Di tengah pesatnya modernisasi yang melanda Indonesia, ada sekelompok orang di Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, yang dengan tekun menjaga warisan budaya leluhur mereka. Kelompok kesenian Jaranan Getar Seni Budoyo (GSB) dibawah pimpinan Bapak Surawi adalah salah satu pilar penting dalam pelestarian seni tradisional Jawa, khususnya seni tari Jaranan.
Jaranan, yang dikenal sebagai tarian dengan properti kuda-kudaan dari anyaman bambu, bukan sekadar hiburan; ia adalah cerminan kaya akan nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas masyarakat Jawa. Kelompok ini telah menjadi ikon budaya di Jombang, menghidupkan tradisi yang telah ada selama berabad-abad melalui pertunjukan yang memukau dan penuh makna. Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah, elemen seni, dampak budaya, tantangan, serta prospek masa depan Jaranan Getar Seni Budoyo, menunjukkan betapa pentingnya kelompok ini dalam menjaga identitas budaya Jawa.
Sejarah dan Perkembangan
Seni Jaranan memiliki akar yang dalam di masyarakat Jawa, khususnya di pedesaan, dan diyakini berasal dari masa pra-Islam ketika ritual-ritual animisme dan dinamisme masih kuat. Pada awalnya, Jaranan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari upacara adat untuk mengusir roh jahat, memohon kesuburan tanah, atau merayakan panen. Dalam perkembangannya, Jaranan mulai beralih fungsi menjadi bentuk hiburan yang lebih teatrikal, menggabungkan unsur tari, musik, dan drama.
Jaranan Getar Seni Budoyo lahir dari semangat untuk melestarikan tradisi ini di Jombang, sebuah kabupaten yang dikenal kaya akan budaya dan sejarah Islamnya. Meskipun tanggal pasti berdirinya kelompok ini sulit dilacak karena sifatnya yang berbasis komunitas, diperkirakan kelompok ini mulai aktif pada awal abad ke-20, seiring dengan maraknya kelompok-kelompok seni rakyat di Jawa Timur.
Dari generasi ke generasi, kelompok ini telah mengalami berbagai perubahan untuk tetap relevan dengan zaman. Jika dulu pertunjukan Jaranan lebih bersifat sakral dan sederhana, kini Getar Seni Budoyo telah menambahkan elemen-elemen modern seperti koreografi yang lebih terstruktur dan narasi yang menarik, tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya. Perubahan ini mencerminkan kemampuan kelompok untuk beradaptasi sambil tetap setia pada akar budayanya.
Elemen Seni dalam Pertunjukan
Pertunjukan Jaranan Getar Seni Budoyo adalah perpaduan harmonis antara gerakan tari, musik tradisional, dan kostum yang memukau. Berikut adalah elemen-elemen utama yang membuat kelompok ini istimewa:
Tari dan Koreografi
Inti dari Jaranan adalah tarian dengan kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu, yang disebut kuda lumping. Para penari, yang sering kali masuk ke dalam kondisi trance (kesurupan), menampilkan gerakan dinamis dan akrobatik yang mencerminkan kekuatan dan keberanian. Dalam pertunjukan Getar Seni Budoyo, koreografi tidak hanya berfokus pada gerakan spontan, tetapi juga dirancang dengan cermat untuk menceritakan kisah-kisah dari mitologi Jawa, seperti legenda Barong atau cerita rakyat lokal. Ini adalah salah satu ciri khas yang membedakan mereka dari kelompok Jaranan lainnya.
Musik Tradisional
Musik menjadi tulang punggung pertunjukan Jaranan. Kelompok ini menggunakan alat musik tradisional Jawa seperti gamelan, kendang, saron, dan gong, yang menghasilkan irama khas yang membangkitkan suasana mistis. Irama yang repetitif dan hipnotis ini tidak hanya mengiringi tarian, tetapi juga membantu penari mencapai kondisi trance, yang merupakan bagian integral dari pengalaman Jaranan. Getar Seni Budoyo dikenal karena kemampuan musisinya dalam menciptakan harmoni yang mendalam, menambah dimensi emosional pada setiap pertunjukan.
Kostum dan Properti
Kostum dalam pertunjukan Jaranan Getar Seni Budoyo adalah karya seni tersendiri. Para penari mengenakan pakaian warna-warni yang dihiasi dengan ornamen tradisional, seperti ikat kepala, kain batik, dan aksesoris emas atau perak yang melambangkan kemakmuran dan keagungan. Kuda-kudaan dari bambu juga dihias dengan detail yang rumit, sering kali dicat dengan warna cerah dan diberi kain untuk menyerupai kuda sungguhan. Keindahan visual ini tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memperkuat makna simbolis dari pertunjukan.
