Situs Mbah Blawu Jombang: Jejak Sejarah dari Era Mpu Sindok

Mbah Blawu Jombang adalah sebuah situs bersejarah yang terletak di Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Situs ini menjadi salah satu bukti penting keberadaan peradaban masa lalu di wilayah Jawa Timur, khususnya dari era Mpu Sindok pada abad ke-10 Masehi. Dengan potensi arkeologis yang signifikan, situs ini menyimpan struktur candi dan artefak kuno yang memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Medang. Artikel ini akan membahas secara mendalam asal-usul Mbah Blawu, keberadaannya sebagai tempat bersejarah, upaya pelestarian yang telah dilakukan, respons masyarakat sekitar, serta dukungan dari pemerintah dalam menjaga warisan budaya ini.

Asal-Usul Situs Mbah Blawu

Situs Mbah Blawu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, terutama karena kaitannya dengan era Mpu Sindok, seorang raja dari Kerajaan Medang yang memerintah pada abad ke-10 Masehi. Mpu Sindok dikenal sebagai penguasa yang memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, sebuah peristiwa penting dalam sejarah perkembangan budaya dan politik di Nusantara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, situs ini diduga merupakan salah satu peninggalan dari masa pemerintahannya.

Penemuan struktur bata kuno menjadi salah satu petunjuk utama yang mengarah pada asal-usul situs ini. Dalam ekskavasi yang dilakukan, tim arkeolog menemukan dinding bata merah dengan ketebalan yang tidak biasa, yaitu sekitar 11 centimeter per bata. Bata-bata ini memiliki karakteristik yang mirip dengan bangunan dari era Mpu Sindok, yang dikenal dengan arsitektur candi yang kokoh dan monumental. Struktur ini berbeda dari bata yang ditemukan di situs-situs lain seperti Trowulan, Mojokerto, yang umumnya berasal dari masa Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Ketebalan bata yang lebih besar ini menunjukkan bahwa Mbah Blawu kemungkinan besar berasal dari periode yang lebih awal, memperkuat dugaan bahwa situs ini adalah peninggalan dari masa Kerajaan Medang.

Ekskavasi hari kedua pada tahun 2022 memberikan temuan yang lebih signifikan. Tim menemukan struktur bata yang lebih tebal dan terorganisir, yang diyakini sebagai bagian dari kaki candi. Temuan ini tidak hanya memperkuat hipotesis tentang usia situs, tetapi juga membuka wawasan baru tentang teknologi konstruksi pada masa itu. Bata merah yang digunakan menunjukkan tingkat keahlian tinggi dalam pembakaran dan penyusunan, yang merupakan ciri khas bangunan sakral atau monumental pada masa Kerajaan Medang.

Selain itu, lokasi situs yang berada di kawasan pemakaman umum Desa Sukosari juga memunculkan spekulasi bahwa tempat ini dulunya memiliki fungsi penting, baik sebagai tempat ibadah maupun pusat kegiatan masyarakat. Nama “Mbah Blawu” sendiri kemungkinan berasal dari tradisi lokal, meskipun belum ada penelitian mendalam yang mengungkap asal-usul nama tersebut. Namun, keberadaan situs ini di tengah pemakaman menunjukkan bahwa tempat ini telah lama dianggap sakral oleh masyarakat setempat, bahkan sebelum penemuan arkeologis dilakukan.

Tempat Bersejarah di Jombang

Situs Mbah Blawu terletak di Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, tepatnya di kawasan pemakaman umum yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Lokasi ini dipilih untuk ekskavasi berdasarkan kajian awal yang menunjukkan adanya struktur bangunan purbakala yang tersembunyi di bawah tanah. Pada tahun 2022, upaya penggalian berhasil mengungkap struktur kaki candi berukuran 9×9 meter pada kedalaman 130 centimeter dari permukaan tanah. Struktur ini terbuat dari bata merah kuno yang tersusun rapi, menunjukkan bahwa bangunan ini dirancang dengan teliti dan memiliki fungsi penting pada masanya.

Salah satu temuan menarik dari situs ini adalah sumur kuno yang ditemukan dalam proses ekskavasi. Sumur ini memiliki ukuran 1,5×1,5 meter dan di dalamnya terdapat batu andesit berbentuk lonjong dengan lubang persegi di tengahnya. Batu ini diduga merupakan wadah pripih, sebuah benda magis yang sering ditempatkan dalam struktur candi untuk memberikan daya sakral atau perlindungan spiritual. Pripih biasanya berupa lempengan logam atau batu yang berisi mantra atau simbol tertentu, yang mencerminkan kepercayaan masyarakat pada masa itu terhadap kekuatan supranatural.

Struktur candi yang ditemukan di Mbah Blawu memiliki beberapa keunikan dibandingkan dengan candi-candi lain di Jawa Timur. Ketebalan bata yang mencapai 11 centimeter menunjukkan bahwa bangunan ini dirancang untuk tahan lama, mungkin sebagai tempat ibadah atau monumen penting. Selain itu, lokasinya yang berada di bawah permukaan tanah menunjukkan bahwa situs ini telah terkubur selama berabad-abad, kemungkinan akibat sedimentasi atau perubahan lingkungan alami di wilayah tersebut.

