Udara pagi di Alun-Alun Jombang pada Selasa, 21 Oktober 2025, terasa berbeda. Ada energi yang tak terucap, sebuah antisipasi yang menggantung di antara pepohonan rindang dan denyut aktivitas warga. Tepat ketika jarum jam merangkak, keheningan relatif itu pecah. Bukan oleh deru mesin, tapi oleh hentakan kaki yang ritmis, serempak, dan bertenaga.
Alun-Alun Jombang, yang biasanya menjadi ruang terbuka pasif, hari itu bermetamorfosis menjadi panggung kolosal. Sebanyak 1115 penari, sebuah angka simbolis yang menggetarkan, tumpah ruah dalam sebuah “Flash Mob Gedruk Jombangan”. Ini bukan sekadar tarian. Ini adalah sebuah pernyataan, sebuah manifesto budaya yang digelar untuk merayakan dua momentum agung: Hari Jadi ke-115 Pemerintah Kabupaten Jombang dan peringatan Hari Santri Nasional 2025.
Dari anak-anak usia sekolah dasar yang bergerak lincah, remaja-remaja penuh semangat, hingga para orang dewasa yang menari dengan kematangan ekspresi, semua melebur. Tidak ada sekat usia, tidak ada perbedaan latar belakang. Yang ada hanyalah 1115 tubuh yang bergerak dalam satu irama, satu kebanggaan, di bawah panji-panji budaya Jombangan.
Pemandangan itu sungguh memukau. Kekompakan mereka bukanlah hasil kerja semalam. Ia adalah cerminan dari latihan berhari-hari, dari disiplin yang ditempa, dan yang terpenting, dari rasa memiliki (sense of belonging) yang mendalam terhadap warisan leluhur. Mereka, 1115 penari itu, adalah wajah Jombang hari itu: dinamis, beragam, namun bersatu.
Puncak Simbolisme: Tari Kolosal 115 Penari
Gempita flash mob yang melibatkan ribuan orang itu kemudian mengerucut pada satu titik kulminasi yang tak kalah megah. Sebagai puncak acara, 115 penari terpilih—angka yang kembali sarat makna, merefleksikan 115 tahun usia kabupaten—maju ke tengah lapangan. Mereka menyuguhkan sebuah tari kolosal yang lebih terstruktur, lebih dalam, dan lebih filosofis.
Jika flash mob adalah tentang partisipasi massa dan ledakan kebahagiaan kolektif, maka tari kolosal 115 penari ini adalah tentang esensi. Gerakan mereka lebih tertata, formasinya lebih rumit, dan setiap liuk tubuhnya seolah bercerita tentang perjalanan panjang Jombang. Ini adalah simbol semangat kebersamaan dan cinta tanah kelahiran, sebuah persembahan tulus dari denyut nadi kesenian rakyat untuk para pemimpin dan seluruh masyarakatnya.
Di hadapan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan ribuan pasang mata yang menonton, 115 penari ini seakan menjadi representasi dari 115 tahun sejarah. Ada semangat perjuangan, ada harmoni keberagaman, dan ada harapan akan masa depan yang gemilang. Tepuk tangan riuh membahana begitu tarian usai, sebuah apresiasi tulus atas sajian artistik yang berhasil menyentuh sanubari.
Membongkar DNA Gedruk Jombangan: Perkawinan Tiga Ruh Budaya
Untuk memahami mengapa acara ini begitu penting, kita harus membedah inti dari apa yang mereka tampilkan: Tari Gedruk Jombangan. Ini bukanlah tarian yang lahir dari ruang hampa. Ia adalah sebuah karya fusion (perpaduan) yang digali dari tiga ruh budaya utama yang telah lama hidup dan mendarah daging di tanah Jombang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang (nama fiktif untuk ilustrasi artikel), Drs. Ahmad Mubarok, M.Pd., yang ditemui di sela-sela acara, menjelaskan filosofi di baliknya. “Gedruk Jombangan adalah identitas kita yang dirangkum dalam gerak. Ia adalah sintesis dari tiga elemen agung,” ujarnya.
Elemen pertama adalah Tari Remo Boletan. Remo, kita kenal sebagai tarian pembuka dalam pertunjukan Ludruk, adalah simbol dari karakter yang gagah (perkasa), maskulin, dan penuh percaya diri. Varian “Boletan” adalah kekhasan Jombang, yang gerakannya dikenal lebih tegas dan hentakan kakinya (gedruk) lebih mantap. Ini adalah ruh pejuang, simbol dari karakter masyarakat Jombang yang lugas, berani, dan tak kenal menyerah.
