Bumi Jombang sangat tua. Begitu ungkapan yang sering terdengar dari para tetua di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sebelum Pulau Jawa sebagaimana kita kenal hari ini terbentuk, sudah ada deretan pulau yang kini menjadi Pegunungan Kendeng atau yang dikenal sebagai Kapur Tengah. Nusa Kendeng itu bukan sekadar legenda, melainkan fondasi geologi yang menjadi saksi bisu perjalanan bumi Nusantara. Di tanah ini, tiga formasi tanah utama yang masih terlihat jelas hingga kini, Kabuh, Pucangan, dan Kalibeng, menjadi bukti hidup bahwa Jombang bukanlah tanah biasa. Kebetulan, di sini pula terdapat Lipatan Kabuh, titik pertemuan tiga lempeng benua yang luar biasa. Ketika lipatan itu terangkat akibat tekanan alam, terbentuklah daratan luas yang menghubungkan Malaka, Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa. Namun, letusan superkeras Gunung Krakatau mengubah segalanya. Abu vulkanik yang tertiup angin tenggara mampu mencairkan es di daratan Asia Tenggara, memisahkan pulau-pulau tersebut menjadi bentuk yang kita kenal sekarang. Itulah alasan para tetua menyebut Jombang sebagai “paku bumi”, penyangga yang kokoh, titik tumpu yang menahan seluruh dinamika pulau Jawa.
Kabupaten Jombang terletak persis pada urat nadi primer Pulau Jawa. Posisinya yang strategis ini bukan kebetulan semata, melainkan anugerah alam yang telah membentuk sejarah, ekonomi, dan budaya masyarakatnya selama berabad-abad. Jalur kereta api lintas utara dan jalan raya utama melintasi wilayah ini sejak zaman kolonial. Pemerintah Hindia Belanda membangun Jalan Daendels dan rel kereta api bukan untuk kenyamanan rakyat, melainkan untuk memperlancar pengangkutan hasil bumi dan kekayaan olahan terutama gula ke pelabuhan-pelabuhan untuk diekspor ke luar Nusantara. Karena dekat dengan laut dan menjadi persimpangan lintas pulau bahkan lintas benua, Jombang menjadi urat nadi vital. Selain itu, ada pula urat nadi sekunder yang menghubungkan pantai utara hingga pantai selatan Jawa. Menurut buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, persimpangan kedua urat nadi ini ditandai oleh Ringin Contong, sebuah titik pusat yang legendaris. Ringin Contong bukan sekadar bundaran biasa; ia adalah pusat persinggahan, pusat informasi, pusat transaksi perdagangan, dan pusat transformasi ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru. Di sini, orang-orang dari segala lapisan bertemu, berbagi cerita, dan membangun jaringan yang memperkuat kehidupan bersama.
Bukan kebetulan pula ketika Raden Adipati Arya Soero Adiningrat V dipindahkan dari Kabupaten Sedayu ke Kabupaten Jombang. Sebagai bupati pertama Jombang yang resmi (setelah pemisahan dari Mojokerto sekitar awal abad ke-20), ia dihadiahi 13 pabrik gula oleh pemerintah kolonial. Hadiah ini mencerminkan betapa strategis dan suburnya tanah Jombang. Bumi Jombang merupakan lembah subur yang dilindungi dua benteng alam: Pegunungan Anjasmoro di selatan dan Pegunungan Kendeng di utara. Anjasmoro, dengan lebih dari 40 puncaknya yang mencapai ketinggian hingga 2.372 meter di atas permukaan laut, menyediakan aliran air yang melimpah sepanjang tahun. Kendeng di utara, bagian dari zona lipatan struktural yang membentang dari Ungaran hingga Madura, menjaga lembah dari banjir besar sekaligus menyumbang kesuburan tanah melalui endapan vulkanik dan sedimen. Kebutuhan air untuk pertanian dan industri terpenuhi dengan mudah. Berapa hektar tanaman tebu yang dibutuhkan untuk memasok 13 pabrik gula tersebut? Ribuan hektar, tentu saja. Penyerapan tenaga kerja pun sangat tinggi, menarik penduduk dari berbagai daerah untuk bermigrasi dan berkontribusi.

