Kesenian Daerah
Fenomena Tawuran di Pertunjukan Kesenian Bantengan di Kabupaten Jombang
Kesenian Bantengan, salah satu warisan budaya Jawa Timur yang kaya akan elemen spiritual dan seni bela diri, sering menjadi panggung hiburan masyarakat di Kabupaten Jombang. Namun, di balik keindahan gerak tari dan iringan gamelan, pertunjukan ini kerap diwarnai fenomena tawuran antara remaja dan orang dewasa. Tawuran ini bukan hanya bentrok fisik sederhana, melainkan konflik yang melibatkan rivalitas kelompok, elemen trance (kesurupan), dan faktor sosial-ekonomi. Di Jombang, yang memiliki puluhan kelompok Bantengan aktif, insiden seperti ini telah menjadi isu berulang, memengaruhi ketertiban masyarakat dan keberlangsungan tradisi itu sendiri. Artikel ini akan membahas fenomena tersebut, latar belakangnya, efek terhadap fasilitas pemukiman warga, serta upaya pemerintah Kabupaten Jombang dalam mengendalikan kerumunan massa pada acara kesenian daerah di desa-desa.
Sejarah Lahirnya Kesenian Bantengan Rojo Mahesa Suro dari Jombang
Pagelaran Wayang dan Gamelan Nusantara, Puncak Perayaan Hari Wayang Nasional 2025 di Surakarta
Indonesia, sebuah mozaik budaya yang tak tertandingi, memiliki dua warisan agung yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan: Wayang dan Gamelan. Keduanya bukan sekadar bentuk kesenian, melainkan cerminan filosofi, sejarah, dan spiritualitas bangsa yang terus hidup dan berdenyut melintasi zaman. Dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 2025 yang jatuh pada tanggal 7 November, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mengambil langkah monumental dengan menyelenggarakan Pagelaran Wayang dan Gamelan Nusantara.
Gemuruh Gudo: PESBUKAB, Pesta Pendidikan, Seni, dan Budaya Jombang yang Memukau
Minggu, 2 November 2025, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, menjadi saksi bisu dari perhelatan akbar yang tak hanya meriah namun juga sarat makna: Pentas Edukasi, Seni, dan Budaya Kabupaten (PESBUKAB). Acara ini bukan sekadar panggung pertunjukan biasa, melainkan sebuah manifestasi nyata dari komitmen pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, dalam memfasilitasi dan mengapresiasi bakat, minat, kreativitas, serta inovasi peserta didik mulai dari jenjang TK hingga SMP. PESBUKAB Kecamatan Gudo menegaskan kembali peran pendidikan formal sebagai benteng pelestarian dan pengembangan budaya lokal, sekaligus wadah strategis untuk mencetak generasi penerus yang berkarakter dan berprestasi.
Langkah Mungil Penuh Makna: Menanam Benih Budaya di Parade Tari Anak KB/TPA/SPS Jombang 2025
Semangat perayaan Hari Jadi ke-115 Pemerintah Kabupaten Jombang mencapai puncaknya di sektor pendidikan anak usia dini (PAUD). Tepat pada Selasa, 21 Oktober 2025, sehari menjelang Hari Sumpah Pemuda, halaman Gedung Kesenian Jombang dipenuhi keriuhan, keceriaan, dan warna-warni kostum anak-anak dari jenjang Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS).
Mengamankan Kearifan Agraris dan Ritual Leluhur Melalui Pengusulan HKI Kebo-aliyán Suku Osing sebagai PT dan EBT
Kebo-aliyán, Jantung Spiritual Pertanian Osing
Di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, sebuah ritual agraris kuno masih teguh dipertahankan oleh masyarakat Suku Osing: Kebo-aliyán. Secara harfiah, Kebo-aliyán berarti Kerbau-kerbauan (dari kata kebo [kerbau] dan aliyán [menyerupai/berupa]), sebuah ritual komunal yang dilaksanakan sebagai wujud permohonan keselamatan, kesuburan tanah, dan harapan panen melimpah.
Mengabadikan Ritual dan Mantra Leluhur, Pengusulan HKI Tari Seblang sebagai PT dan EBT
Di jantung kebudayaan Suku Osing, masyarakat asli Banyuwangi, terdapat sebuah ritual tahunan yang menyimpan kedalaman sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang luar biasa: Tari Seblang. Seblang bukan sekadar pertunjukan seni; ia adalah ritual penyucian desa, tolak bala, dan permohonan keselamatan yang dilaksanakan oleh komunitas tertentu di Banyuwangi, terutama di dua desa yang berbeda pakem dan waktu pelaksanaannya: Seblang Bakungan dan Seblang Olehsari.
Usaha Pelestarian Seni Tembang Macapat di Jombang, Jawa Timur
Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang menggerus identitas budaya lokal, seni tembang macapat tetap berdiri tegak sebagai pilar kebudayaan Jawa. Tembang macapat, yang merupakan bentuk puisi tradisional Jawa Kuno berirama, bukan hanya sekadar seni vokal, melainkan juga wadah filosofi hidup, nilai moral, dan warisan leluhur yang kaya akan makna. Pupuh-pupuh seperti Pangkur, Sinom, Asmarandana, dan Kinanthi, dengan cengkok (gaya nyanyian) yang khas serta iringan gamelan slendro-pelog, mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan dalam tradisi Jawa. Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur—sebuah daerah yang dikenal sebagai “kota santri” dengan campuran kuat antara Islam dan budaya Jawa—tembang macapat memiliki posisi istimewa sebagai jembatan antara spiritualitas dan estetika.
Tim Tari Pesona Jombang: Pelestari Warisan Budaya Tari Tradisional Jawa Timur
Kabupaten Jombang, yang terletak di jantung Provinsi Jawa Timur, bukan hanya dikenal sebagai kota santri dengan mayoritas penduduknya yang taat beragama, tetapi juga sebagai gudang seni budaya yang kaya akan tradisi. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, Jombang tetap mempertahankan pesonanya melalui berbagai kesenian tradisional, khususnya seni tari. Salah satu pilar utama dalam pelestarian ini adalah Tim Tari Pesona Jombang, sebuah kelompok seni yang berdedikasi untuk mempromosikan dan mengembangkan tari-tari khas daerah. Tim ini bukan sekadar kelompok penari biasa; ia merupakan jembatan antara masa lalu dan masa depan, di mana gerak tubuh yang lincah bercerita tentang sejarah, nilai kepahlawanan, dan harmoni sosial masyarakat Jombang.