangsa.
Pengembangan Situs Mbah Blawu sebagai Tempat Wisata Edukasi Sejarah di Jombang
Situs Mbah Blawu, yang terletak di Dusun Sumbersari, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bukan hanya sebuah peninggalan arkeologi, tetapi juga potensi emas untuk wisata edukasi sejarah. Dikelilingi hamparan perkebunan tebu, situs ini menyimpan struktur candi kuno dari era Kerajaan Medang abad ke-10 Masehi, era Mpu Sindok, yang menandai transisi peradaban dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Sebagai makam Mbah Blawu atau Makam Sentono yang juga menjadi pusat ziarah spiritual, situs ini menggabungkan dimensi historis, mistis, dan budaya lokal. Pengembangan situs ini sebagai destinasi wisata edukasi bukan hanya soal menarik pengunjung, tapi juga membangun kesadaran kolektif tentang warisan leluhur. Dengan roadmap pariwisata Jombang hingga 2045 yang sedang disusun pada 2025, Situs Mbah Blawu berpotensi menjadi ikon baru di tengah 20 tahun rencana strategis sektor pariwisata daerah.
Penemuan situs ini bermula dari ekskavasi awal pada 2019 oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, yang mengungkap pola struktur candi berbentuk huruf T dengan bata merah tebal 11 cm—lebih besar dari peninggalan Majapahit. Tahap kedua pada 2022 menemukan sumuran candi berukuran 1,5 x 1,5 meter, umpak batu andesit, dan artefak seperti potongan arca serta koin kuno. Ekskavasi ini, didanai Pemkab Jombang sebesar Rp50 juta per tahap, menegaskan usia situs lebih dari seribu tahun, unik karena menghadap utara sesuai pola Hindu-Buddha klasik. Temuan ini membuka peluang pengembangan, di mana situs tidak lagi hanya objek penelitian, tapi wahana belajar interaktif. “Harapan kita setelah dilakukan ekskavasi juga ada upaya pemanfaatan situs menjadi wahana edukasi maupun wisata agar dapat mengangkat potensi sejarah Jombang,” ujar pejabat terkait.
Pengembangan Situs Mbah Blawu sebagai wisata edukasi sejarah direncanakan secara bertahap, dengan fokus utama pada pelestarian terlebih dahulu. Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang, Senen, koordinasi dengan pihak desa menjadi langkah awal sebelum membuka akses wisata. “Kalau terkait wisata nanti akan kami koordinasikan dengan pihak desa terlebih dahulu. Saat ini fokus kami pemeliharaan dan penyelamatan unsur sejarahnya.” Rencana ini selaras dengan Renstra Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Jombang 2024-2026, yang menekankan pemanfaatan cagar budaya untuk pendidikan dan ekonomi kreatif. Pada 2025, pembahasan Raperda Pariwisata di DPRD Jombang menargetkan visi Jombang sebagai destinasi wisata berkelanjutan, dengan situs sejarah seperti Mbah Blawu sebagai prioritas. Infrastruktur dasar seperti jalur pejalan kaki, papan informasi interaktif, dan pos pengunjung direncanakan dibangun pada 2026, didukung anggaran daerah dan kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Program edukasi menjadi jantung pengembangan ini. Situs Mbah Blawu bisa diubah menjadi “museum terbuka” dengan tur guidenarasi yang dipandu juru pemelihara lokal (jupel). Pengunjung, terutama pelajar, akan belajar tentang era Mpu Sindok melalui rekonstruksi 3D struktur candi, workshop arkeologi sederhana, dan cerita lisan tentang Mbah Blawu sebagai wali spiritual. Integrasi dengan kurikulum sekolah Jombang memungkinkan kunjungan lapangan rutin, di mana siswa menggali artefak replika atau mendiskusikan transisi kerajaan Medang ke Majapahit. Selain itu, festival tahunan “Jejak Sindok” bisa diadakan, menggabungkan seni tradisional, seminar sejarah, dan pameran artefak, menarik wisatawan dari Surabaya dan Mojokerto. Potensi ekonomi muncul melalui homestay desa dan kuliner lokal, sambil menjaga keberlanjutan lingkungan—misalnya, larangan limbah B3 yang pernah mengancam situs pada 2022.
Tantangan pengembangan tidak sedikit. Lokasi di tengah persawahan membuat akses sulit, terutama saat musim hujan, sementara ancaman vandalisme dan pertanian modern memerlukan pengamanan ketat. Solusinya adalah pelatihan jupel untuk pengawasan 24 jam dan kampanye kesadaran masyarakat melalui media sosial. Pada 2025, video dokumenter seperti “Penemuan Situs Blawu” telah mempromosikan situs sebagai sumber edukasi, menjangkau jutaan penonton dan mendorong kunjungan awal. Kolaborasi dengan universitas seperti Universitas Negeri Surabaya untuk riset lanjutan juga krusial, memastikan pengembangan berbasis ilmu.