Kesuburan tanah ini tidak hanya menghasilkan gula, tetapi juga membentuk masyarakat yang sangat dinamis. Penduduk Jombang terkenal dengan semangat gotong royong dan adaptasi yang tinggi. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini sudah dihuni sejak ribuan tahun lalu, dibuktikan oleh fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas. Pada masa Kerajaan Majapahit (1293–1500 M), Jombang menjadi gerbang penting dengan gapura barat di Tunggorono dan gapura selatan di Ngrimbi. Nama desa-desa seperti Mojoagung dan Mojowarno menjadi saksi pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Kemudian, Islam masuk secara damai dari pesisir utara, diserap dengan toleran. Setelah Majapahit runtuh, Jombang menjadi bagian Mataram Islam, lalu VOC, hingga Hindia Belanda. Pluralisme terlihat jelas: etnis Tionghoa dengan Klenteng Hong San Kiong di Gudo (dibangun sekitar 1700), komunitas Kristen di Mojowarno, dan mayoritas Muslim santri. Alfred Russel Wallace, ilmuwan Inggris, bahkan mengunjungi Wonosalam pada 1861 untuk mengumpulkan spesimen burung dan mengagumi Candi Arimbi.
Dinamika masyarakat Jombang lahir dari benturan antar kelompok yang kemudian mengkristal menjadi dua identitas utama: masyarakat “ijo” dan masyarakat “abang”. Kata “Jombang” sendiri konon berasal dari akronim “ijo” (hijau) dan “abang” (merah). Masyarakat ijo mendambakan keentraman hidup dunia-akhirat karena ridho Allah SWT, mereka adalah kaum santri yang taat beribadah, menjaga nilai-nilai agama, dan mendirikan ratusan pondok pesantren seperti Tebuireng (pendiri KH Hasyim Asy’ari, tokoh Nahdlatul Ulama), Denanyar, Tambakberas, dan Rejoso. Sementara itu, masyarakat abang penuh semangat dan kerja keras demi kedamaian hidup bersama, berlandaskan nilai-nilai luhur budaya daerah, mereka mewakili kaum abangan atau nasionalis kejawen yang dinamis, kritis, dan berani. Karena kenyang akan konflik, baik benturan antar kelompok internal maupun dengan pihak luar seperti penjajah, masyarakat akhirnya menemukan kenyamanan dalam berbagi. Bencana alam seperti banjir Brantas atau letusan gunung, serta tekanan kolonial, memaksa mereka bekerja sama. Akhirnya, mereka bisa bersinergi untuk hal-hal yang sama, dan saling menghormati untuk hal-hal yang berbeda. Harmoni ini tercermin dalam lambang daerah: perisai hijau-merah, padi-kapas sebagai simbol kemakmuran, gerbang Majapahit, serta warna-warna yang melambangkan kesuburan, keberanian, dan kesucian.
Karakter masyarakat Jombang yang khas ini dapat diringkas dalam empat ungkapan Jawa yang mendalam: brah-breh, brang-breng, brak-bruk, dan bareng-bareng. Brah-breh berarti “njaba njero padha”, jujur dari luar dan dalam, isi hati, omongan, dan kelakuan selaras, tanpa kepura-puraan. Di Jombang, orang bicara apa adanya, tapi dengan santun. Brang-breng adalah blakasuta, tanpa tedheng aling-aling, berterus terang, tidak suka berbelit-belit, langsung ke pokok masalah, tapi tetap menjaga rasa. Brak-bruk berarti luman, tidak emanan, tidak pelit, generositas tinggi, suka berbagi rezeki, baik makanan, ilmu, maupun tenaga. Terakhir, bareng-bareng adalah rawe-rawe rantas, malang-malang putung, bersama-sama menghadapi segala rintangan, seperti rumput yang dirantas atau duri yang dipatahkan. Ungkapan ini bukan sekadar pepatah, melainkan falsafah hidup yang diamalkan sehari-hari. Dalam musyawarah desa, gotong royong membangun masjid atau jalan, hingga perayaan bersama, semangat ini terus hidup.