Elemen kedua adalah Gambus Misri. Ini adalah sentuhan yang paling jelas menghubungkan perayaan ini dengan Hari Santri. Gambus adalah musik padang pasir, identik dengan budaya Islam. “Misri” (Mesir) menunjukkan adanya akulturasi yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam dari Timur Tengah. Jombang, sebagai “Kota Santri” dan rumah bagi empat paku bumi (pasak) pondok pesantren besar (Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, Ploso), memiliki nafas religiusitas yang kental. Masuknya unsur Gambus Misri ke dalam Gedruk Jombangan adalah penegasan bahwa setiap gerak langkah pembangunan di Jombang harus selaras dengan nilai-nilai spiritual dan keislaman.
Elemen ketiga adalah Mawar Bersemi. Jika Remo adalah simbol maskulinitas dan Gambus adalah simbol religiusitas, maka Mawar Bersemi adalah representasi dari keindahan, kelembutan, dan harapan. “Mawar” yang “bersemi” melambangkan harapan akan kemakmuran, keindahan, dan kesejahteraan yang mekar. Ini adalah sisi feminin dari Jombang, sisi yang mengayomi, yang meneduhkan, dan yang merawat kehidupan.
Ketika ketiga elemen ini—kekuatan Remo, spiritualitas Gambus, dan keindahan Mawar—disatukan, lahirlah “Gedruk Jombangan”. Sebuah tarian yang rancak, dinamis, namun tetap sarat dengan nilai. Gerakan hentakan kakinya (gedruk) adalah simbol dari tapak langkah yang pasti, iringan musiknya adalah harmoni antara tradisi lokal dan nilai agama, dan keindahannya adalah tujuan akhir: Jombang yang sejahtera.
Filosofi untuk Sang Pemimpin
Perhelatan kolosal ini, menurut panitia, bukan sekadar tontonan. Ada pesan yang dititipkan melalui 1115 penari tersebut. “Tarian ini adalah doa dan sekaligus penyemangat,” lanjut Ahmad Mubarok. “Filosofinya adalah memberikan semangat kepada Pemerintah Kabupaten Jombang dalam memimpin dan membangun daerah.”
Pesan itu jelas: seorang pemimpin Jombang diharapkan memiliki kegagahan dan ketegasan seperti penari Remo dalam mengambil keputusan, memiliki landasan spiritualitas yang kuat laksana alunan Gambus Misri dalam setiap kebijakannya, dan memiliki tujuan mulia untuk mewujudkan keindahan dan kesejahteraan (Mawar Bersemi) bagi seluruh rakyatnya.
Di usianya yang ke-115, Jombang dihadapkan pada tantangan zaman yang kompleks. Tarian ini menjadi pengingat kolektif bahwa modal utama Jombang adalah kekuatan budayanya, identitas santrinya, dan harapan rakyatnya.
Suara di Balik Gegap Gempita: Kritik di Ruang Digital
Namun, seperti dua sisi mata uang, gegap gempita di Alun-Alun Jombang tidak serta-merta disambut dengan pujian bulat di semua lini. Di ruang-ruang diskusi digital, terutama di kolom komentar media sosial yang mengunggah kemeriahan acara tersebut, muncul suara-suara sumbang. Kritik, sebuah elemen tak terpisahkan dari demokrasi modern, menyeruak ke permukaan.
Seorang netizen dengan akun @PutraJombangAsli menulis, “Maaf, tapi menurut saya ini programnya tidak bermutu sama sekali. Apa manfaatnya? Jalan di desa saya masih rusak, lebih baik anggarannya untuk itu.”
Komentar ini diamini oleh yang lain. “Setuju. Tidak ada manfaat edukasi atau manfaat ekonominya. Cuma buang-buang uang. Paling-paling ini hanya sekadar acara yang bisa diunggah ke media untuk mencairkan anggaran,” timpal akun @SuaraRakyatKecil.
Kritik ini menyoroti sebuah dilema klasik dalam pemerintahan: alokasi anggaran antara pembangunan infrastruktur (fisik) dan pembangunan suprastruktur (budaya, mental, spiritual). Bagi sebagian warga yang setiap hari bergelut dengan masalah konkret seperti jalan berlubang atau layanan publik yang belum optimal, sebuah perayaan budaya yang menelan anggaran—berapa pun jumlahnya—dianggap sebagai sebuah pemborosan.
