Pentas Edukasi, Seni, dan Budaya Kabupaten (PESBUKAB) Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang adalah sebuah perhelatan akbar yang bukan sekadar menjadi tontonan, melainkan sebuah cerminan dari semangat pelestarian, pengembangan, dan apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal. Pesbukab Kecamatan Mojowarno dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 05 Oktober 2025 di Lapangan Desa Gondek mulai pukul tujuh pagi sampai selesai. Acara ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri, mengasah bakat, serta menanamkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan akan identitas budaya bangsa. Dengan ragam penampilan mulai dari keagamaan, tari tradisional, lagu daerah, hingga seni jaranan, PESBUKAB Mojowarno berhasil menciptakan sebuah mozaik budaya yang memukau dan edukatif.
Pembukaan dan Sambutan: Menyongsong Semangat Kebudayaan
Setiap perhelatan besar selalu diawali dengan serangkaian prosesi yang menandai dimulainya acara. Demikian pula dengan PESBUKAB Kecamatan Mojowarno.
1. Pembukaan Resmi
Acara dibuka dengan penuh semangat, menandakan dimulainya sebuah perjalanan budaya yang akan menyuguhkan berbagai penampilan menarik. Pembukaan ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah pintu gerbang menuju perayaan seni dan budaya yang telah dipersiapkan dengan matang oleh seluruh pihak yang terlibat.
2. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
Sebagai wujud rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, seluruh hadirin berdiri tegak menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Momen ini selalu menjadi pengingat akan persatuan, perjuangan, dan identitas bangsa yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Suara-suara yang bersatu dalam alunan melodi kebangsaan menciptakan atmosfer kebersamaan dan patriotisme yang kuat.
3. Sambutan
Sambutan dari para tokoh penting dalam acara ini menjadi penanda betapa serius dan strategisnya PESBUKAB dalam konteks pendidikan dan kebudayaan di Mojowarno.
a. Sambutan Ketua Panitia (Ketua KKKS Kecamatan Mojowarno)
Ketua Panitia merupakan perwakilan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Mojowarno, menyampaikan sambutannya. Dalam pidatonya, beliau mengapresiasi kerja keras seluruh panitia, guru, siswa, dan orang tua yang telah berpartisipasi aktif dalam menyukseskan acara ini. Beliau menekankan pentingnya PESBUKAB sebagai ajang untuk mengembangkan bakat dan kreativitas anak didik, serta sebagai sarana untuk memperkenalkan dan melestarikan seni dan budaya lokal kepada generasi muda. Sambutan ini juga mungkin menyoroti visi dan misi KKKS dalam mendukung pendidikan karakter melalui seni dan budaya.
b. Sambutan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang
Perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang turut memberikan sambutan. Sambutan dari Rhendra Kusuma, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, memberikan pandangan yang lebih luas tentang peran PESBUKAB dalam konteks kebijakan kebudayaan dan pendidikan di tingkat kabupaten. Mereka mungkin menggarisbawahi komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan serupa, pentingnya pendidikan berbasis budaya, dan harapan agar PESBUKAB dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang. Sambutan ini juga dapat berfungsi sebagai motivasi bagi seluruh peserta dan masyarakat untuk terus mencintai dan mengembangkan kebudayaan.
4. Do’a
Setelah serangkaian prosesi pembukaan dan sambutan, acara ditutup dengan do’a bersama dipimpin oleh Ustadz Ulil. Do’a ini memohon kelancaran acara, keberkahan bagi semua yang hadir, dan agar semangat kebersamaan serta pelestarian budaya dapat terus tumbuh dan berkembang di Kecamatan Mojowarno. Momen do’a ini juga memberikan sentuhan spiritual, mengingatkan akan nilai-nilai luhur yang menyertai setiap kegiatan masyarakat.
Tampilan Awal: Mengawali dengan Nuansa Religius dan Tradisional
Bagian tampilan awal PESBUKAB Mojowarno dirancang untuk memberikan kesan mendalam dengan sentuhan religius dan tradisional, menunjukkan keragaman budaya yang ada di Indonesia, termasuk nilai-nilai keagamaan.
1. MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) oleh Ananda Achmad Al Ghazali
Penampilan awal dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang merdu dari Ananda Achmad Al Ghazali dari SDIT Hasan Sanusi. Ananda Achmad Al Ghazali bukanlah sosok sembarangan; ia merupakan Juara 1 MTQ Lomba Keagamaan Tingkat Kecamatan dan Juara 3 MTQ Lomba Keagamaan Tingkat Kabupaten. Kehadirannya memberikan nuansa khidmat dan menenangkan, menunjukkan bahwa seni dan budaya tidak lepas dari nilai-nilai spiritualitas. Lantunan ayat suci yang dibawakannya dengan indah menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan agama dan moral sebagai pondasi bagi generasi penerus bangsa.
2. Banjari oleh Tim Banjari SD Negeri Selorejo
Melanjutkan nuansa religius, Tim Banjari dari SD Negeri Selorejo menampilkan kebolehannya. Tim ini merupakan Juara 1 Al Banjari Lomba Keagamaan Tingkat Kecamatan. Dengan membawakan lagu “Bocah Cilik-cilik” dan “Ajmal Dzikro”, mereka menyajikan perpaduan harmonis antara musik islami tradisional dengan lirik yang mendalam. Penampilan Banjari ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan moral dan keagamaan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dikemas dalam irama yang syahdu dan menggugah hati. Ini juga menjadi bukti bahwa seni tradisional, seperti Banjari, masih hidup dan berkembang di kalangan anak-anak sekolah dasar.
Tampilan Inti: Puncak Kreasi dari Berbagai Jenjang Pendidikan
Bagian inti dari PESBUKAB Mojowarno adalah panggung bagi para peserta didik dari berbagai jenjang, mulai dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga Sekolah Dasar (SD), untuk menampilkan bakat dan kreativitas mereka dalam seni tari dan musik.
Tampilan dari KB (Kelompok Bermain)
Anak-anak dari Kelompok Bermain menunjukkan bahwa usia dini bukan penghalang untuk berkarya dan berbudaya.
1. Tari Gambang Suling dari KB Najatud Daroini
Tari Gambang Suling dari KB Najatud Daroini adalah penampilan yang menggemaskan sekaligus bermakna. Tari ini berasal dari Jawa Tengah dan merupakan tarian kreasi yang menggambarkan keindahan alat musik tradisional, gambang suling. Lebih dari itu, tarian ini juga menggambarkan kehidupan yang harmonis. Gerakan-gerakan sederhana yang lincah dan ceria dari anak-anak KB berhasil memukau penonton, menanamkan sejak dini kecintaan terhadap seni tradisional dan nilai-nilai kebersamaan.
2. Tari Sanamre dari KB Miftahun Najah
Dari KB Miftahun Najah, disajikan Tari Sanamre, sebuah tarian adaptasi dari India yang dikreasikan dengan gerakan yang lincah dan indah. Penampilan ini menunjukkan keberanian anak-anak KB dalam mengeksplorasi berbagai bentuk seni dan budaya, bahkan dari lintas negara, namun tetap dengan sentuhan kreativitas lokal. Kostum yang warna-warni dan gerakan yang energik menciptakan suasana ceria dan penuh semangat.

Tampilan dari TK (Taman Kanak-Kanak)
Anak-anak TK melanjutkan estafet kreasi dengan penampilan yang lebih kompleks dan penuh makna.
1. Tari Saman dari TK Tahfidul Qur’an
Tari Saman yang ditampilkan oleh anak-anak TK Tahfidul Qur’an adalah bukti bahwa tarian daerah yang kaya makna bisa diajarkan sejak dini. Berasal dari masyarakat Gayo, Provinsi Aceh, gerakan Tari Saman menggambarkan kekompakan dan kebersamaan, menjaga sopan santun, serta menghargai sesama. Meskipun dibawakan oleh anak-anak TK, semangat kekompakan dan sinkronisasi gerakan yang ditampilkan sungguh mengesankan, memberikan pesan moral yang kuat tentang persatuan dan kebersamaan.
