Kitab Anbiya merupakan salah satu karya sastra keagamaan Islam klasik yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan pesantren dan komunitas santri. Naskah ini secara khusus menceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, di Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, terdapat satu naskah Kitab Anbiya yang unik dan berharga. Naskah ini merupakan koleksi pribadi Agus Sulton dan ditulis menggunakan aksara Pegon dengan bahasa Jawa Baru, yaitu bahasa Jawa modern yang telah dipengaruhi perkembangan zaman. Keberadaannya menjadi bukti kekayaan khazanah pernaskahan Nusantara yang masih tersimpan di tangan masyarakat setempat. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang naskah tersebut, mulai dari deskripsi fisik, kondisi kerusakan, isi kandungan, hingga signifikansi historis dan budayanya.
Dusun Payak Santren sendiri dikenal sebagai kampung religius yang kental dengan nuansa pesantren. Terletak di perbatasan Jombang-Kediri, dusun ini menjadi pusat kehidupan santri sejak lama. Banyak rumah warga yang menyimpan naskah-naskah kuno sebagai warisan leluhur. Kitab Anbiya yang dimaksud disimpan di salah satu rumah keluarga pewaris di dusun tersebut. Lokasi penyimpanannya yang sederhana, di antara tumpukan kitab kuning dan benda-benda pusaka, menunjukkan bahwa naskah ini bukan hanya artefak sejarah, melainkan juga bagian hidup sehari-hari masyarakat. Kabupaten Jombang memang dikenal sebagai “kota santri” dengan puluhan pesantren besar seperti Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar. Keberadaan naskah Pegon di sini memperkuat citra Jombang sebagai pusat pelestarian tradisi Islam Jawa.
Secara fisik, naskah Kitab Anbiya ini memiliki ukuran yang khas untuk naskah-naskah Jawa abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ukuran lembaran kertasnya adalah 17,3 cm lebar (l) x 21 cm panjang (p). Ruang tulis atau area teks yang digunakan untuk menulis adalah 12,5 cm x 16,3 cm. Tebal naskah secara keseluruhan mencapai 58 lembar, dengan jumlah halaman total 115 halaman. Halaman paling akhir, yaitu halaman 116, berisi sebuah catatan kaki yang terdiri dari 7 baris. Jumlah baris per halaman umumnya 10 baris, kecuali halaman 115 yang hanya memiliki 5 baris. Pias (margin) naskah juga cukup rapi: pias kanan 1,3 cm, pias kiri 3,5 cm, pias atas 2,4 cm, dan pias bawah 2,3 cm. Semua ini menunjukkan bahwa naskah dibuat dengan teliti, meskipun menggunakan kertas lokal yang relatif tipis.
Naskah ini sepenuhnya ditulis dengan aksara Pegon. Aksara Pegon adalah adaptasi huruf Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, atau Madura. Dalam naskah ini, Pegon digunakan untuk menyampaikan bahasa Jawa Baru yang sudah mengalami modernisasi kosakata dan struktur kalimat. Bahasa Jawa Baru di sini bukan lagi Jawa Kuno yang penuh dengan kawi atau sanskerta murni, melainkan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh santri era kolonial hingga pascakolonial. Penggunaan Pegon ini sangat umum di pesantren Jawa karena memudahkan santri yang sudah terbiasa dengan huruf Arab dari pelajaran Al-Qur’an dan kitab kuning.
Salah satu ciri paling menonjol dari naskah ini adalah kondisinya yang tidak utuh. Peneliti yang pernah mengkaji naskah ini mencatat beberapa ketidakruntutan cerita akibat hilangnya sebagian teks. Antara halaman 2 dan 3, cerita tidak mengalir secara runtut. Begitu pula antara halaman 4 dan 5, 24 dan 25, 26 dan 27, 28 dan 29, 30 dan 31, serta antara halaman 114 dan 115. Ketidaknyambungan ini dapat dipastikan karena teks di bagian paling bawah satu halaman (satu kata terakhir) tidak berkorelasi sama sekali dengan teks awal halaman berikutnya. Hal ini menandakan bahwa beberapa lembar naskah telah hilang, mungkin karena faktor alam, perawatan yang kurang, atau pemindahan kepemilikan antargenerasi. Selain itu, halaman pertama mengalami kerusakan sobek di bagian tepi dan disambung dengan solasi berwarna hitam. Meskipun demikian, inti naskah masih dapat dibaca, meski dengan sedikit kesulitan pada bagian yang rusak.
