Dinamika Etnika Budaya Mataraman di Kabupaten Jombang: Gelombang Pengaruh dari Masa ke Masa

Kabupaten Jombang, yang dikenal sebagai “Kota Santri” di Jawa Timur, menyimpan lapisan sejarah yang kaya, membentuk identitas budaya yang unik dan dinamis. Jombang tidak hanya menjadi pertemuan antara tradisi keislaman yang kuat dengan kultur pedesaan yang egaliter, tetapi juga menjadi palung tempat bersemayamnya pengaruh kebudayaan Mataraman. Mataraman merujuk pada corak kebudayaan Jawa yang dipengaruhi oleh tradisi keraton, baik dari periode Mataram Kuno (Hindu-Buddha) hingga Mataram Islam (Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta).

Masuknya budaya Mataraman ke Jombang bukanlah peristiwa tunggal, melainkan sebuah gelombang yang berfluktuasi melintasi berbagai kurun waktu, dipicu oleh dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang besar. Akumulasi dari gelombang-gelombang ini telah membentuk karakter etnika dan budaya Jombang, menjadikannya perpaduan yang menarik antara Jawa Timuran (Arek/Tengahan) dan Jawa Mataraman (Kulonan).


 

1. Gelombang Awal: Mataram Kuno dan Asal-Usul (Abad X M)

Jombang memiliki posisi penting dalam sejarah kerajaan Jawa kuno. Gelombang Mataraman pertama masuk ketika Mpu Sindok memutuskan untuk memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Perpindahan ini, yang terjadi sekitar tahun 928 M, menandai berdirinya Wangsa Isyana dan dimulainya periode Mataram Kuno Jawa Timur atau Kerajaan Medang.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa wilayah Jombang menjadi pusat pemerintahan baru. Prasasti Turyan (sering dikaitkan dengan penemuan di daerah Tembelang) dan Prasasti Anjukladang menyebutkan perpindahan istana ke kawasan yang diduga kuat berada di Jombang, yaitu di Tamwlang (Tembelang) dan kemudian di Watugaluh (Diwek/Megaluh).

  • Implikasi Budaya: Dengan berdirinya pusat kerajaan, Jombang secara otomatis menjadi simpul budaya keraton. Kebudayaan yang dibawa adalah budaya Hindu-Buddha yang kental dengan ciri-ciri Mataram Kuno, termasuk sistem administrasi, arsitektur, bahasa (Jawa Kuno), dan ritual keagamaan yang masih meninggalkan jejak pada toponimi dan beberapa tradisi lokal. Ini adalah fondasi Mataraman tertua di Jombang.
Sejarah Minuman Dawet di Indonesia Jejak Manis dari Masa Lampau hingga Kini
Sejarah Minuman Dawet di Indonesia Jejak Manis dari Masa Lampau hingga Kini

 

2. Gelombang Tengah: Keruntuhan Majapahit dan Transisi Islam

Setelah Mataram Kuno meredup, wilayah Jombang menjadi bagian integral dari Kerajaan Majapahit. Majapahit sendiri mewarisi dan mengembangkan banyak unsur Mataraman Kuno. Namun, pada masa-masa akhir Majapahit, dinamika politik regional kembali membawa perubahan signifikan, memicu gelombang pengaruh baru.

  • Serangan Pati Unus: Peristiwa serangan Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor, dari Kesultanan Demak) ke Majapahit yang dipimpin oleh Girindrawardhana (sekitar akhir abad XV hingga awal abad XVI) menjadi salah satu penanda transisi kekuasaan dan budaya. Meskipun bersifat militer, konflik ini adalah bagian dari proses Islamisasi dan pergeseran hegemoni dari Majapahit ke Kesultanan Islam, yang kelak akan memuncak pada berdirinya Mataram Islam di Jawa Tengah. Pertempuran ini, yang terjadi di wilayah tengah Jawa Timur, tentu melibatkan dan meninggalkan jejak pada masyarakat Jombang.
  • Pembukaan Lahan oleh Pangeran Benowo: Periode ini berlanjut hingga masa Mataram Islam. Pangeran Benowo, putra Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Pajang—sebuah kerajaan yang memiliki kaitan erat dengan transisi ke Mataram Islam—datang dan membuka hutan. Aksi babad alas Pangeran Benowo di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jarak dan Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, membawa serta pola sosial dan nilai-nilai kultural dari lingkungan keraton Islam yang lebih baru. Tindakan ini merupakan penanaman awal budaya “kepamongprajaan” dan tata ruang khas Mataraman-Islam di Jombang bagian selatan.

 

3. Gelombang Besar: Eksodus Pasca-Perang Diponegoro (Abad XIX M)

Gelombang Mataraman yang paling signifikan dan masif dampaknya terjadi setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825–1830). Kekalahan Pangeran Diponegoro melawan Belanda menyebabkan banyak pengikut, prajurit, dan kerabatnya menyingkirkan diri (eksodus) dari Jawa Tengah bagian selatan (wilayah inti Mataram) menuju ke Jawa Timur, termasuk Jombang.

Eksodus ini bukan sekadar perpindahan penduduk, melainkan migrasi sosial-politik yang membawa serta nilai-nilai Mataraman yang kental dan ideologi perlawanan.

  • Penyebaran Budaya: Para mantan prajurit Pangeran Diponegoro melakukan babad alas di banyak desa di Jombang. Mereka menjadi pendiri (cikal bakal) komunitas-komunitas baru, menyebarkan pola permukiman, sistem pertanian, dan terutama, nilai-nilai budaya Mataraman yang otentik.
  • Jejak Geografis: Jejaknya tersebar luas di berbagai kecamatan, seperti Jombang Kota, Bandarkedungmulyo, Perak, Jogoroto, Megaluh, Tembelang, dan Sumobito. Kehadiran mereka memperkuat dialek, tata krama (unggah-ungguh), dan seni pertunjukan Jawa gagrak Mataraman yang terintegrasi dengan budaya lokal yang sudah ada (yaitu Arekan/Tengahan dan tradisi pesantren).