2. Tari Pelangi Nusantara dari TK Mutiara Hati Mojoduwur
TK Mutiara Hati Mojoduwur menampilkan Tari Pelangi Nusantara, sebuah tari kreasi yang secara visual menampilkan keindahan dan keberagaman budaya Indonesia. Tarian ini mungkin memadukan berbagai elemen gerak tari dari berbagai daerah di Indonesia, diiringi musik yang ceria dan kostum yang berwarna-warni. “Pelangi Nusantara” adalah metafora yang tepat untuk menggambarkan kekayaan multikultural Indonesia, yang diajarkan dan diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini.
Tampilan dari SD (Sekolah Dasar)
Jenjang Sekolah Dasar menjadi panggung utama untuk penampilan yang lebih bervariasi dan menunjukkan tingkat kematangan dalam seni.
1. Menyanyi Solo oleh Ananda Gama (SDK YBPK Mojowarno)
Ananda Gama, siswa kelas 2 dari SDK YBPK Mojowarno, menyanyikan lagu “Koyo Yogya Istimewa”. Lagu ini menggambarkan rasa cinta kepada kota kelahirannya, Yogyakarta. Penampilan solo ini tidak hanya memamerkan kemampuan vokal Ananda Gama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap daerah asal dan keunikan budaya lokal. Suara yang polos namun merdu dari seorang anak kelas 2 berhasil menyentuh hati penonton.
2. Tari Jaranan Dor dari SD Negeri Gondek
Tari Jaranan Dor yang ditampilkan oleh anak-anak dari SD Negeri Gondek adalah salah satu puncak penampilan yang sarat makna. Tari ini merupakan perpaduan antara ritual, hiburan, dan pelestarian budaya. Fungsi utama tari Jaranan Dor adalah untuk menolak bala (marabahaya), menghormati leluhur, hingga melambangkan semangat perjuangan dan kekuatan magis. Tarian ini menjadi bagian penting dari upacara bersih desa dan ritual keselamatan bagi masyarakat petani. Penampilan yang energik dengan iringan musik gamelan yang khas, serta properti jaranan, berhasil menghidupkan kembali semangat tradisi yang kental.
3. Menyanyi Solo oleh Ananda Afsheen Inara (SD Negeri Selorejo)
Ananda Afsheen Inara dari SD Negeri Selorejo menampilkan kemampuan vokal solo dengan membawakan lagu berjudul “Ajaib”. Penampilan ini menunjukkan bakat individual dalam bidang tarik suara, memberikan variasi dalam rangkaian acara, dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan personal mereka.
4. Menyanyi Solo oleh Ananda Keren (SDK YBPK Mojowarno)
Ananda Keren, siswa kelas 5 dari SDK YBPK Mojowarno, melanjutkan segmen menyanyi solo dengan membawakan lagu “Indonesia Pusaka”. Lagu kebangsaan ini selalu berhasil membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air. Dengan penghayatan yang baik, Ananda Keren berhasil menyampaikan pesan-pesan luhur tentang kekayaan alam, sejarah, dan keberanian para pahlawan Indonesia.
5. Tari Ular oleh Ananda Fiona Rivaldi (SD Negeri Grobogan 2)
Ananda Fiona Rivaldi dari SD Negeri Grobogan 2 menampilkan Tari Ular, sebuah kearifan lokal kesenian budaya Desa Grobogan. Tarian ini memiliki makna kerukunan terhadap lingkungan sekitar. Penampilan tari yang unik ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan ekologis dan sosial tentang pentingnya harmoni antara manusia dengan alam dan sesama.
Tampilan Penutup: Memperkokoh Tradisi dengan Semangat Jombang
Bagian penutup PESBUKAB Kecamatan Mojowarno disajikan dengan penampilan yang kuat dan berakar pada tradisi lokal, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh hadirin.