Kerusakan seperti ini bukan hal langka pada naskah-naskah Pegon Jawa. Banyak naskah serupa yang ditemukan di Sragen, Yogyakarta, atau daerah pesantren lain juga mengalami hal serupa karena kertas dluwang atau kertas Eropa yang rentan terhadap kelembaban, rayap, dan penanganan manusia. Di Dusun Payak Santren, iklim tropis Jombang yang lembab mempercepat proses degradasi. Oleh karena itu, pemilik naskah kini mulai mempertimbangkan digitalisasi atau pemindahan ke tempat penyimpanan yang lebih aman seperti museum kabupaten atau perpustakaan pesantren besar.
Isi utama Kitab Anbiya adalah kisah-kisah para nabi. Secara umum, naskah ini mengikuti alur klasik Serat Anbiya atau Layang Anbiya yang beredar di Nusantara. Dimulai dari kisah Nabi Adam AS yang diturunkan ke bumi, kemudian Nabi Nuh AS dan banjir besar, Nabi Ibrahim AS yang menghancurkan berhala, Nabi Musa AS dan pembelahan Laut Merah, hingga Nabi Isa AS dan kelahiran yang ajaib. Puncaknya adalah silsilah hingga Nabi Muhammad SAW. Dalam versi Pegon bahasa Jawa Baru ini, cerita disampaikan dengan gaya yang sangat Jawa: menggunakan tembang macapat di beberapa bagian, meskipun mayoritas berbentuk prosa naratif. Bahasa Jawa Baru membuat cerita terasa dekat dengan pembaca santri modern, bukan lagi penuh metafor keraton kuno, melainkan lebih lugas dan penuh hikmah moral.
Karena adanya kekosongan halaman, sebagian kisah menjadi terputus. Misalnya, setelah halaman 2, cerita tentang Nabi Nuh mungkin langsung loncat ke bagian akhir kisahnya tanpa penjelasan proses pembuatan bahtera. Demikian pula di bagian tengah naskah (sekitar halaman 24–31), kemungkinan hilangnya lembaran menyebabkan hilangnya detail kisah Nabi Yusuf AS atau Nabi Sulaiman AS. Peneliti menyimpulkan hilangnya teks ini berdasarkan ketidakcocokan satu kata terakhir di halaman sebelumnya dengan awal halaman berikutnya. Halaman 114–115 juga mengalami masalah serupa, sehingga penutup kisah Nabi Muhammad SAW terasa mendadak. Meski demikian, catatan kaki di halaman 116 memberikan petunjuk bahwa naskah ini mungkin disalin oleh seorang kyai atau santri senior sebagai bahan pengajaran di pesantren lokal. Catatan tersebut kemungkinan berisi doa penutup atau silsilah penyalin naskah.

Signifikansi naskah Kitab Anbiya ini sangat besar dalam konteks kebudayaan Jawa Islam. Di Jombang, yang merupakan pusat Walisongo dan tarekat, naskah seperti ini berfungsi sebagai media dakwah sekaligus pendidikan akhlak. Kisah para nabi diajarkan bukan hanya untuk hafalan, melainkan untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa Baru yang digunakan membuat generasi muda santri lebih mudah memahami pesan-pesan universal seperti tawakal, keadilan, dan perjuangan melawan kezaliman. Aksara Pegon sendiri merupakan simbol identitas Islam Nusantara, menggabungkan huruf Arab (simbol keislaman) dengan fonetik Jawa (simbol lokalitas). Penggunaan Pegon di naskah ini membuktikan bahwa Islam di Jawa bukanlah Islam Arab murni, melainkan Islam yang telah berakulturasi dengan budaya lokal.
Dari segi sejarah, naskah-naskah Anbiya mulai populer sejak masa Walisongo. Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang disebut-sebut sebagai perintis penulisan cerita nabi dalam bentuk Jawa. Kemudian pada masa kerajaan Mataram Islam dan Surakarta, genre ini berkembang pesat. Versi Pegon seperti yang ada di Payak Santren kemungkinan disalin pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, saat pesantren Jombang sedang berkembang pesat di bawah pengaruh kolonial Belanda. Naskah ini mungkin dibawa oleh seorang santri yang pulang dari Mekah atau ditulis langsung oleh kyai setempat untuk keperluan pengajian malam.