Geologi Jombang semakin memperkuat ketangguhan ini. Menurut data resmi Kabupaten Jombang, stratigrafi dari tertua ke termuda meliputi Formasi Kalibeng Bawah dan Atas (endapan laut dalam berumur Miosen-Pliosen), Formasi Pucangan (fasies vulkanik dan lempung), Formasi Kabuh (pasir dan konglomerat yang subur), hingga aluvium Sungai Brantas yang membentuk dataran tengah yang sangat produktif. Kawasan utara berupa perbukitan struktural lipatan (Kabuh, Ngusikan, Kudu, Plandaan) dengan morfologi bergelombang dan puncak seperti Gunung Pucangan (168 m). Selatan adalah perbukitan vulkanik Anjasmoro yang memberikan air dan kesuburan. Tengah adalah dataran aluvial seluas puluhan ribu hektar, ideal untuk padi, tebu, tembakau, dan hortikultura. Hidrologi didominasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas (99,2%), dengan irigasi mencakup 48.029 hektar. Tanah andosol, grumosol, dan alluvial mendukung pertanian intensif. Inilah yang membuat 13 pabrik gula era kolonial bisa beroperasi, setiap pabrik membutuhkan ribuan ton tebu per hari, menyerap puluhan ribu pekerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ringin Contong menjadi simbol persatuan di tengah dinamika ini. Pohon beringin raksasa ditanam oleh Bupati pertama R.A.A. Soero Adiningrat V pada 21 Oktober 1910, tepat saat Jombang resmi berstatus kabupaten mandiri. Nama “Ringin” dari beringin, “Contong” dari bentuk tanah yang menyontong (menonjol) di persimpangan jalan Surabaya-Madiun. Menara air peninggalan Belanda (dibangun 1928 oleh Ir. Snuyf) berdiri di sampingnya, menjadi landmark kota. Dulu, tempat ini pusat peristirahatan pedagang, sekarang tetap menjadi titik berkumpul, foto-foto, dan simbol identitas. Pohon itu pernah roboh dua kali (1964 dan 1989) tapi selalu ditanam kembali, bukti ketahanan masyarakat.
Hari ini, Jombang terus berkembang di atas fondasi kuno ini. Dengan penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa, luas 1.159,50 km², dan posisi 79 km barat daya Surabaya, ia tetap persimpangan strategis: jalur Surabaya-Madiun-Yogyakarta, Surabaya-Tulungagung, Malang-Tuban. Industri gula masih ada, meski modernisasi telah mengubahnya. Pertanian organik, wisata alam Anjasmoro (jalur pendakian via Carangwulung atau Wonosalam), Goa Sigolo-golo, Air Terjun Tretes, serta wisata religi ke pesantren menjadi andalan baru. Pluralisme tetap terjaga: santri dan abangan hidup rukun, etnis Tionghoa, Arab, dan Kristen berkontribusi. Tokoh seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim (putranya, Menteri Agama pertama) lahir dari tanah ini, memperkuat citra “Kota Santri” sekaligus kota harmoni.

Namun, tantangan tetap ada. Perubahan iklim mengancam kesuburan, urbanisasi menggerus nilai gotong royong, dan globalisasi menguji toleransi. Maka, karakter brah-breh, brang-breng, brak-bruk, dan bareng-bareng harus terus diwariskan. Generasi muda diajarkan untuk jujur, terbuka, dermawan, dan bersatu. Di sekolah, pesantren, dan komunitas, nilai-nilai ini hidup melalui kegiatan bersama—mulai dari bersih desa hingga festival budaya.
Jombang bukan hanya kabupaten biasa. Ia adalah paku bumi yang menahan getaran sejarah, geologi, dan manusia. Dari lipatan Kabuh yang mengangkat daratan, abu Krakatau yang memisahkan pulau, hingga Ringin Contong yang menyatukan orang-orang; dari 13 pabrik gula yang menggerakkan ekonomi hingga harmoni ijo-abang yang membangun perdamaian, semua menyatu menjadi satu narasi besar. Bumi Jombang yang tua ini terus berkisah: betapa sebuah tanah yang subur, strategis, dan penuh semangat bisa melahirkan masyarakat yang tangguh, bijak, dan penuh kasih. Di tengah Indonesia yang majemuk, Jombang mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, bersama kita teguh, bersama kita maju.