Keberadaan situs ini di kawasan pemakaman juga menambah dimensi historis dan budaya yang menarik. Pemakaman umum biasanya dipilih sebagai lokasi yang dianggap suci atau memiliki nilai spiritual oleh masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa Mbah Blawu mungkin telah menjadi bagian dari tradisi lokal jauh sebelum ekskavasi modern dilakukan. Temuan-temuan ini menjadikan Mbah Blawu sebagai salah satu situs bersejarah yang patut mendapat perhatian lebih lanjut untuk mengungkap cerita masa lalu Jawa Timur.

Usaha Pelestarian Situs

Upaya pelestarian Situs Mbah Blawu melibatkan kerja sama antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang. Ekskavasi tahap pertama dilakukan pada September 2022 dengan anggaran sebesar Rp50 juta yang berasal dari Pemerintah Kabupaten Jombang. Penggalian ini berlangsung selama enam hari dan berhasil mengungkap bagian dari struktur candi, termasuk kaki candi berukuran 9×9 meter.

Setelah keberhasilan tahap pertama, ekskavasi tahap kedua dilanjutkan pada Oktober 2022 dengan durasi 12 hari dan anggaran tambahan sebesar Rp50 juta. Fokus utama tahap kedua adalah untuk menyingkap lebih banyak bagian dari struktur candi, khususnya di sisi barat dan timur laut, serta mencari bukti tambahan yang dapat membantu menentukan periodisasi dan fungsi situs. Temuan seperti sumur kuno dan batu andesit menjadi sorotan dalam tahap ini, memberikan petunjuk lebih lanjut tentang kompleksitas situs ini.

Namun, pelestarian situs ini tidak luput dari tantangan. Salah satu masalah yang dihadapi adalah dugaan perusakan yang terjadi di masa lalu. Dinding sumur kuno menunjukkan tanda-tanda kerusakan, dan pripih yang diduga pernah ada di dalamnya telah hilang, kemungkinan dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa situs ini rentan terhadap vandalisme dan pencurian, sehingga memerlukan langkah pengamanan yang lebih ketat.

Untuk mengatasi masalah ini, tim pelestarian berencana meningkatkan pengawasan di lokasi situs. Selain itu, edukasi kepada masyarakat sekitar juga menjadi bagian dari strategi pelestarian, agar mereka turut menjaga warisan budaya ini. Rencana jangka panjang meliputi pembuatan zona perlindungan di sekitar situs dan pengembangan fasilitas pendukung untuk memudahkan penelitian dan kunjungan.

Respons Masyarakat

Masyarakat Desa Sukosari memberikan respons yang positif terhadap upaya pelestarian Situs Mbah Blawu. Mereka menyadari bahwa situs ini bukan hanya peninggalan arkeologis, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sejarah lokal. Banyak warga yang turut serta dalam proses ekskavasi sebagai tenaga kerja lokal, yang tidak hanya membantu tim arkeolog tetapi juga memberikan mereka kesempatan untuk mempelajari sejarah daerah mereka secara langsung.

Namun, ada pula tantangan yang muncul, terutama karena lokasi situs berada di kawasan pemakaman umum. Pada ekskavasi tahap kedua, tim berencana membongkar teras makam untuk menggali lebih dalam, meskipun hanya terasnya yang akan dibongkar, bukan makam itu sendiri. Keputusan ini memerlukan komunikasi yang intensif dengan pemerintah desa dan keluarga yang memiliki makam di lokasi tersebut. Untungnya, dengan pendekatan yang hati-hati dan transparan, proses ini dapat berjalan tanpa menimbulkan konflik besar.

Partisipasi masyarakat dalam pelestarian situs ini menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Dukungan mereka tidak hanya terlihat dari keterlibatan fisik, tetapi juga dari kesediaan untuk menjaga situs dari potensi kerusakan. Sikap positif ini diharapkan dapat terus terjaga, terutama jika situs ini dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah di masa depan.

Dukungan Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Jombang, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam pelestarian Situs Mbah Blawu. Total anggaran sebesar Rp100 juta telah dialokasikan untuk ekskavasi tahap pertama dan kedua, yang digunakan untuk biaya penggalian, honorarium tenaga ahli, dan perlengkapan ekskavasi. Dukungan finansial ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah serius dalam menjaga warisan budaya.

Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi koordinasi antara BPK Jawa Timur, pemerintah desa, dan masyarakat setempat. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa semua pihak memiliki visi yang sama dalam pelestarian situs. Rencana jangka panjang pemerintah adalah mengembangkan Mbah Blawu sebagai objek wisata sejarah, yang tidak hanya akan memberikan manfaat edukasi tetapi juga dampak ekonomi bagi masyarakat Jombang.

Dukungan ini juga mencakup upaya promosi dan sosialisasi, agar situs ini dikenal lebih luas oleh masyarakat Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya. Dengan menggabungkan pendekatan ilmiah dan wisata, pemerintah berharap Mbah Blawu dapat menjadi salah satu destinasi unggulan yang menceritakan kekayaan sejarah masa lalu.

Kesimpulan

Situs Mbah Blawu Jombang adalah sebuah harta karun arkeologis yang menyimpan jejak peradaban dari era Mpu Sindok pada abad ke-10 Masehi. Dengan temuan seperti struktur candi, sumur kuno, dan batu andesit, situs ini memberikan wawasan berharga tentang kehidupan masyarakat Kerajaan Medang. Upaya pelestarian yang melibatkan ekskavasi, pengamanan, dan edukasi menunjukkan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga warisan budaya ini. Respons positif dari warga Desa Sukosari dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Jombang menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan pelestarian situs ini. Di masa depan, Mbah Blawu berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang penting, tidak hanya bagi Jawa Timur tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan.

Tinggalkan komentar