Dalam perspektif filologi, naskah ini memiliki nilai yang tinggi meskipun tidak utuh. Jumlah halaman 115 dengan 10 baris per halaman menunjukkan bahwa naskah ini termasuk versi yang cukup lengkap jika dibandingkan dengan naskah Anbiya lain yang hanya 50–70 halaman. Ruang tulis yang proporsional (12,5 x 16,3 cm) dan pias yang simetris menandakan keahlian penulis dalam tata letak. Kerusakan halaman pertama yang disambung solasi hitam mungkin dilakukan oleh pemilik sebelumnya untuk menjaga agar naskah tidak semakin rusak. Hal ini menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya mereka.
Namun, kondisi tidak utuh menjadi tantangan besar bagi penelitian lebih lanjut. Untuk merekonstruksi teks yang hilang, peneliti perlu membandingkan dengan naskah Anbiya lain yang lengkap, seperti koleksi Pura Pakualaman Yogyakarta atau naskah yang ditemukan di Sragen. Kisah Nabi Saleh dan Nabi Ibrahim dalam pupuh macapat, misalnya, sering muncul dalam versi serupa. Di naskah Payak Santren, bagian-bagian yang hilang kemungkinan berisi detail mukjizat atau dialog antara nabi dan kaumnya yang sangat kaya hikmah.
Pelestarian naskah ini menjadi urgen di era digital sekarang. Dusun Payak Santren yang religius seharusnya dapat bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Jombang atau perguruan tinggi seperti Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya untuk mendigitalisasi naskah. Dengan demikian, meski fisiknya rapuh, isi Kitab Anbiya tetap dapat diakses oleh generasi mendatang. Selain itu, transliterasi dari Pegon ke Latin juga diperlukan agar masyarakat umum yang tidak menguasai Pegon dapat menikmati kisah-kisah para nabi ini.
Dari sisi bahasa, penggunaan Bahasa Jawa Baru membuat naskah ini berbeda dari Serat Anbiya versi keraton yang masih kental dengan Jawa Kuno. Kosakata seperti “Allah Ta’ala”, “rasulullah”, dan ungkapan sehari-hari Jawa modern seperti “ingkang” atau “punika” dicampur dengan gaya narasi yang mengalir. Ini mencerminkan adaptasi dakwah Islam di tengah masyarakat agraris Jawa yang mulai terbuka dengan pendidikan modern. Aksara Pegon yang digunakan juga menunjukkan pengaruh madrasah-madrasah tradisional di Jombang, di mana santri diajarkan membaca kitab kuning sebelum beralih ke buku cetak.
Secara keseluruhan, Kitab Anbiya di Dusun Payak Santren bukan sekadar kumpulan cerita lama. Ia adalah cermin perjalanan Islam di Jawa, dari era Walisongo hingga pesantren kontemporer. Meski kondisinya rusak dengan beberapa halaman hilang, nilai intrinsiknya tetap utuh. Kisah-kisah nabi yang diceritakan di dalamnya terus menginspirasi nilai-nilai kebaikan: kesabaran Nabi Ayyub, keberanian Nabi Ibrahim, keadilan Nabi Daud, hingga keteladanan Nabi Muhammad SAW. Di tengah modernisasi yang kadang melupakan akar budaya, keberadaan naskah ini di Payak Santren menjadi pengingat bahwa warisan leluhur masih hidup dan harus dijaga.
Pemilik naskah dan masyarakat dusun sebaiknya terus merawatnya dengan cara sederhana: menyimpan di tempat kering, jauh dari sinar matahari langsung, dan sesekali dibersihkan debunya. Jika memungkinkan, naskah ini dapat dijadikan objek penelitian skripsi atau tesis mahasiswa filologi atau sejarah Islam. Dengan demikian, tidak hanya disimpan, tetapi juga dikaji dan dikembangkan maknanya.
Kitab Anbiya ini, dengan segala kekurangannya, tetap menjadi kebanggaan Dusun Payak Santren. Ia bukan hanya buku, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara kisah suci para nabi dan kehidupan santri Jawa yang sederhana namun penuh makna. Semoga naskah ini terus terjaga dan dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya di Kabupaten Jombang dan Nusantara secara luas.


