Di tengah hamparan hijau Dusun Kademangan, Desa Dlanggu, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan jejak kejayaan masa lalu. Situs ini, yang kini dikenal sebagai Candi Winong, awalnya hanyalah sebuah punden—gundukan tanah yang dianggap angker dan dikeramatkan oleh warga setempat sejak tahun 1960-an. Namun, di balik kesederhanaannya, punden ini ternyata menyimpan rahasia besar: sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Situs Candi Winong, mulai dari sejarahnya, deskripsi fisiknya, signifikansi budayanya, kondisi saat ini, hingga harapan untuk masa depannya.
Sejarah Situs Candi Winong
Situs Candi Winong pertama kali dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai sebuah punden yang dianggap suci dan penuh misteri. Rusmiati, seorang perempuan berusia 51 tahun yang kini menjadi juru kunci situs ini, menceritakan dengan penuh semangat tentang keberadaan punden tersebut sejak ia masih kecil, yaitu sekitar tahun 1960-an. “Punden ini sudah ada sejak saya kecil,” ujarnya sambil mengenang masa lalu. Ia mewarisi tanggung jawab sebagai juru kunci dari kakeknya, sebuah peran yang dijalaninya dengan dedikasi hingga kini. Bagi warga Dusun Kademangan, punden ini bukan sekadar gundukan tanah biasa; tempat ini dianggap keramat, dan ada kepercayaan bahwa mengganggu atau mengambil sesuatu dari sini akan mendatangkan sial.
Awalnya, punden ini hanya tampak seperti bukit kecil yang tersembunyi di antara pepohonan besar. Namun, dugaan bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar gundukan tanah mulai muncul seiring waktu. Penelitian arkeologis kemudian mengungkap fakta mengejutkan: di dalam punden tersebut tersimpan struktur candi yang diperkirakan berasal dari era Majapahit, tepatnya pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Struktur ini terdiri dari batu bata merah dan batu andesit, dua material khas yang sering digunakan dalam arsitektur candi pada masa itu. Penemuan ini mengubah persepsi warga terhadap punden yang selama ini mereka anggap angker, menjadikannya bukti nyata kejayaan Kerajaan Majapahit di wilayah Mojokerto.
Nama “Candi Winong” sendiri muncul belakangan, terinspirasi dari pohon-pohon Winong besar yang mengelilingi situs ini. Sebelumnya, situs ini dikenal sebagai Candi Kademangan, sebuah nama yang mencerminkan fungsinya pada masa lalu. Menurut cerita warga, “Kademangan” merujuk pada tempat pertemuan para raja dan pejabat tinggi Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa situs ini bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga peran penting dalam administrasi dan pemerintahan kerajaan.
Deskripsi Fisik Situs Candi Winong
Situs Candi Winong terletak di tengah pemukiman warga, hanya berjarak sekitar 5 meter dari jalan raya, menjadikannya unik karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Situs ini memiliki luas sekitar 20 x 20 meter persegi dan ketinggian mencapai 6 meter dari permukaan tanah. Sekilas, situs ini tampak seperti bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon besar, namun di baliknya tersimpan struktur candi yang menakjubkan.
Saat memasuki area situs, pengunjung akan disambut oleh dua gapura yang dihiasi lambang Surya Majapahit, simbol khas Kerajaan Majapahit yang melambangkan kekuasaan dan keagungan. Gapura ini menjadi pintu masuk menuju puncak candi, yang dapat diakses melalui tangga batu yang curam. Di sepanjang jalur menuju puncak, pohon-pohon Winong yang besar berdiri kokoh, beberapa di antaranya dibalut kain kuning sebagai tanda kesucian. Pohon-pohon ini tidak hanya memberikan suasana sejuk dan dingin, tetapi juga menjadi alasan utama penamaan candi ini.
Di puncak situs, struktur bata merah dan batu andesit terlihat jelas, meskipun banyak bagian yang telah rusak akibat erosi dan usia. Batu andesit berukuran besar tersebar di sekitar area, beberapa di antaranya terlilit akar pohon Winong yang menjulur panjang, menciptakan pemandangan yang dramatis sekaligus indah. Keberadaan batu andesit ini cukup menarik, karena biasanya candi Majapahit lebih dominan menggunakan bata merah, sedangkan batu andesit sering diasosiasikan dengan candi era Singasari. Kombinasi kedua material ini menambah keunikan arsitektur Candi Winong.
Selain struktur bangunan, situs ini juga kaya akan temuan artefak. Pecahan tembikar, gerabah, dan hiasan atap candi ditemukan bertebaran di sekitar area. Artefak-artefak ini dikumpulkan oleh Rusmiati, sang juru kunci, dan disimpan di bawah pohon besar di situs tersebut. Tembikar yang ditemukan memiliki motif-motif rumit, seperti pola ukel dan hiasan estetis lainnya, yang menunjukkan tingkat keahlian tinggi pengrajin pada masa Majapahit. Ada pula benda-benda seperti hiasan sudut candi yang terbuat dari tanah liat, yang semakin memperkaya koleksi temuan di situs ini.