Seni Jaranan versi Dor Jombangan, Turonggo Joss Original dari Sukoharjo Mojowarno
Sebagai penutup yang megah, disajikanlah Seni Jaranan versi Dor Jombangan, yang dibawakan oleh grup Turonggo Joss Original dari Sukoharjo Mojowarno. Jaranan Dor Jombangan dikenal dengan karakteristiknya yang kuat, energik, dan seringkali diiringi dengan unsur-unsur magis. Penampilan ini bukan hanya sekadar tarian, melainkan sebuah pertunjukan yang menggabungkan elemen musik, tari, drama, dan bahkan ritual. Grup Turonggo Joss Original, dengan nama yang mengandung semangat dan keaslian, berhasil menyuguhkan pertunjukan Jaranan yang otentik dan memukau.
Seni Jaranan secara umum merepresentasikan semangat perjuangan, keberanian, dan identitas budaya masyarakat Jawa Timur, khususnya Jombang. Dengan iringan musik gamelan yang menghentak, kostum yang khas, dan gerakan yang dinamis, Jaranan versi Dor Jombangan ini menjadi penutup yang sempurna, menegaskan kembali kekayaan seni dan budaya yang dimiliki oleh Kecamatan Mojowarno dan Kabupaten Jombang secara keseluruhan. Penampilan ini juga menjadi bukti bahwa seni tradisional tetap relevan dan memiliki tempat di hati masyarakat, terutama ketika dibawakan dengan semangat dan kualitas yang tinggi.
Refleksi dan Makna PESBUKAB Mojowarno
PESBUKAB Kecamatan Mojowarno lebih dari sekadar serangkaian pertunjukan seni. Ia adalah sebuah refleksi dari komitmen kolektif masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya. Beberapa poin penting yang dapat diambil dari acara ini adalah:
- Pendidikan Karakter Melalui Seni: Melalui berbagai penampilan, anak-anak diajarkan tentang nilai-nilai luhur seperti kekompakan, kebersamaan, sopan santun, menghargai sesama, hingga cinta tanah air dan kerukunan lingkungan. Ini adalah bentuk nyata pendidikan karakter yang tidak hanya teoritis tetapi juga praktis dan imersif.
- Apresiasi Terhadap Bakat Lokal: PESBUKAB memberikan panggung bagi siswa-siswi berprestasi di bidang keagamaan dan seni, seperti Ananda Achmad Al Ghazali, Tim Banjari SD Negeri Selorejo, hingga para penyanyi solo dan penari. Ini mendorong mereka untuk terus mengembangkan bakat dan menjadi inspirasi bagi teman-teman sebaya.
- Pelestarian Warisan Budaya: Acara ini secara aktif memperkenalkan dan melestarikan berbagai bentuk seni dan budaya tradisional, mulai dari MTQ, Banjari, Tari Gambang Suling, Tari Saman, Tari Jaranan Dor, Tari Ular, hingga Seni Jaranan Dor Jombangan. Ini penting untuk memastikan bahwa warisan leluhur tidak punah, melainkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
- Pengembangan Kreativitas: Selain tarian tradisional, ada pula tari kreasi seperti Tari Gambang Suling, Tari Tere Liye, dan Tari Pelangi Nusantara. Ini menunjukkan bahwa seni budaya tidak stagnan, melainkan terus berkembang dan beradaptasi dengan sentuhan kreativitas baru.
- Semangat Kebersamaan dan Persatuan: Berbagai pihak, mulai dari panitia, guru, orang tua, hingga siswa, bekerja sama untuk menyukseskan acara ini. Kehadiran berbagai jenjang pendidikan juga menciptakan ikatan kebersamaan dalam satu semangat budaya.
Dengan segala keragaman dan kekayaan penampilan yang disajikan, Pentas Edukasi, Seni, dan Budaya Kabupaten (PESBUKAB) Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang berhasil menjadi sebuah perhelatan yang inspiratif dan bermakna. Acara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi. Semoga PESBUKAB dapat terus dilaksanakan dan menjadi mercusuar bagi pelestarian serta pengembangan seni dan budaya di Jombang.