Secara keseluruhan, pengembangan Situs Mbah Blawu sebagai wisata edukasi sejarah di Jombang adalah investasi jangka panjang. Dengan roadmap 20 tahun yang ambisius, situs ini bisa menjadi “Borobudur mini” Jawa Timur, membangkitkan rasa bangga lokal sambil berkontribusi pada PDB pariwisata daerah. Bagi generasi muda, ini adalah pelajaran hidup: bagaimana batu bata tua menceritakan kisah peradaban. Pemerintah, masyarakat, dan akademisi harus bersinergi agar Mbah Blawu bukan hanya bertahan, tapi berkembang menjadi mercusuar sejarah yang hidup. Hanya dengan begitu, warisan abad ke-10 ini akan relevan hingga 2045 dan seterusnya.
Hambatan Pelestarian Situs Mbah Blawu di Jombang
Situs Mbah Blawu, terletak di Dusun Sumbersari, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, merupakan warisan arkeologi berharga dari era Kerajaan Medang abad ke-10 Masehi. Situs ini menyimpan struktur candi unik berbentuk huruf T dengan bata merah kuno, serta sumuran peripih yang menandakan fungsi sebagai tempat pemujaan. Namun, sejak penemuan pada 2019 dan ekskavasi bertahap hingga 2023, pelestarian situs ini menghadapi berbagai hambatan serius. Mulai dari pencemaran limbah berbahaya, kerusakan struktural, hingga dugaan penjarahan, tantangan ini mengancam kelestarian jejak peradaban pra-Majapahit tersebut. Pada 2025, meski ada upaya pemulihan lahan terkontaminasi, ancaman lingkungan dan manusia masih menjadi isu utama.
Salah satu hambatan terbesar adalah pencemaran limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), khususnya slag aluminium dari industri terdekat. Limbah ini menumpuk di sekitar situs, mengeras, dan menghalangi proses ekskavasi. Pada 2022-2023, ekskavasi sering tertunda karena harus membersihkan limbah terlebih dahulu, seperti pada tahap III November 2023 di mana petugas DLH Jombang menggunakan ekskavator untuk mengeruk ratusan ton slag. Bahkan pada 2024, Disdikbud Jombang menyebut limbah B3 sebagai penghambat utama, memerlukan koordinasi intensif dengan DLH untuk pemindahan. Pada September 2025, DLH kembali melakukan pemulihan lahan di Segmen 3, mengangkut limbah ke pengelola seperti PT Semen Indonesia. Pencemaran ini tidak hanya menghambat penggalian, tapi juga berpotensi merusak artefak melalui kontaminasi kimia jangka panjang.
Kerusakan struktural juga menjadi masalah krusial. Ekskavasi tahap pertama pada 2022 menunjukkan tingkat kerusakan mencapai 60 persen, hanya menyisakan kaki candi dan pondasi. Pada tahap kedua, ditemukan kerusakan pada dinding sumuran timur dan barat, serta hilangnya benda penting seperti pripih yang diduga dicuri. Arkeolog dari BPK Wilayah XI menduga situs pernah mengalami perusakan masif dan penjarahan, meninggalkan hanya fragmen bata tak utuh. Pada 2023, ekskavasi lanjutan menemukan bata dengan ornamen antefik, tapi kondisi keseluruhan tetap parah akibat faktor alam dan manusia. Lokasi di tengah perkebunan tebu memperburuk situasi, di mana aktivitas pertanian bisa merusak struktur terkubur tanpa disadari.
Hambatan lain meliputi keterbatasan sumber daya dan koordinasi. Anggaran ekskavasi terbatas, seperti Rp50 juta per tahap dari Pemkab Jombang, sering tertunda karena prioritas lain. Kurangnya juru pemelihara (jupel) permanen membuat pengawasan harian lemah, meningkatkan risiko vandalisme. Aspek spiritual situs sebagai makam Mbah Blawu juga menimbulkan dilema; aktivitas ziarah bisa tidak sengaja merusak, sementara rencana pemindahan makam pernah muncul tapi sensitif bagi masyarakat. Kurangnya kesadaran publik memperparah masalah, di mana situs sering dianggap hanya sebagai punden biasa, bukan cagar budaya nasional.
Meski ada upaya seperti penunjukan jupel dan kajian BPK, hambatan ini menunjukkan perlunya pendekatan holistik. Regulasi Undang-Undang Cagar Budaya No. 11/2010 menuntut perlindungan ketat, tapi implementasi di lapangan masih terkendala. Kolaborasi antarinstansi seperti Disdikbud, DLH, dan BPK perlu ditingkatkan, disertai edukasi masyarakat untuk mencegah pembuangan limbah ilegal.
Hambatan pelestarian Situs Mbah Blawu mencerminkan tantangan umum cagar budaya di Indonesia: konflik antara pembangunan modern dan warisan sejarah. Dari limbah B3 yang terus dibersihkan hingga 2025, kerusakan irreversibel, hingga isu penjarahan, semua ini mengancam hilangnya bukti peradaban Mpu Sindok. Tanpa intervensi cepat seperti zoning ketat, peningkatan anggaran, dan partisipasi komunitas, situs ini berisiko lenyap. Pelestarian bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat untuk menjaga identitas bangsa. Dengan sinergi yang lebih baik, Mbah Blawu bisa menjadi aset berharga, bukan sekadar kenangan pudar.