Signifikansi Budaya dan Sejarah
Situs Candi Winong memiliki nilai budaya dan sejarah yang sangat penting, tidak hanya bagi warga Dusun Kademangan tetapi juga bagi penelitian tentang Kerajaan Majapahit. Menurut cerita warga, candi ini dulunya merupakan tempat pertemuan para raja dan pejabat tinggi, yang disebut “Kademangan.” Fungsi ini menunjukkan bahwa situs ini memiliki peran strategis dalam struktur pemerintahan Majapahit, meskipun lokasinya jauh dari pusat kerajaan di Trowulan.
Selain sebagai tempat rapat, candi ini juga dianggap sebagai bangunan suci untuk persembahyangan dan peribadatan. Keberadaan sesajen dan payung-payung di situs ini hingga kini menunjukkan bahwa tempat ini masih digunakan untuk ritual keagamaan oleh sebagian warga. Tradisi ini mencerminkan sinkretisme budaya khas Jawa, di mana unsur-unsur Hindu-Buddha bercampur dengan kepercayaan lokal yang masih bertahan hingga hari ini.
Penemuan artefak seperti patung kecil setinggi 20 cm, yang kini telah hilang, juga menambah dimensi misteri situs ini. Rusmiati mengenang bahwa patung tersebut ditemukan di puncak candi, namun tidak diketahui apa yang diwakilinya karena telah raib, kemungkinan diambil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Kehilangan artefak ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan terhadap situs bersejarah seperti ini.
Kondisi Saat Ini dan Upaya Pelestarian
Meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi, kondisi Situs Candi Winong saat ini cukup memprihatinkan. Banyak struktur bata merah dan batu andesit yang berserakan dan rusak akibat erosi, usia, dan kurangnya perawatan. Lokasinya yang sangat dekat dengan pemukiman warga juga meningkatkan risiko kerusakan akibat aktivitas manusia. Dari puncak candi, genteng-genteng rumah warga terlihat jelas, menunjukkan betapa terintegrasinya situs ini dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Warga setempat telah berupaya melestarikan situs ini dengan cara sederhana, seperti menata batu-batu andesit untuk mencegah longsor dan merawat pohon-pohon Winong di sekitarnya. Beberapa tatanan bata dan batu juga tampak dibenahi oleh warga agar struktur candi tidak sepenuhnya runtuh. Namun, upaya ini masih jauh dari cukup untuk menjaga keutuhan situs dalam jangka panjang. Diperlukan intervensi profesional, seperti ekskavasi dan restorasi oleh arkeolog, untuk mengembalikan bentuk asli candi ini.
Sayangnya, hingga kini Situs Candi Winong belum menjadi prioritas utama untuk penggalian arkeologis oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Situs lain di Mojokerto, seperti Situs Kumitir, masih mendapatkan perhatian lebih besar. Hal ini menunjukkan tantangan dalam mengelola banyaknya situs bersejarah di wilayah ini dengan sumber daya yang terbatas.
Potensi dan Harapan Masa Depan
Meski menghadapi berbagai tantangan, Situs Candi Winong memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Keunikan arsitekturnya, yang menggabungkan bata merah dan batu andesit, serta suasana alami yang ditawarkan oleh pohon-pohon Winong, dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Selain itu, penelitian lebih lanjut tentang situs ini dapat mengungkap informasi baru tentang peran Mojokerto dalam Kerajaan Majapahit.
Untuk mewujudkan potensi ini, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat lokal, dan para ahli. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
- Ekskavasi dan Restorasi: Melakukan penggalian untuk mengungkap struktur candi yang masih terkubur dan merestorasi bagian yang rusak.
- Edukasi Masyarakat: Mengadakan sosialisasi tentang pentingnya pelestarian cagar budaya kepada warga setempat.
- Pengembangan Wisata: Mengintegrasikan situs ini ke dalam paket wisata sejarah Mojokerto, lengkap dengan fasilitas pendukung seperti pusat informasi dan jalur akses.
Dengan langkah-langkah tersebut, Situs Candi Winong dapat menjadi aset berharga yang tidak hanya dilestarikan tetapi juga dimanfaatkan untuk pendidikan dan pariwisata.
Kesimpulan
Situs Candi Winong adalah bukti nyata kejayaan Kerajaan Majapahit yang tersembunyi di Dusun Kademangan. Dari awalnya hanya sebuah punden yang dikeramatkan sejak 1960-an, situs ini telah bertransformasi menjadi simbol sejarah dan budaya yang kaya. Meskipun kondisinya saat ini memerlukan perhatian lebih, potensinya sebagai warisan budaya tak ternilai harganya. Dengan upaya pelestarian yang tepat, Candi Winong dapat terus berdiri sebagai saksi bisu masa lalu yang menginspirasi generasi mendatang.