Dampak dari gelombang ini sangat mendalam, menciptakan “kantong-kantong Mataraman” di Jombang yang membedakannya dari wilayah Arekan murni seperti Surabaya atau Malang, dan memberinya karakteristik kultural sebagai wilayah “Jawa Tengah rasa Jawa Timur”.


Mitos Kemampuan Mistis Dalang Wayang Kulit Memindahkan Air Seni ke Penonton dan Penjelasan Ilmiah di Balik Ketahanan Mereka
Mitos Kemampuan Mistis Dalang Wayang Kulit Memindahkan Air Seni ke Penonton dan Penjelasan Ilmiah di Balik Ketahanan Mereka

4. Gelombang Kolonial: Migrasi Ekonomi Perkebunan (Abad XIX-XX M)

Pada masa kolonial Belanda, ekonomi perkebunan gula dan kopi menjadi dominan. Khusus di wilayah Wonosalam (Jombang bagian selatan), yang merupakan daerah pegunungan yang cocok untuk perkebunan, terjadi gelombang migrasi ekonomi yang membawa pekerja dari daerah Jawa Timur bagian barat daya yang telah lama dipengaruhi Mataram.

  • Pekerja Perkebunan: Pekerja perkebunan banyak didatangkan dari daerah-daerah seperti Pacitan, Tulungagung, dan Nganjuk. Meskipun secara geografis sudah di Jawa Timur, secara kultural daerah-daerah ini memiliki budaya Mataraman yang lebih kental dibandingkan Jombang bagian utara. Pacitan, misalnya, memiliki koneksi kultural dan historis yang kuat dengan Surakarta/Yogyakarta.
  • Penguatan Identitas: Kedatangan para pekerja ini semakin mempertebal dan memperluas corak Mataraman ke pelosok Jombang, terutama di daerah Wonosalam, yang juga merupakan lokasi babad alas Pangeran Benowo sebelumnya. Ini adalah gelombang penguatan Mataraman dari sisi etnis-ekonomi dan bukan murni politik-militer.

 

5. Gelombang Modern: Birokrasi dan Pendidikan (Dekade 1970-an)

Gelombang Mataraman yang terakhir, namun sangat penting dalam pembentukan birokrasi dan budaya modern Jombang, terjadi pada era Kemerdekaan, khususnya pada dekade 1970-an.

  • TKS/BUTSI dan Input PNS: Pada masa itu, program pemerintah mengirimkan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dan Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) untuk menggerakkan pembangunan pedesaan di berbagai daerah. Banyak relawan yang berasal dari Jawa Tengah ditugaskan ke Jawa Timur, termasuk Kabupaten Jombang. Setelah masa tugas selesai, banyak dari angkatan ini yang kemudian diangkat menjadi Input PNS (Pegawai Negeri Sipil) di Kabupaten Jombang.
  • Implikasi Struktural dan Kultural: Pengangkatan mereka sebagai PNS berarti pengaruh Mataraman memasuki ranah struktur birokrasi pemerintahan Jombang. Pola kerja, etika birokrasi, dan gaya bahasa resmi yang dibawa oleh PNS dari Jawa Tengah cenderung memiliki nuansa Mataraman (misalnya, penggunaan bahasa Jawa baku/halus dalam konteks formal). Hal ini memberikan kontribusi pada pembentukan karakter birokrasi Jombang yang dikenal tertib, berhati-hati, dan menjaga unggah-ungguh (sopan santun) khas Mataraman.

Guk dan Yuk Jombang memakai baju khas jombang
Guk dan Yuk Jombang memakai baju khas jombang

Kesimpulan: Jombang sebagai Mozaik Budaya

Dinamika etnika budaya Mataraman di Kabupaten Jombang adalah kisah tentang akulturasi berkelanjutan. Jombang bukanlah sekadar perpanjangan budaya Mataraman, melainkan sebuah mozaik kultural tempat berbagai gelombang pengaruh bertemu dan berinteraksi.

  1. Mataram Kuno (Abad X): Menjadi fondasi purba.
  2. Transisi Majapahit-Islam (Abad XV-XVI): Menyuntikkan nilai-nilai keraton Islam.
  3. Eksodus Diponegoro (Abad XIX): Memberikan infusi Mataraman secara massal dan ideologis.
  4. Migrasi Kolonial (Abad XIX-XX): Mempertebal budaya Mataraman dalam konteks ekonomi pedesaan.
  5. Input Birokrasi (Dekade 1970-an): Mengukuhkan Mataraman dalam ranah administrasi publik.

Hasilnya adalah identitas Jombang yang unik. Secara umum, masyarakat Jombang memiliki dialek Jawa Timuran (Jawa Tengah/Tengahan), tetapi dalam ranah etiket sosial, upacara adat, dan birokrasi, pengaruh Mataraman (Yogyakarta-Surakarta) sangat terasa. Sapaan yang santun, kebiasaan menggunakan krama (bahasa Jawa halus) dalam situasi formal, dan pola pikir yang menghargai harmoni sosial adalah warisan nyata dari gelombang Mataraman yang silih berganti.

Jombang berdiri sebagai wilayah yang kaya akan dialektika budaya, mampu menyerap dan memadukan tradisi keraton yang tertib dengan semangat egaliter pesantren dan keterbukaan budaya Arek/Tengahan, menjadikannya salah satu episentrum kebudayaan Jawa yang paling menarik untuk dikaji.

Tinggalkan komentar