Tuduhan bahwa acara semacam ini “tidak bermutu” dan “tidak ada manfaat edukasi” adalah tamparan keras. Apakah benar demikian?
Menimbang Kritik: Antara ‘Proyek’ dan ‘Identitas’
Menyikapi kritik ini, kita perlu melihatnya secara jernih. Tuduhan bahwa acara ini “hanya untuk mencairkan anggaran” adalah sentimen sinis yang sering muncul dalam iklim ketidakpercayaan publik terhadap birokrasi. Meskipun sulit dibuktikan, persepsi ini adalah sinyal bagi pemerintah bahwa transparansi anggaran untuk kegiatan seremonial harus ditingkatkan.
Namun, menganggap acara ini “tidak bermutu” atau “tanpa manfaat edukasi” agaknya terlalu menyederhanakan masalah.
Pertama, dari sisi edukasi. Melibatkan 1115 orang, mayoritas adalah generasi muda, untuk mempelajari dan mementaskan tarian yang digali dari DNA budaya lokal adalah proses edukasi massal yang luar biasa. Mereka tidak hanya belajar gerak, tapi belajar sejarah (Remo), belajar identitas (Gambus), dan belajar filosofi (Mawar Bersemi). Ini adalah implementasi nyata dari “Pelestarian Budaya” yang sering didengungkan dalam kurikulum. Mereka menjadi pelaku, bukan hanya penikmat.
Kedua, dari sisi manfaat ekonomi. Kritik bahwa “tidak ada manfaat ekonomi” mungkin benar jika dilihat dari kacamata direct cash flow (aliran uang tunai langsung) ke kantong warga. Namun, dalam studi ekonomi modern, ada yang disebut “modal sosial” (social capital) dan “ekonomi kreatif”.
Acara sebesar ini menggerakkan ekosistem. Ada penjahit yang membuat kostum, perias, penyedia sound system, pedagang kaki lima di sekitar Alun-Alun yang dagangannya laris manis hari itu, hingga para pelatih tari yang mendapat honor. Ini adalah ekonomi kreatif yang berputar. Lebih jauh lagi, acara yang unik dan kolosal seperti ini memiliki nilai branding daerah. Ia menjadi “konten” yang mempromosikan Jombang ke dunia luar, yang pada gilirannya berpotensi menarik wisatawan budaya.
Namun, kritik tentang jalan rusak tetap valid. Di sinilah letak seni mengelola pemerintahan. Keseimbangan adalah kunci. Pemerintah Kabupaten Jombang ditantang untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya piawai menggelar pesta budaya, tapi juga sigap memperbaiki infrastruktur. Perut rakyat (ekonomi, infrastruktur) dan harga diri rakyat (budaya, identitas) harus dipenuhi secara beriringan.
Penutup: Hentakan yang Mesti Berlanjut
Flash Mob Gedruk Jombangan 1115 penari telah usai. Alun-Alun Jombang telah kembali pada rutinitas normalnya. Namun, hentakan kaki dan semangat yang mereka tularkan pada Selasa pagi itu meninggalkan jejak yang dalam.
Acara ini sukses menjadi sebuah perayaan identitas ganda: 115 tahun perjalanan administratif sebagai sebuah kabupaten, dan ribuan tahun warisan spiritual sebagai “Kota Santri”. Perpaduan Remo Boletan, Gambus Misri, dan Mawar Bersemi dalam satu tarian adalah cerminan Jombang yang ideal: kuat dan tegas, religius dan berakhlak, namun tetap indah dan menyejukkan.
Kritik yang muncul di media sosial bukanlah ancaman, melainkan bagian dari perayaan demokrasi itu sendiri. Ia adalah “gedruk” (hentakan) lain dari rakyat, yang mengingatkan pemerintah untuk tidak terlena dalam euforia seremonial.
Tugas terbesar pasca-perayaan ini adalah memastikan bahwa “semangat untuk membangun” yang coba dititipkan lewat tarian itu benar-benar terwujud. Hentakan kaki 1115 penari harus dijawab dengan hentakan kerja nyata oleh pemerintah, untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan yang bisa dirasakan oleh semua, termasuk oleh mereka yang menyuarakan kritik dari balik layar gawai mereka.