Unsur Spiritual
Salah satu daya tarik utama Jaranan adalah elemen spiritualnya. Dalam banyak pertunjukan, penari mengalami kesurupan, yang diyakini sebagai bentuk komunikasi dengan dunia gaib. Getar Seni Budoyo mempertahankan tradisi ini, meskipun dalam konteks modern sering kali diadaptasi untuk tujuan hiburan. Unsur ini menambah keunikan dan kedalaman pada pertunjukan mereka, menjadikannya lebih dari sekadar seni panggung.
Dampak Budaya
Jaranan Getar Seni Budoyo telah memberikan kontribusi besar bagi pelestarian dan promosi budaya Jawa, baik di Jombang maupun di luar daerah. Berikut adalah beberapa dampak budaya yang signifikan:
Pelestarian Tradisi
Dalam era globalisasi yang mengancam eksistensi seni tradisional, kelompok ini menjadi benteng pelindung bagi Jaranan. Dengan terus menggelar pertunjukan dan melatih generasi muda, mereka memastikan bahwa seni ini tidak punah. Banyak anggota kelompok yang berasal dari keluarga penari atau musisi, sehingga pengetahuan tentang Jaranan diwariskan secara turun-temurun.
Pendidikan Budaya
Getar Seni Budoyo tidak hanya tampil di panggung, tetapi juga aktif dalam kegiatan pendidikan. Mereka sering mengadakan lokakarya dan pelatihan bagi anak-anak dan remaja di Jombang, mengajarkan teknik tari, musik, dan makna budaya di balik Jaranan. Upaya ini membantu menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya di kalangan generasi muda, yang sering kali lebih tertarik pada budaya pop modern.
Promosi Kesenian Daerah
Kelompok ini telah tampil di berbagai festival budaya di Indonesia, seperti Festival Kesenian Jawa Timur. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan kebanggaan lokal, tetapi juga menarik perhatian terhadap kekayaan budaya Jawa Timur.
Penguatan Identitas Lokal
Bagi masyarakat Jombang, Jaranan Getar Seni Budoyo adalah simbol identitas dan kebersamaan. Pertunjukan mereka sering diadakan dalam acara komunal, seperti perayaan hari besar atau upacara adat, mempererat ikatan sosial di antara warga. Kelompok ini juga menjadi inspirasi bagi komunitas seni lain untuk terus berkarya dalam menjaga tradisi.
Tantangan dan Prospek Masa Depan
Meskipun memiliki banyak pencapaian, Jaranan Getar Seni Budoyo menghadapi sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan:
Tantangan
-
Pendanaan: Sebagai kelompok seni tradisional, mereka sering kali kesulitan mendapatkan dana yang stabil. Pertunjukan dan pelatihan memerlukan biaya untuk kostum, alat musik, dan transportasi, sementara sumber pendapatan utama biasanya hanya dari donasi atau sponsor.
-
Modernisasi: Minat generasi muda terhadap seni tradisional menurun karena pengaruh budaya pop dan teknologi. Jaranan harus bersaing dengan hiburan modern seperti musik K-pop atau film streaming.
-
Regenerasi: Menarik anggota baru yang berkomitmen untuk mempelajari dan melestarikan Jaranan adalah tantangan besar, terutama di tengah gaya hidup urban yang cepat.
Prospek Masa Depan
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Getar Seni Budoyo telah mulai mengambil langkah proaktif. Mereka berkolaborasi dengan komunitas seni lain untuk menciptakan pertunjukan yang lebih inovatif, seperti menggabungkan Jaranan dengan teater modern atau musik kontemporer. Selain itu, mereka memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan karya mereka, menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda. Rencana ke depan termasuk memperluas program pendidikan dan tampil di lebih banyak acara internasional, dengan harapan dapat meningkatkan popularitas Jaranan di kancah global.
Kesimpulan
Jaranan Getar Seni Budoyo bukan sekadar kelompok seni; mereka adalah penjaga warisan budaya Jawa yang tak ternilai harganya. Dengan dedikasi mereka terhadap pelestarian Jaranan, kelompok ini telah memberikan kontribusi besar bagi identitas budaya Jombang dan Indonesia secara keseluruhan. Di tengah tantangan modernisasi, inovasi dan pendidikan menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan seni ini. Dukungan dari masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta sangat penting untuk menjaga kelompok seperti ini tetap hidup, karena mereka adalah bagian dari kekayaan budaya yang harus kita wariskan kepada generasi mendatang.


